Penyanyi Vietnam Thùy Dung menapaki jalur musik Prancis sejak usia belia, meski sempat diragukan karena memutuskan menyanyikan lagu-lagu Prancis tanpa menguasai bahasanya. Bagi penyanyi kelahiran 1990-an ini, pujian maupun kritik ia anggap sebagai “hadiah” yang membantunya terus berkembang.
Selama bertahun-tahun, Thùy Dung kerap dijuluki “Muse Musik Prancis” atau “Ratu Musik Prancis Generasi Baru” di Vietnam. Ia mengaku tidak berani menerima gelar-gelar tersebut, namun merasa bahagia karena semakin banyak pendengar yang mengapresiasi penampilannya, baik lewat lagu-lagu yang sudah dikenal maupun karya yang lebih baru.
Meski telah tampil di ratusan panggung selama lebih dari satu dekade, Thùy Dung mengatakan ia tak pernah melupakan penampilan pertamanya membawakan musik Prancis di sebuah kedai teh. Saat itu, ia belum genap berusia 20 tahun dan masih berstatus mahasiswa Musik Vokal di Akademi Musik Hue. Keputusan membawakan repertoar Prancis pada masa itu disebut sebagian orang sebagai langkah gegabah, tetapi ia justru merasakan peluang karier terbuka dan terdorong untuk bekerja lebih keras.
Untuk memulai, Thùy Dung meminta bantuan seorang guru bahasa Prancis menyalin lirik beberapa lagu populer agar dapat dipelajari. Ia kemudian berlatih berulang kali di kamar sewaannya dengan iringan musik yang sudah akrab hingga merasa siap. Dalam penampilan perdananya, ia membawakan lagu “Snow Falling” dan menunggu reaksi penonton dengan cemas. Ia mengingat, dukungan yang diterima sejak awal membuatnya yakin telah menemukan genre yang selama ini ia cari.
“Saya belajar musik klasik, tetapi suara saya yang tipis, ringan, dan liris tampaknya sangat cocok untuk musik Prancis. Sejak hari itu, saya tidak lagi merasa tertekan untuk bernyanyi karena saya tahu persis lagu mana yang cocok untuk saya,” tutur Thùy Dung.
Seiring semakin mantap dengan pilihannya, ia mencurahkan lebih banyak waktu untuk mempelajari bahasa Prancis agar lebih percaya diri. Ia juga menekankan bahwa kedekatannya dengan musik Prancis bermula dari rasa suka dan kecocokan, tanpa membayangkan genre itu akan mengubah hidupnya secara drastis.
Dari sosok yang semula pemalu dan cenderung memilih jalan aman, Thùy Dung kemudian berupaya membawa lagu-lagu Prancis lebih dekat ke pendengar Vietnam. Ia tak hanya menyampaikan semangat karya-karya klasik, tetapi juga bereksperimen dengan aransemen baru. Ia mengakui sempat khawatir perubahan itu tidak diterima, namun tetap ingin menantang diri.
Menurutnya, penting memahami apa yang ingin didengar penonton dalam genre tersebut. Ia banyak menggarap musik akustik agar selaras dengan warna vokalnya, sekaligus mencoba memadukan berbagai gaya seperti EDM, Lofi, City Box, ballad, dan jazz. Ia menyebut terus berinovasi dan mendengarkan masukan pendengar untuk melakukan penyesuaian yang tepat.
Dalam perjalanan kariernya, Thùy Dung juga menghadapi kenyataan bahwa musik Prancis memiliki segmen penonton yang lebih sempit dibanding genre lain, terutama ketika memasuki pasar konser berbayar dan pertunjukan acara. Namun ia menyatakan menerimanya dengan lapang dan bersyukur atas penonton yang tetap setia.
Ia juga menegaskan bahwa saat menyelenggarakan konser, fokusnya bukan pada penjualan tiket, melainkan kualitas pertunjukan. Dalam lebih dari 50 pertunjukan mini yang secara khusus menampilkan musik Prancis, ia berusaha memperhatikan detail-detail kecil dan menghindari pendekatan yang dianggap terlalu umum sebagai bentuk terima kasih kepada penonton.
Setelah lulus kuliah, Thùy Dung pindah ke Vietnam bagian selatan untuk mencari lebih banyak kesempatan mengembangkan karier. Ia sempat bekerja sebagai soprano di paduan suara Gedung Opera Kota Ho Chi Minh dengan gaji terbatas, lalu bernyanyi di kedai teh dan mengambil pekerjaan tambahan yang berkaitan dengan profesinya. Pada masa itu, ia menargetkan dapat menutupi biaya hidup sekaligus menyisihkan dana untuk investasi karier.
Lebih dari 10 tahun membangun karier di Kota Ho Chi Minh, Thùy Dung kerap menyampaikan rasa syukur kepada kota yang menurutnya memberi ruang untuk bertumbuh dan mendekatkannya dengan audiens. Ia menyebut berbagai acara, panggung, serta dukungan awal membantunya beradaptasi dan perlahan menorehkan nama. Ia juga mengatakan berupaya mendukung penyanyi muda lain sebagai bentuk membalas kepercayaan yang pernah ia terima.
Di luar panggung, Thùy Dung mengaku tidak gemar gaya hidup glamor dan tidak menghamburkan uang untuk diri sendiri. Namun, ia lebih dermawan untuk kebutuhan musik, termasuk berinvestasi dalam pembuatan video musik dan aransemen agar pendengar dapat menikmati penampilannya.
Pada masa pembatasan sosial akibat pandemi Covid-19, ketika kedai teh tutup dan banyak pertunjukan dibatalkan, ia memilih tetap aktif berinteraksi dengan audiens secara daring. Lagu pertama yang ia rekam sepenuhnya pada periode itu adalah “Calling My Lover’s Name”. Setelah diunggah ke Facebook, rekaman tersebut banyak dibagikan dan mendapat komentar, sesuatu yang ia sebut mengejutkan sekaligus membahagiakan.
Ia mengatakan setelah rekaman pertama itu, ia menginvestasikan seluruh tabungannya untuk musik. Sejak saat itu, video musik dan remix berkualitas tinggi dirilis secara bertahap dan dibagikan secara online. Menurutnya, masa jeda akibat pandemi justru membantunya lebih kreatif dalam menyajikan karya, membuka lebih banyak kanal untuk menjangkau audiens, serta membuatnya tetap dekat dengan selera pasar.
Ketika pembatasan dicabut dan pertunjukan kembali meningkat, Thùy Dung tetap berupaya menjaga hubungan dengan audiens melalui platform daring. Ia kini mengerjakan sejumlah proyek yang berfokus menghubungkan bahasa Prancis dan Vietnam untuk menyampaikan pesan yang lebih bermakna. Ia juga menyebut tengah berkonsentrasi menyiapkan album penuh yang berisi lagu-lagu ciptaannya sendiri setelah perjalanan karier yang panjang.
Salah satu momen yang ia sebut paling istimewa dalam 15 tahun perjalanannya di musik Prancis terjadi pada 2025, ketika ia diundang tampil dalam program seni untuk menyambut Presiden Republik Prancis Emmanuel Macron dan istrinya dalam kunjungan kenegaraan ke Vietnam. Meski membawakan lagu-lagu yang familiar, ia merasakan pengalaman itu berbeda dari penampilan sebelumnya. Usai menyanyikan dua lagu “La” dan “La vie en rose” dan menerima pujian dari Presiden Macron, Thùy Dung mengaku sangat terharu.

