Akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Indra Ariffin, menegaskan bahwa musik bukan sekadar pelengkap, melainkan jiwa dari sebuah pertunjukan. Menurutnya, jika tubuh menjadi medium gerak, maka musik berperan sebagai medium rasa sekaligus jiwa yang menghidupkan keseluruhan pementasan.
Pernyataan itu disampaikan Indra saat memaparkan materi dalam Lokakarya Komposisi Musik yang digelar UPTD Taman Budaya Sumatera Barat di Padang, Selasa. Materi yang ia sampaikan selaras dengan tema lokakarya, yakni “Menghidupkan Narasi melalui Akar Tradisi”.
Indra menjelaskan, hilangnya musik dalam sebuah pertunjukan dapat berdampak langsung pada kekuatan artistik. Ia menyebut, tanpa musik, tari berpotensi kehilangan napas ritmis, sementara teater dapat kehilangan atmosfer emosional yang menopang penghayatan penonton.
Dalam paparannya, Indra juga membahas konsep ethno performance scoring, yaitu proses penciptaan dan penataan musik yang memadukan unsur budaya atau instrumen musik etnik tradisional dengan kebutuhan tata musik untuk seni pertunjukan langsung, seperti teater dan tari.
Ia menekankan pentingnya kemampuan komposer dalam mengolah bunyi tradisi agar selaras dengan kebutuhan dramaturgi pertunjukan modern. Indra memberi contoh pendekatan bunyi tradisi, seperti gandang yang dapat dimaknai sebagai sentakan emosional, talempong sebagai ritme kinetik, dan saluang sebagai pembentuk atmosfer ruang.
Indra menilai, dalam praktik penciptaan musik pertunjukan, komposer terkadang terlalu bergantung pada preset digital dan kurang memahami dramaturgi. Akibatnya, unsur tradisi hanya dijadikan ornamen, bukan bagian yang menyatu dengan narasi dan struktur pementasan.
Ia mengingatkan peserta lokakarya—yang diharapkan menjadi komposer masa depan—untuk lebih sensitif terhadap ruang, memahami tubuh dan emosi, serta berakar pada budaya. Menurutnya, ethno performance scoring bukanlah nostalgia, melainkan cara menghidupkan kembali memori budaya dalam bahasa artistik yang baru.