Sebuah analisis menilai perjuangan mahasiswa angkatan 2019 menghadapi tantangan yang lebih berat dan kompleks dibanding angkatan 1998. Penilaian ini didasarkan pada perbedaan konteks politik, ekonomi, serta kondisi organisasi masyarakat sipil yang melingkupi gerakan mahasiswa pada dua periode tersebut.
Pada 1998, disebut telah terbentuk semacam “institusionalisasi oposisi”. Saat itu terdapat kekuatan politik yang dipandang menjadi kanal oposisi, seperti PDI di bawah Megawati yang dikaitkan dengan peristiwa Kudatuli. Di saat yang sama, lembaga-lembaga perlawanan mahasiswa dinilai mulai menemukan bentuknya, sementara organisasi nonpemerintah atau LSM disebut sedang menguat. Oposisi personal juga dianggap terasa melalui sejumlah tokoh, antara lain Amien Rais, Gus Dur, dan Cak Nur.
Selain itu, rezim Orde Baru dinilai telah menunjukkan keretakan, termasuk disebutnya kondisi militer yang terpecah. Faktor lain yang dianggap berpengaruh pada periode tersebut adalah krisis ekonomi yang sedang berlangsung.
Sementara itu, angkatan 2019 dinilai menghadapi situasi berbeda, yakni era konsolidasi oligarki yang ditandai penyatuan elite politik dan ekonomi. Dalam konteks ini, disebut tidak ada organisasi oposisi yang benar-benar berdiri di luar lingkar kekuasaan. Prabowo-Sandi juga dinilai bukan oposisi sejati, melainkan bagian dari oligarki yang bertarung untuk menentukan siapa yang memimpin secara formal.
Analisis tersebut juga menyoroti kondisi gerakan sektoral dan lembaga perlawanan mahasiswa yang disebut sedang lemah serta terkooptasi, termasuk melalui relasi dengan “abang-abangan” atau senior. Di sisi lain, mahasiswa 2019 disebut berada dalam fase depolitisasi, antara lain karena mahalnya uang kuliah dan kampus yang disterilkan dari aktivitas malam. Meski kebijakan serupa pernah terjadi pada era Soeharto melalui NKK/BKK, analisis ini menekankan bahwa kampus sebagai sektor industrial dengan biaya tinggi dinilai menjadi faktor pembeda pada periode kini.
Dari sisi ekonomi, kondisi 2019 tidak digambarkan sebagai krisis, melainkan adanya sinyal perlambatan. Lembaga-lembaga lain seperti organisasi sektoral dan LSM juga disebut berada dalam kondisi lemah, yang dinilai turut mendorong sebagian pimpinannya untuk dekat dengan kekuasaan.
Berangkat dari perbedaan itu, tantangan mahasiswa 2019 disebut lebih berat dan kompleks. Namun, gelombang demonstrasi yang merebak dalam beberapa hari terakhir dinilai mengejutkan banyak pihak, karena generasi yang diproses dalam lingkungan kampus dengan kecenderungan industrialis dinilai tetap mampu bergerak secara terorganisir, solid, dan militan.
Gerakan mahasiswa tersebut juga dinilai mampu membantah anggapan bahwa ada pihak yang menyetir atau menunggangi aksi mereka. Selain itu, mereka dianggap memiliki struktur argumen yang kuat dan pemikiran yang fundamental.
Analisis itu menyimpulkan keyakinan bahwa mahasiswa angkatan 2019 memiliki perangkat dan kreativitas yang berbeda dari generasi sebelumnya, serta diyakini dapat merebut kemenangan dengan cara dan gaya mereka sendiri.

