Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) mengapresiasi penyelenggaraan Bali Spirit Festival yang tahun ini memasuki pelaksanaan ke-14. Dalam sambutannya, ia menilai kegiatan semacam ini dapat mendukung pengembangan wellness tourism sebagai bagian dari pariwisata budaya yang berkelanjutan dan bermartabat di Bali.
Bali Spirit Festival 2023 mengangkat tema “gratitude” atau bersyukur dan berterima kasih. Menurut Cok Ace, tema tersebut sejalan dengan upaya masyarakat Bali untuk bangkit dari kesulitan sosial dan ekonomi akibat pandemi COVID-19 yang berlangsung lebih dari dua tahun.
Cok Ace juga menyampaikan salah satu gagasan pengembangan pariwisata Bali adalah pariwisata kesehatan (health tourism). Ia menilai, membangun pariwisata Bali pascapandemi pada masa kenormalan baru bukan hal mudah, terutama dalam membangun kembali kepercayaan wisatawan, terlebih bila terkait aspek kesehatan. Namun, tantangan tersebut disebutnya dapat dipandang sebagai peluang untuk bangkit dan menjadi lebih baik.
Ia menjelaskan, pariwisata kesehatan merupakan tren yang menggabungkan aspek kesehatan dan hiburan (leisure). Wisatawan melakukan perjalanan dengan motivasi untuk meningkatkan kesehatan (recover) dan memulihkan kebugaran (rejuvenate).
Menurutnya, Bali memiliki potensi besar sebagai destinasi pariwisata kesehatan global, terutama dari sisi wellness atau kebugaran. Sejumlah wellness centre telah berkembang di Bali, mulai dari pengobatan herbal tradisional, aktivitas yoga, retreat, hingga spa. Meski demikian, ia mencatat baru sedikit yang memenuhi standar fasilitas kesehatan, sehingga menjadi perhatian ke depan bila Bali ingin membangun pariwisata kesehatan.
Potensi utama Bali, lanjutnya, terletak pada keindahan alam dan posisi strategis sebagai destinasi eksotis dengan budaya yang unik. Selain itu, biaya pengobatan di pusat kesehatan Bali dinilai lebih terjangkau dibanding sejumlah negara lain, terutama negara maju.
Cok Ace menambahkan, wisatawan yang berobat di Bali dapat menikmati alam dan budaya dengan filosofi Tri Hita Karana. Filosofi ini dimaknai sebagai tiga penyebab kehidupan yang harmonis dan bahagia, yaitu menghormati Tuhan Yang Maha Esa, menghormati alam dan lingkungan, serta menghormati sesama manusia dan makhluk hidup. Ia menilai suasana dan “vibrasi” tersebut dapat berperan dalam mengendalikan tingkat stres pasien sehingga berdampak pada proses pemulihan yang lebih efektif.
Dalam kesempatan yang sama, Cok Ace menyatakan Pemerintah Provinsi Bali bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta pemerintah kabupaten/kota mendukung penyelenggaraan festival atau event berbasis keunggulan budaya Bali sebagai diversifikasi daya tarik wisata. Ia juga mengajak agar, setelah kesuksesan G-20, Bali dipromosikan sebagai venue penyelenggaraan MICE (Meeting, Incentives, Conventions, and Exhibitions) skala lokal, nasional, hingga internasional.
Ia menyebut pemulihan pariwisata dan ekonomi Bali terus membaik, ditandai dengan meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara. Hingga Maret 2023, jumlah wisatawan mancanegara ke Bali tercatat 1.026.367 orang dengan rata-rata 31.212 orang per hari.
Cok Ace berharap Bali Spirit Festival dapat memberikan manfaat berganda, mulai dari sektor akomodasi, transportasi, hingga UMKM lokal seperti makanan, obat-obatan herbal, dan kerajinan, serta pemanfaatan tenaga kerja lokal. Ia juga berharap festival ini berdampak pada pengembangan desa wisata di Bali, tidak hanya memperkuat posisi Ubud di mata dunia, tetapi juga mengenalkan desa-desa wisata lain untuk ikut bangkit menopang perekonomian masyarakat.
Sekretaris Utama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Ni Wayan Giri Adnyani, turut mengapresiasi penyelenggaraan Bali Spirit Festival yang dinilai konsisten digelar setiap tahun. Ia berharap festival ini dapat mendorong wellness tourism di Bali sekaligus kemajuan pariwisata Bali dan Indonesia, mengingat Bali disebut sebagai barometer pariwisata nasional.
Founder Bali Spirit Festival menyampaikan bahwa festival tahun ini digelar selama empat hari, pada 4–7 Mei 2023, di The Yoga Barn, Ubud, dengan kapasitas 600 orang. Ia menyebut Bali Spirit Festival sebagai showcase holistic tourism yang tidak hanya berkaitan dengan aktivitas spiritual seperti yoga, tetapi juga menyangkut makanan sehat dan lingkungan yang bersih.
Ia menambahkan, pelaksanaan tahun ini merupakan penyelenggaraan ke-14. Menurutnya, meski sebelumnya kegiatan sempat berjalan seperti pembelian tiket, pandemi menyebabkan pembatalan, dan peserta yang menunggu selama dua tahun kini kembali hadir untuk mengikuti festival 2023.
Acara tersebut turut dihadiri Wakapolda Bali, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Penglisir Puri Ubud, serta undangan terkait lainnya.

