Kolektif musik Archa resmi mendokumentasikan lagu “Osobauw” dalam bentuk rekaman pada 27 Februari 2026, setelah sebelumnya dibawakan dari panggung ke panggung. Lagu ini merupakan ciptaan mendiang Chalvin Jems Papilaya pada 2022 dan pertama kali diperkenalkan kepada publik melalui Festival Timba Puri.
“Osobauw” menjadi single kedua Archa, melanjutkan rilisan mereka sebelumnya, “Ten”, yang dirilis pada 10 Agustus 2024. Melalui karya ini, Archa kembali menegaskan arah musik mereka yang reflektif dan berakar pada pengalaman serta kebudayaan Maluku.
Judul “Osobauw” diambil dari bahasa Ulahahan, salah satu bahasa daerah di Pulau Seram, yang berarti “Sumpah”. Pemilihan bahasa lokal tersebut diposisikan bukan semata sebagai penanda asal-usul, melainkan juga sebagai pernyataan sikap mengenai keterikatan manusia dengan ruang hidupnya.
Secara tematik, lagu ini menjadi refleksi kritis atas kerusakan ekosistem laut akibat eksploitasi dan kelalaian manusia. “Osobauw” mengingatkan bahwa bagi masyarakat Maluku, laut merupakan napas kehidupan; kerusakan laut dipandang sebagai ancaman langsung bagi keberlangsungan hidup masyarakat pesisir. Lagu ini juga menyoroti rapuhnya hubungan antara manusia dan lingkungan.
Dari sisi musikal, komposisi “Osobauw” disusun oleh Ardelony Imlabla dengan struktur yang minimalis dan terbuka. Aransemen yang dibuat sederhana dimaksudkan agar pesan dalam lirik serta kemurnian vokal dapat tersampaikan tanpa tertutup oleh dominasi instrumen.
Dalam versi rekaman, vokal dibawakan oleh Theoresia Rumthe dengan penghayatan yang intim dan teduh. Setelah Chalvin Papilaya wafat, Archa tetap melanjutkan perjalanan kreatifnya dengan menggandeng sejumlah musisi dan penyair.
Proses produksi dilakukan di studio rumahan milik Mr. E di Air Putri, Ambon. Pengambilan vokal dilakukan secara live di Gereja Katolik Maria Mater Misericordiae untuk menangkap resonansi ruang yang alami dan autentik.
Sebelum direkam, “Osobauw” telah dipentaskan di sejumlah panggung, antara lain Pertunjukan Sebasta di Negeri Itawaka (2023), LautLoud—Arka Kinari (2023), Indonesian Music Expo (IMEX) di Ubud, Bali (2024), serta Jazirah Rempah di Ambon (2025).
Rilisan “Osobauw” mempertegas konsistensi identitas Archa dalam menjaga penggunaan bahasa daerah sekaligus menyuarakan kesadaran tentang hubungan sakral antara manusia dan laut yang dinilai tidak boleh terputus.

