BERITA TERKINI
Aktualitas dan Proksimitas Jadi Kunci dalam Menentukan Sudut Pemberitaan

Aktualitas dan Proksimitas Jadi Kunci dalam Menentukan Sudut Pemberitaan

Konten berita, terutama pada bagian judul, umumnya menempatkan aktualitas dan kebaruan sebagai pertimbangan utama. Dua pendekatan yang sering dipakai untuk memenuhi unsur tersebut adalah peristiwa dan fenomena. Peristiwa merujuk pada kejadian spesifik, sementara fenomena menggambarkan kecenderungan atau pola yang tengah terjadi di masyarakat.

Dalam praktiknya, peristiwa dan fenomena kerap muncul berdampingan. Contoh yang disebutkan antara lain hilangnya pesawat Malaysian Airlines MH370 sebagai peristiwa, serta aktivitas blusukan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo sebagai fenomena. Keduanya juga dapat digabung, seperti pada fenomena April Fools atau April Mop yang berulang setiap 1 April.

Selain aktualitas, terdapat elemen lain yang lazim digunakan dalam kerja jurnalistik, seperti news peg, prinsip 5W1H, dan news value. Namun, sebelum masuk ke pertimbangan teknis tersebut, penentuan isu biasanya terlebih dahulu ditopang oleh aktualitas dan kebaruan, lalu disambungkan dengan faktor proksimitas.

Proksimitas secara ringkas dipahami sebagai kedekatan isu dengan pembaca atau pasar media. Ada media yang sesekali mengesampingkan proksimitas dan memilih isu yang relatif asing bagi audiens utamanya, tetapi hal itu umumnya dilakukan oleh media berjenama besar, seperti Kompas, The Guardian, dan CNN.

Pendekatan yang sama dinilai berlaku untuk berbagai jenis berita, termasuk sepakbola. Kembalinya Liverpool ke puncak klasemen Liga Inggris untuk pertama kali sejak Desember 2013 disebut sebagai contoh peristiwa, sementara meredupnya penggunaan “double pivot” di depan pertahanan digambarkan sebagai fenomena. Meski demikian, kedua topik itu belum tentu masuk halaman utama apabila tidak memiliki kedekatan yang cukup dengan pembaca.

Dalam contoh lain, kekisruhan manajemen sepakbola di Uruguay disebut mungkin tidak menjadi berita utama di negara tertentu karena tidak memiliki faktor proksimitas. Situasinya berbeda jika isu tersebut diangkat oleh media lokal Uruguay atau koran lokal Liverpool, misalnya karena keterkaitan pemain seperti Luis Suarez yang berkarier di sana.

Di luar berita, pendekatan aktualitas dan proksimitas juga dapat diterapkan pada konten blog atau esai sepakbola. Namun, keduanya memiliki perbedaan mendasar: berita tidak memuat opini penulis, sedangkan esai menuntut adanya opini. Blog atau esai umumnya bersifat pribadi, dengan isu aktual berperan sebagai pengait tema atau “essay peg”.

Contoh penerapan pendekatan itu disebut terlihat pada tulisan kolom Yusuf Arifin (Dalipin) di kanal About The Game Detik Sports. Dengan latar belakang jurnalistik dan pengalaman tinggal lama di Inggris, ia dinilai memahami sepakbola Inggris dan berani mengangkatnya karena dianggap dekat dengan pembaca di Indonesia. Pendekatan serupa juga disebut digunakan oleh sejumlah penulis di Eropa, seperti Raphael Honigstein dan James Horncastle, yang kerap menulis tema aktual yang dekat dengan audiensnya.

Proksimitas disebut menjadi kunci agar pembaca tidak merasa “tersesat” ketika menemukan tulisan yang tidak memiliki peg. Penulis tetap dapat mengangkat tema sejarah, sub-kultur, atau topik yang lebih luas, tetapi disarankan tetap menyertakan peg aktual. Sebagai ilustrasi, pengetahuan tentang sejarah Stadion Maracana di Brasil dinilai akan lebih relevan jika diterbitkan ketika Piala Dunia 2014 berlangsung, saat terjadi peristiwa terkait stadion tersebut, atau ketika dimuat di laman yang memang khusus membahas stadion sepakbola.

Keterbacaan sebuah esai, sebaik apa pun, disebut dapat terkendala bila tidak memiliki pengait yang jelas. Karena itu, sebelum menulis, penulis disarankan mencari isu aktual, mempertimbangkan kedekatannya dengan pembaca, lalu menggali pertanyaan dan rasa ingin tahu. Setelah itu, opini pribadi dikumpulkan, data dicari, dan semuanya dirangkai menjadi esai. Contoh pertanyaan yang dapat menjadi pemantik antara lain “Mengapa Liverpool bisa memimpin klasemen lagi?” atau “Bagaimana peluang dua wakil Indonesia di kompetisi AFC Cup 2014?”

Nilai proksimitas berbasis peristiwa dan fenomena juga disebut terlihat pada konten analisis taktik. Jenis tulisan ini dinantikan karena pembaca ingin memahami pertandingan yang baru terjadi, seperti faktor yang membuat sebuah tim menang atau penyebab tim bertabur bintang justru kalah.

Meski demikian, menulis berbasis aktualitas memiliki kelemahan berupa ikatan waktu. Keterlambatan publikasi dapat membuat isu menjadi kurang menarik karena peristiwa dan fenomena, terutama dalam sepakbola, cepat “basi”. Namun, cepatnya perubahan isu aktual juga berarti stok topik selalu tersedia. Jika terlalu lama buntu pada satu isu, penulis dapat beralih ke isu lain tanpa perlu terlalu khawatir.