Astungkara Trail di Bali terpilih sebagai pemenang Best of the World 2026 untuk kategori Wellness Experiences Readers’ Choice versi National Geographic. Penghargaan ini menegaskan pergeseran tren perjalanan global yang kini tidak hanya berfokus pada kemewahan fasilitas, tetapi juga pada pengalaman yang lebih bermakna serta koneksi dengan alam.
Astungkara Way dinilai mampu menghadirkan sisi autentik Bali yang jauh dari keramaian, dengan mengajak pelancong kembali memahami akar kehidupan masyarakat lokal. Konsep jalur ini merujuk pada pola pergerakan tradisional di Bali yang sejak lama mengikuti logika air dan musim, jauh sebelum pembangunan jalan beraspal dan berkembangnya pariwisata massal di wilayah pesisir.
Dalam praktiknya, Astungkara Way disebut berfokus pada pertanian restoratif dan pariwisata budaya untuk menghidupkan kembali rute-rute kuno. Jalur setapak yang ditawarkan bukan sekadar rute pendakian, melainkan lintasan yang mengikuti saluran irigasi tradisional, melintasi terasering sawah, serta menghubungkan desa-desa terpencil. Di wilayah pedesaan ini, aktivitas sehari-hari berlangsung selaras dengan alam—sebuah harmoni yang kian jarang ditemui, terutama bagi masyarakat perkotaan.
Astungkara Way juga mengusung pendekatan slow travel. Melalui pendakian berpemandu, para pejalan diajak untuk memahami lanskap yang menopang kehidupan masyarakat Bali. Pilihan perjalanannya beragam, mulai dari pendakian harian hingga lintas hari dengan tempo yang terukur.
Sepanjang rute, pelancong dapat menjumpai detail-detail yang menjadi bagian dari pengalaman, seperti gemericik air dalam jaringan irigasi kuno (Subak), wangi sesaji bunga di ambang pintu rumah warga, pemandangan petani yang merawat sawah dan ladang marigold, hingga momen berkumpul di meja dapur penduduk untuk menikmati hidangan rumahan.
Dalam perjalanan ini, keluarga setempat digambarkan membuka ruang bagi tamu untuk duduk, mengamati, dan berpartisipasi secara hormat dalam kegiatan harian. Melalui santap bersama, praktik bertani di sawah, dan percakapan dengan para tetua desa, pelancong diperkenalkan pada cara pengelolaan lahan tradisional. Pengunjung juga dikenalkan pada praktik pertanian regeneratif yang dipertahankan komunitas pedesaan Bali guna menjaga kesuburan tanah bagi generasi berikutnya.
National Geographic turut merinci sejumlah aktivitas yang dapat diikuti melalui Astungkara Way, antara lain program setengah hari pertanian regeneratif, jalur pendakian seharian di jalur setapak dan hutan kecil sekitar desa, pendakian menginap dua hari satu malam, ziarah berjalan kaki lintas pulau selama lima hingga sepuluh hari, kunjungan kebun permakultur, serta mengikuti prosesi penyucian air suci yang dipandu pendeta lokal.

