BERITA TERKINI
Argya Dhyaksa Tampilkan Instalasi Keramik dan Benda Temuan di Galeri Orbital Dago

Argya Dhyaksa Tampilkan Instalasi Keramik dan Benda Temuan di Galeri Orbital Dago

Seniman Argya Dhyaksa menggelar pameran tunggal bertajuk Rage Against the Muchsin di Galeri Orbital Dago, Bandung, pada 13–25 Januari 2026. Judul pameran ini merupakan plesetan dari nama sebuah band rock asal Amerika Serikat. Dalam pameran tersebut, Argya menampilkan instalasi berbahan keramik dan benda-benda temuan.

Di bagian tengah ruang galeri, Argya—yang akrab disapa Gya—membangun sebuah konstruksi melingkar yang mengingatkan pada lintasan roller coaster berukuran kecil, namun tanpa tanjakan. Pengunjung dapat berinteraksi dengan karya itu dengan meletakkan kelereng di beberapa titik lintasan untuk kemudian menggelinding turun karena tarikan gravitasi.

Konstruksi tersebut ditopang tiang-tiang kayu berukuran kurus, sebagian berdiri tegak lurus dan sebagian lain sedikit miring. Pada bagian dasar, beberapa tiang disangga batu bata dan papan-papan kecil. Sementara di bagian atas yang menjadi lintasan kelereng, Gya merangkai beragam benda temuan, seperti sumpit, potongan paralon kabel, serta papan kayu.

Dalam perjalanannya, kelereng akan berhenti sejenak di sudut-sudut lintasan yang tidak melengkung sebelum akhirnya jatuh ke wadah di atas lantai. “Kelereng itu semacam saksi perjalanan dari apa yang saya buat selama ini,” kata Gya kepada Tempo di sela pembukaan pameran, Selasa, 13 Januari 2025. Ia menyebut gagasan instalasi tersebut turut mengambil inspirasi dari mekanisme mesin Rube Goldberg, sekaligus menggambarkan proses yang kadang harus ditempuh melalui jalan panjang meski tujuannya sederhana.

Di sekeliling instalasi, Gya menempatkan karya-karya keramik berukuran mini yang sebelumnya pernah dipamerkan di berbagai tempat. Karya-karya itu dipasang berderet di lantai dan mengelilingi dinding ruangan. Sebagian di antaranya dibuat sebagai tanggapan terhadap karya seniman lain yang segenerasi dengannya, dengan pendekatan parodi. “Bukan kritik, cuma main-main aja, penghargaan juga dan jadi menginspirasi untuk berkarya,” ujarnya.

Dalam beberapa karya, Gya juga membalik gagasan seniman lain. Ia mencontohkan karya Adi Sundoro yang membuat bungkus gorengan dari kertas ijazah orang lain dengan teknik sablon; oleh Gya, gagasan itu dibalik dengan membentuk gorengan sebagai bungkus untuk ijazah. “Cara kerja saya spontan dan meloncat-loncat, flight of ideas,” kata seniman kelahiran 1991 di Jakarta tersebut.

Pameran ini juga merupakan bagian dari tugas kuliah program magister Gya, yang merupakan lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung. Rekannya, Ibrahim Soetomo, menilai pameran kali ini menunjukkan perkembangan dari karya keramik Gya sekitar tiga tahun lalu yang cenderung tunggal, berukuran mini, serta dibalut kelakar atau parodi.