Avatar 3: Fire and Ash masih menunjukkan performa kuat di bioskop Vietnam. Film garapan James Cameron itu telah meraup sekitar 240 miliar VND dan mempertahankan posisi puncak box office di negara tersebut.
Pencapaian itu menempatkan Avatar 3 hanya terpaut sekitar 45 miliar VND dari rekor film asing terlaris di Vietnam, yang saat ini masih dipegang Avatar 2 dengan 285 miliar VND. Film ketiga ini juga diprediksi bisa menembus 300 miliar VND, yang akan menjadikannya film asing pertama yang mencapai tonggak tersebut di pasar Vietnam.
Di tingkat global, Forbes memperkirakan bahwa paling lambat pada Minggu, 4 Januari, film ini akan melampaui pendapatan US$1 miliar yang dicatat Lilo & Stitch dan menjadi film terlaris ketiga tahun lalu. Untuk mengamankan posisi nomor dua box office global 2025, Avatar 3 masih perlu mengejar total pendapatan Zootopia 2 yang disebut telah mencapai US$1,5 miliar dan masih terus bertambah—artinya Avatar 3 membutuhkan sekitar US$600 juta atau lebih untuk melampauinya.
Forbes menilai momentum dan basis penggemar yang sudah terbentuk dapat membantu Avatar 3 melewati angka US$1,5 miliar. Namun, media itu mencatat masih perlu dilihat apakah film ini akan melambat seiring waktu atau justru terus bertahan dan mendekati US$1,8 miliar, bahkan mengincar US$2 miliar. Gambaran yang lebih jelas, menurut Forbes, baru akan terlihat dari performa pekan berikutnya dan akhir pekan kedua Januari.
Di tengah perdebatan soal kinerja komersialnya, Forbes menyebut klaim bahwa film ini “gagal” atau bahwa pendapatan di atas US$1 miliar tetapi “belum untung” sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Forbes menilai narasi semacam itu pada dasarnya dimaksudkan untuk mendorong penggemar kembali ke bioskop karena takut sekuel berikutnya tidak akan dibuat.
James Cameron, dalam konteks kelanjutan waralaba, disebut tengah merencanakan bagian keempat dan kelima, meski produksi tetap bergantung pada biaya dan performa box office. Avatar 3 juga disebut sebagai film terpanjang dalam seluruh franchise hingga saat ini.
Hingga kini, tiga film Avatar telah membukukan pendapatan gabungan sekitar US$6,2 miliar, dengan dua film pertama menyumbang lebih dari US$5 miliar. Meski biaya produksi dan pemasaran tiap film disebut sangat besar, Forbes menilai angka biaya yang diumumkan ke publik jauh dari akurat dan kerap dimanipulasi untuk sekaligus menampilkan kesuksesan luar biasa namun juga mengklaim tidak menghasilkan keuntungan.
Forbes juga menyoroti strategi produksi yang disebut dilakukan dengan menyuting Avatar 2 dan Avatar 3 secara bersamaan untuk menghemat biaya serta mengoptimalkan efisiensi pada tahap efek visual dan pascaproduksi. Di luar pendapatan tiket, pemasukan dari merchandise, hiburan rumahan, dan sumber tambahan lain untuk merek Avatar juga dinilai sangat besar.
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, Forbes menyatakan tidak akan menganggap serius laporan sensasional yang menyebut James Cameron bisa membatalkan dua sekuel berikutnya hanya karena film ketiga “hanya” meraih pendapatan sekitar US$1,5–US$1,8 miliar. Forbes menilai hal itu tidak akan terjadi dan meyakini Avatar 4 serta Avatar 5 tetap akan hadir dalam beberapa tahun ke depan.
Sementara itu, Cameron juga menekankan bahwa detail-detail kecil dalam film—seperti adegan “pengalaman halusinasi”—sering terlewat oleh penonton, padahal justru momen semacam itu yang disebut paling membuatnya antusias.

