BERITA TERKINI
Upaya Komune Yang Mao Menjaga Warisan Musik Gong Lewat Kelas Pelatihan dan Peran Warga

Upaya Komune Yang Mao Menjaga Warisan Musik Gong Lewat Kelas Pelatihan dan Peran Warga

Komune Yang Mao terus mengupayakan pelestarian warisan budaya musik gong di tengah berkurangnya jumlah warga yang mampu memainkannya. Di Desa Buon Cham A, yang memiliki 146 rumah tangga dari kelompok etnis Ede—lebih dari 52% populasi—tradisi memainkan gong dulu dikenal luas, terutama di kalangan pria, dan kerap mengiringi ritual desa maupun keluarga.

Namun, menurut Ama Ngoc yang kini hampir berusia 80 tahun, jumlah orang yang bisa memainkan gong di desa tersebut saat ini tinggal sedikit. Kondisi itu mendorong sel Partai di Desa Cham A mengadakan pertemuan dan menyepakati langkah pelestarian budaya tradisional.

Berdasarkan resolusi sel Partai, anggota Partai ditugaskan untuk memobilisasi para pengrajin agar terlibat dalam kegiatan mengajar, sekaligus mengajak dan mendorong generasi muda untuk belajar memainkan gong. Pendanaan kelas dikumpulkan dari kontribusi sosial, sumbangan anggota Partai yang tinggal di wilayah tersebut, dukungan pemerintah daerah, serta dana desa.

Dari upaya itu, Desa Cham A membuka tiga kelas gong perunggu dengan tiga pengrajin sebagai pengajar. Kegiatan ini menarik hampir 30 siswa dari berbagai usia. Keterbatasan alat latihan sempat menjadi kendala, hingga kepala desa Y Win Êban membujuk keluarganya untuk meminjamkan satu set tujuh gong berharga agar proses pengajaran dapat berlangsung.

Upaya serupa juga dijalankan di desa-desa lain dalam komune yang sama, seperti Desa Tul dan Desa Mghi, melalui kelas pelatihan bermain kram gong bagi generasi muda. Dengan dukungan lembaga terkait dan keterlibatan pengrajin, kelas-kelas tersebut mulai menunjukkan perubahan positif. Pengrajin Ama Brai menilai tantangan terbesar adalah menjaga agar anak muda tidak berpaling dari budaya tradisional. Menurutnya, ketika semangat belajar sudah tumbuh, proses pengajaran menjadi lebih mudah.

Peran guru turut menjadi bagian penting dalam pelestarian budaya gong di Komune Yang Mao. Di Sekolah Dasar Yang Mao, guru musik Y Wan Niê, yang berasal dari kelompok etnis Ede, secara sukarela membuka dua kelas gratis untuk mengajarkan permainan kram gong kepada siswa kelas tiga dan empat.

Di tingkat masyarakat, sejumlah warga juga bergerak mandiri. Duong Van Tho dari Desa Cham A, misalnya, mendorong siswa mengikuti kelas kram gong dan tari, serta membiayai undangan pengrajin untuk mengajar. Ansambel gong yang ia bentuk telah tampil di berbagai acara dan ikut memperluas penyebaran budaya tradisional.

Sementara itu, di Desa Buôn Kiều, terdapat kelompok alat musik tradisional bagi anak-anak berusia 10 hingga 15 tahun yang didirikan atas permintaan masyarakat setempat. Kelompok ini mendapat dukungan pendanaan dari organisasi amal untuk kegiatan pengajaran dan penyediaan alat musik. Hingga kini, anak-anak dalam kelompok tersebut disebut telah mahir memainkan beberapa alat musik tradisional dan turut tampil dalam berbagai acara.