Kupang — Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) kembali menggelar pertunjukan seni budaya dalam kegiatan “Weekend at Parapuar” di Natas Parapuar, Labuan Bajo, Sabtu (23/5). Acara rutin akhir pekan ini menampilkan kolaborasi musik tradisional dan tari khas Manggarai yang melibatkan sanggar seni lokal serta musisi daerah.
Pada edisi kali ini, pertunjukan dimeriahkan oleh Sanggar Molas Roto Roka, Sanggar Manik Laing, serta kelompok musik Sahut Suara yang digawangi dua musisi lokal, Yon dan Roby. Pengunjung disuguhkan alunan musik tradisional melalui permainan suling bambu oleh Roby, serta alat musik dawai bambu ciptaan Yon yang diberi nama “Dwbe”.
Sanggar Molas Roto Roka membawakan sejumlah tarian tradisional khas Manggarai, antara lain Tari Pua Kopi yang menggambarkan aktivitas masyarakat memetik kopi, Tari Rangkuk Alu yang merepresentasikan permainan bambu secara ritmis dan penuh kekompakan, serta Tari Ngkiong yang menggambarkan semangat kebersamaan masyarakat.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi tari bersama antara penampil dan pengunjung, menciptakan suasana interaktif di kawasan wisata Natas Parapuar.
Pelaksana Tugas Direktur Utama BPOLBF Andhy MT Marpaung mengatakan “Weekend at Parapuar” menjadi ruang kolaborasi budaya yang mempertemukan masyarakat lokal dan wisatawan dalam suasana santai dan autentik. “Weekend at Parapuar merupakan ruang ekspresi budaya yang kami hadirkan secara konsisten untuk memperkuat identitas budaya lokal sekaligus memberikan pengalaman berwisata yang berkesan bagi wisatawan,” katanya. Ia berharap kegiatan tersebut terus menjadi wadah bagi para pelaku seni lokal untuk tampil dan berkembang.
Salah seorang wisatawan asal Argentina, Bryan, mengaku terkesan dengan suasana dan pertunjukan budaya yang disajikan di Natas Parapuar. “Tempat ini sangat indah dan acaranya menarik. Kami bisa menikmati musik dan menyaksikan tarian tradisional masyarakat lokal. Orang-orang di sini juga sangat ramah,” ujarnya.
BPOLBF menyatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan atraksi wisata berbasis budaya secara berkelanjutan, sekaligus mendukung pengembangan kawasan Parapuar sebagai destinasi wisata terpadu dan inklusif di Labuan Bajo.