BERITA TERKINI
Balita Sering Bilang “Tidak”? Ini Alasan di Baliknya dan Cara Menyikapinya

Balita Sering Bilang “Tidak”? Ini Alasan di Baliknya dan Cara Menyikapinya

Anak balita berusia sekitar 1,5 hingga 2 tahun kerap membuat orang tua kewalahan karena sering menjawab “tidak” dalam berbagai situasi. Meski dapat memicu rasa kesal, fase ini disebut sebagai bagian wajar dari tumbuh kembang anak.

Psikolog Kathryn Smerling dari New York menjelaskan, pada usia dua tahun anak mengalami perkembangan otak yang sangat cepat. Dalam periode ini, terbentuk sekitar 700 koneksi saraf baru setiap detik. Salah satu dampaknya terlihat pada perilaku anak yang lebih sering menolak atau mengatakan “tidak”.

Menurutnya, anak sedang membangun kemandirian dan mulai menyadari diri sebagai individu yang memiliki pemikiran serta pendapat sendiri. Karena itu, respons orang tua menjadi penting agar fase ini dapat dilalui tanpa konflik yang tidak perlu.

Berikut sejumlah langkah yang dapat dilakukan orang tua saat anak balita sering mengatakan “tidak”.

1. Beri anak tanggung jawab melalui pilihan sederhana
Orang tua dapat menempatkan anak pada situasi di mana ia merasa memiliki kendali atas pilihannya. Misalnya ketika anak menolak makan, berikan dua opsi seperti makan dengan telur atau roti. Disarankan hanya memberi dua pilihan agar anak tidak kewalahan.

2. Jangan langsung bereaksi
Dalam contoh situasi anak meminta biskuit lalu melemparkannya ke lantai dan kemudian marah karena biskuit berada di lantai, Smerling menyarankan orang tua untuk tidak langsung bereaksi. Ia menyarankan agar orang tua mengakui bahwa anak tidak menginginkan biskuit tersebut dan membiarkannya tanpa negosiasi atau memaksa anak berhenti mengamuk. Dalam beberapa menit, anak bisa saja kembali dan menghabiskan biskuit itu.

3. Libatkan anak untuk membantu
Balita sering ingin merasa “seperti orang dewasa”. Orang tua dapat membuat anak merasa penting dengan memberi tugas sederhana, misalnya meminta anak mengambilkan barang atau meletakkan sesuatu di atas meja.

4. Gunakan strategi mengabaikan untuk meredakan situasi
Ketika anak mengatakan “tidak” dan situasi mulai memancing emosi, orang tua dapat mengalihkan perhatian ke hal lain sambil menunggu anak merespons. Saat anak akhirnya melakukan hal yang sebelumnya ditolak, orang tua dapat memberikan pujian.

5. Sesekali turuti anak, tetapi tetap tegas untuk hal berbahaya
Untuk hal besar dan berisiko, orang tua dianjurkan konsisten dengan jawaban “tidak”, misalnya melarang anak bermain pisau di dapur. Namun, untuk hal yang tidak berbahaya, orang tua dapat sesekali mengiyakan penolakan anak. Contohnya, ketika cuaca panas dan anak menolak memakai jaket saat keluar rumah, orang tua dapat mengizinkan dan memilih alternatif seperti memakaikan topi sebagai pelindung.

Fase sering berkata “tidak” dapat menjadi tanda anak sedang belajar mandiri. Dengan respons yang tepat, orang tua dapat membantu anak melewati tahap ini dengan lebih tenang dan konstruktif.