BERITA TERKINI
Ahmad Syauqi Sumbawi Raih Anugerah Sutasoma Berkat Buku Kritik Sastra Bertema Ketuhanan

Ahmad Syauqi Sumbawi Raih Anugerah Sutasoma Berkat Buku Kritik Sastra Bertema Ketuhanan

Sastrawan asal Desa Doyomulyo, Kecamatan Kembangbahu, Ahmad Syauqi Sumbawi meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur (BBJT). Penghargaan itu diterimanya berkat buku kritik sastra berjudul Tuhan dan Manusia Abdun, yang dinilai sebagai buku kritik sastra terbaik.

Syauqi menilai peran kritikus sastra penting untuk menjembatani penulis dan pembaca. Menurutnya, tidak semua sastrawan yang mampu memroduksi puisi, cerpen, atau novel juga dapat menulis kritik terhadap karya orang lain. Sejak 2017, BBJT menempatkan kategori buku kritik sastra terbaik sebagai salah satu penerima Anugerah Sutasoma, penghargaan bagi pihak yang dinilai berjasa dan berdedikasi dalam bidang kesusastraan Indonesia dan daerah.

“Beruntung, buku Tuhan dan Manusia Abdun terpilih sebagai yang terbaik,” ujar Syauqi saat ditemui di tempatnya mengajar, kemarin (25/10).

Ia menjelaskan, proses penyusunan esai kritik sastra dalam buku tersebut dimulai sejak tahun lalu. Syauqi menulis apresiasi terhadap puisi-puisi bertema ketuhanan dengan menganalisis karya penyair terkenal dari angkatan 1945, 1966, hingga kontemporer. Total terdapat 22 puisi tunggal dan dua buku puisi yang dianalisis, lalu disusun dalam bentuk esai dan dibukukan.

Syauqi menyebut tema ketuhanan kerap muncul dalam karya sejumlah penulis Indonesia. Menurutnya, hal itu berkaitan dengan kultur masyarakat yang religius dan pancasilais, sehingga puisi tentang ketuhanan terus hadir di berbagai generasi. Tema itulah yang kemudian ia angkat dalam buku kritik sastranya.

Dalam mengupas karya sastra, Syauqi lebih banyak menggunakan pendekatan analisis isi. Ia mengatakan aktivitas kritik sastra bukan perkara mudah karena membutuhkan akses bacaan yang luas. Tujuan utama kritik sastra, menurutnya, adalah menampilkan wacana penulis.

Sebelumnya, kritik sastra yang ia tulis kerap disampaikan dalam acara bedah buku. Sejumlah tulisannya juga pernah dibukukan dan diterbitkan oleh Perpustakaan Umum Daerah (Perpusda) Lamongan, dan sempat diminta BBJT untuk dinilai. Namun Syauqi mengaku menolak memberikan naskah tertentu. Ia menyebut BBJT memiliki tim pemantauan untuk mencari karya dan sosok yang layak mendapatkan penghargaan, termasuk melalui unggahan di media sosial seperti Facebook.

Lulusan S1 Sejarah dan Kebudayaan Islam serta S2 Studi Islam itu berharap ulasannya dapat dinikmati pembaca yang kritis. Selain mengunggah tulisan di Facebook, ia juga mengirimkan salah satu karyanya kepada sastrawan Djoko Saryono. Syauqi mengatakan, Djoko Saryono mengapresiasi tulisannya dan menandai pihak BBJT, yang kemudian menghubunginya untuk mengirimkan karya.

Syauqi menyebut ada beberapa sastrawan lain yang juga masuk calon nominator kategori buku kritik sastra terbaik. Berdasarkan pengetahuannya, esai kritik sastra nominator lain cenderung berbentuk antologi, sementara BBJT menginginkan esai kritik sastra yang dibukukan secara perorangan. Ia menambahkan, jumlah nominasi untuk kategori kritik sastra biasanya tidak banyak setiap tahun.

Syauqi menekankan bahwa kritik sastra tidak semata-mata bersandar pada pendapat pribadi. Ia membedakan opini yang bersifat aktual dan responsnya bergantung pembaca, dengan kritik sastra yang menurutnya harus memunculkan wacana pada teks untuk mempertegas maksud penulis. Ia menyebut pendekatannya lebih menitikberatkan pada analisis konten dan interpretasi perangkat teks, meski tidak selalu menggunakan teori tertentu.

Syauqi berharap Anugerah Sutasoma yang diterimanya pekan lalu dapat bermanfaat ke depan sekaligus memacu dirinya lebih produktif menulis kritik sastra. Ia juga berencana menggarap tulisan kritik dengan tema-tema lain.