Tersenyum kerap dianggap hal sepele, tetapi bagi seorang penulis pengalaman ini, kebiasaan tersebut dinilai membawa dampak pada suasana hati dan interaksi sosial. Ia menuturkan bahwa senyum bukan hanya membuat dirinya merasa senang, melainkan juga memengaruhi respons orang lain yang menerima senyum itu.
Penulis mengaku mencoba menjalankan “teori tersenyum 72 jam dalam seminggu”. Dalam praktiknya, ia tidak selalu ingat untuk tersenyum, namun berusaha kembali melakukannya setiap kali sadar. Kebiasaan ini mulai ia jalani bersama teman-temannya sejak masa pandemi Covid-19, ketika penggunaan masker membuatnya merasa lebih mudah melakukan latihan tersebut tanpa khawatir terlihat aneh.
Menurutnya, meski wajah tertutup masker, orang yang berpapasan tetap dapat menangkap ekspresi senyum dari sorot mata dan gestur. Ia menggambarkan beberapa orang membalas dengan anggukan, yang kemudian ia balas kembali. Pengalaman itu membuatnya merasa lebih akrab dengan banyak orang, termasuk saat menunggu antrean di Poli Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang ia sebut menjadi momen lebih terhibur.
Penulis menyebut teori tersebut ia pelajari dari dr. RB Santoso Sp.U, yang akrab disapa dokter Santo. Ia mengatakan dokter itu mengajarkan relaksasi dan meditasi melalui buku Smart Healing serta pertemuan-pertemuan. Awalnya, pertemuan dilakukan langsung di RS Dharmais Jakarta, namun sejak pandemi beralih menjadi pertemuan daring melalui Zoom. Salah satu materi yang ia ingat adalah teori senyum 72 jam, termasuk saran agar tetap tenang karena “kan pakai masker”.
Dalam kisah lain, penulis menceritakan pengalamannya saat akan menjalani operasi beberapa bulan lalu. Di ruang persiapan, dokter anestesi memberi tahu bahwa ia akan dibius umum. Ia mengaku sempat panik karena sebelumnya terbiasa dengan bius separuh. Meski sempat membujuk, keputusan tetap mengacu pada permintaan dokter spesialis urologi yang menangani operasi.
Untuk menenangkan diri, ia mengingat latihan tersenyum dan mengatur napas “6-6” sebagaimana yang diajarkan dokter Santo. Ia menuturkan operasi berjalan aman dan ia merasa lebih santai serta nyaman.
Setelah terbangun di kamar pemulihan, ia mengatakan masih dalam keadaan tersenyum dan sempat bernyanyi. Seorang perawat mengomentari bahwa ia tampak bahagia karena terus tersenyum. Dalam kondisi setengah sadar akibat anestesi, ia merasa sempat bercerita kepada perawat tentang teori senyum dan latihan napas 6-6.
Keesokan harinya, seorang pasien yang sekamar dengannya mengaku mendengar ada pasien di ruang pulih yang bernyanyi. Keduanya tidak saling mengenal saat itu karena sama-sama masih dalam pengaruh obat bius. Setelah penulis menceritakan bahwa ia terbangun sambil bernyanyi dan dikomentari perawat karena terus tersenyum, pasien tersebut menyimpulkan bahwa penulis kemungkinan adalah orang yang ia dengar di ruang pulih, termasuk cerita tentang teori senyum.
Penulis menilai teori senyum itu “sangat cespleng” untuk dirinya. Ia juga bercerita akan menjalani tindakan medis lagi dalam beberapa hari ke depan dan perlu meminta rekomendasi dari beberapa dokter. Dalam percakapan dengan seorang teman, ia menyampaikan kesan positif terhadap seorang dokter yang menurutnya ramah dan membuat suasana lebih santai. Namun temannya meragukan pengalaman itu karena memiliki pengalaman berbeda dengan dokter yang sama.
Penulis kemudian mempertanyakan apakah praktik senyum yang ia jalankan turut memengaruhi cara orang lain meresponsnya, termasuk tenaga medis. Ia menutup kisahnya dengan tekad untuk terus mengingat dan menjalankan praktik senyum 72 jam yang ia pelajari.