Seniman Rakyat Xuân Hoạch menapaki perjalanan panjang dalam dunia musik tradisional Vietnam melalui jalur yang tidak lazim. Lahir di Đông Hưng, wilayah bekas provinsi Thái Bình (kini Hưng Yên) yang dikenal kaya budaya rakyat, ia mengenal musik bukan dari panggung besar atau pendidikan formal, melainkan dari kelompok seni pertunjukan amatir di desanya. Sejak kecil, ia tekun mempelajari alat musik dan melodi rakyat dengan semangat sederhana khas anak desa.
Pengalaman di gerakan seni akar rumput kemudian membawanya lolos ujian masuk Akademi Musik Nasional Vietnam. Setelah lulus, ia bergabung dengan Ansambel Tari dan Nyanyi Pusat, yang kini menjadi Teater Opera dan Balet Nasional Vietnam. Lingkungan profesional tersebut mengasah kemampuannya hingga dikenal luas dan dianugerahi gelar Seniman Rakyat.
Meski mendapat pelatihan formal pada kecapi Nguyệt, Xuân Hoạch juga dikenal menguasai beragam alat musik tradisional lain, seperti kecapi Nhị, Ho, Bầu, dan Đáy. Ia mempelajari kecapi Nhị dan Bầu secara otodidak. Sementara untuk kecapi Đáy yang terkait erat dengan nyanyian Ca Trù, ia mencari pengrajin Đinh Khắc Ban untuk belajar langsung. Masa itu diingatnya sebagai periode latihan intens berbulan-bulan, yang membentuk kualitas bunyi halus dan beresonansi.
Salah satu tonggak kariernya terjadi pada 2009 ketika ia diterima sebagai murid seniman ternama Phó Thị Kim Đức, penyanyi perempuan terakhir dari kelompok Khâm Thiên Ca Trù. Sejak saat itu, ia tidak hanya mahir memainkan alat musik, tetapi juga bernyanyi, sehingga mampu menghadirkan pertunjukan yang lebih utuh dan harmonis.
Setelah pensiun, Xuân Hoạch tidak memilih berhenti berkarya. Ia justru melanjutkan pengabdian di ruang-ruang yang jauh dari gemerlap, tetapi menuntut ketekunan. Ia bergabung dengan Pusat Seni Tradisional UNESCO Hanoi (sebelumnya Klub Musik Tradisional UNESCO Hanoi) dan menaruh perhatian pada pemulihan serta pengembangan nyanyian Xẩm dan Ca Trù.
Ia menyebut kedekatannya dengan Xẩm—genre musik rakyat tradisional Vietnam—berawal dari kebetulan. Pada 2003, dalam sebuah CD pribadi, ia bereksperimen memasukkan lagu Xẩm dengan bernyanyi dan memainkan kecapi sendiri sambil mengetuk ritme. Gaya yang sederhana dan bersahaja itu ternyata memunculkan daya tarik tersendiri hingga menarik perhatian para ahli. Sejak itu, ia terlibat dalam berbagai kegiatan kebangkitan Xẩm dan disebut sebagai salah satu pelopor yang membawa genre tersebut kembali hadir dalam kehidupan kontemporer.
Xuân Hoạch mengaku terharu melihat kebangkitan Xẩm dan Ca Trù. Menurutnya, kini semakin banyak klub dan ruang pertunjukan yang bermunculan, terutama di Hanoi, dan mulai menarik minat anak muda. Bagi dia, perkembangan itu menjadi penghargaan terbesar atas perjalanan panjang yang dijalani dengan tenang namun penuh gairah.
Dalam beberapa tahun terakhir, Xẩm tidak lagi terbatas pada proyek penelitian atau pertunjukan pelestarian. Berbagai inisiatif bermunculan, mulai dari proyek “Xẩm to School” oleh penyanyi Soobin Hoàng Sơn, hingga program kecil seperti “Say Xẩm” dan “Nghệ Tân Kỳ” yang diprakarsai para siswa. Di Kota Tua Hanoi, ruang pertunjukan Xẩm juga dilaporkan menarik banyak wisatawan internasional, memperluas jangkauan genre ini di tengah publik modern.
Bagi Xuân Hoạch, meningkatnya minat generasi muda merupakan pertanda baik. Ia menilai Xẩm, yang disebut berasal dari Dinasti Trần dan terkait dengan kehidupan tunanetra yang bernyanyi untuk mencari nafkah di tepi sungai serta sudut pasar, sejatinya tidak pernah benar-benar lenyap. Dalam pasang surut sejarah—dari masa kolonial Prancis hingga tahun-tahun perang—Xẩm menurutnya hanya “terhambat” oleh keadaan, tetapi tetap berakar dalam kehidupan.
Ia juga menyoroti perubahan besar dalam kehidupan musik seiring integrasi Vietnam ke komunitas global. Namun, ia melihat sisi menggembirakan ketika anak muda masih peduli pada akar budaya. Menurutnya, mereka memandang Xẩm sebagai sesuatu yang unik dan indah, lalu berupaya menghidupkannya kembali dengan cara yang sesuai dengan zaman. Ia menilai hal itu menunjukkan budaya tradisional bukan hilang, melainkan berpindah ke ruang yang berbeda.
Meski demikian, kebangkitan Xẩm memunculkan dilema baru: batas antara kreativitas dan pelestarian. Xuân Hoạch berpendapat inovasi diperlukan, tetapi “esensi” Xẩm harus dijaga. Ia menekankan, dalam berbagai bentuk pembaruan, seniman sebaiknya tetap mempertahankan sekitar 60–70% semangat asli. Bahkan bila menggunakan aransemen modern dan instrumen Barat, musik tetap harus “berbicara dalam bahasanya sendiri” dan melayani roh Xẩm. Begitu pula gaya panggung, meski dapat ditambah gerakan untuk menyesuaikan pertunjukan, tidak semestinya menghilangkan kesederhanaan dan kedalaman yang melekat pada seni tersebut.
Ia mengingatkan bahwa tidak sedikit penampilan Xẩm yang menurutnya terasa “hambar”: terlihat bersemangat di permukaan, tetapi kurang esensi. Ia menilai penonton kini semakin jeli, membandingkan karya lama dan baru serta menilai sejauh mana semangat asli dipertahankan. Jika kehilangan kedalaman, ia khawatir Xẩm akan kehilangan nilainya.
Dengan pengalaman lebih dari 60 tahun mengabdi pada musik tradisional, Xuân Hoạch menilai Xẩm tidak bisa bertahan hanya sebagai tren sesaat bila ingin masuk ke kehidupan kontemporer secara berkelanjutan. Ia menyatakan kekhawatiran bahwa Xẩm masih kekurangan pelindung yang memadai, sementara banyak seniman dan pengrajin harus berjuang sendiri. Menurutnya, tanpa dukungan, pelestarian tradisi dalam jangka panjang akan sangat sulit, karena para pelaku seni perlu bisa memperoleh penghidupan dari apa yang mereka tekuni.
Perjalanan membawa Xẩm ke era baru, menurutnya, masih dihadapkan pada berbagai tantangan. Namun, dengan dedikasi para pelaku yang mencurahkan hati dan tenaga, serta tumbuhnya minat generasi muda, Xuân Hoạch percaya melodi Xẩm tidak hanya akan hidup dalam ingatan, melainkan terus bergema dalam kehidupan masa kini—dalam bentuk yang selaras dengan zaman tanpa meninggalkan semangat intinya.

