BERITA TERKINI
BandungBergerak Memilih Tiga Esai Terbaik Maret 2024, dari Konser BASO hingga Kritik APK Pemilu

BandungBergerak Memilih Tiga Esai Terbaik Maret 2024, dari Konser BASO hingga Kritik APK Pemilu

Sepanjang Maret 2024, redaksi BandungBergerak.id menerima 19 esai dari audiens BandungBergerak (KawanBergerak). Dari jumlah tersebut, 12 merupakan esai opini dan tujuh lainnya berbentuk tulisan narasi atau laporan jurnalistik. Redaksi kemudian menetapkan tiga esai terpilih dan menyampaikan ulasan singkat atas masing-masing tulisan.

Esai pertama datang dari subkanal Narasi dan ditulis oleh Arianna Eliasavitri. Tulisan ini melaporkan konser musik klasik yang disebut cukup langka, yakni konser Bandung Symphony Orchestra (BASO). Dalam laporannya, Arianna menulis bahwa BASO “meluncurkan” konser pertama berjudul When Bach Meets Barbie, A Musical Evolution. Konser tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam esai, berangkat dari dasar musik klasik dan bertujuan menyampaikan evolusi musik klasik dari era “Bach” hingga era modern “Barbie”, diselingi beberapa lagu yang berkaitan dengan tema tersebut.

Esai kedua berasal dari kalangan mahasiswa. Tulisan berjudul “MAHASISWA BERSUARA: Komersialisasi Kampus, antara Tekanan Finansial dan Kerusakan Intelektual” ini ditulis Alif Safikri, mahasiswa komunikasi dan penyiaran Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Dalam esainya, Alif menyoroti peran kampus yang idealnya menjadi ruang pencarian ilmu pengetahuan, namun dinilai kian terjerat kepentingan keuntungan dan komersialisasi. Kondisi itu, menurut Alif, memunculkan pertanyaan mengenai pergeseran nilai pendidikan tinggi, dari tujuan pencerahan menuju orientasi bisnis yang berfokus pada profit.

Esai ketiga dikirim dari kalangan pelajar. Adli Firlian Ilmi, siswa SMP Negeri 1 Kota Bogor, menulis esai berjudul “PELAJAR BERSUARA: Pemilu 2024, Pesta Demokrasi Tanpa Etika Lingkungan Hidup”. Adli mengulas maraknya alat peraga kampanye (APK) pada Pemilu 2024 yang dinilai minim etika lingkungan hidup. Ia menilai berbagai APK seperti baliho, spanduk, dan poster berpotensi berakhir sebagai sampah yang mencemari lingkungan. Selain itu, Adli juga menyebut kasus yang dinilainya membahayakan pengguna jalan, termasuk peristiwa pada 10 Januari 2024 ketika seorang siswi SMK meninggal dunia akibat tertimpa baliho seorang calon legislatif di Kebumen, Jawa Tengah.

Dalam esainya, Adli menulis bahwa maraknya APK yang berujung menjadi sampah dan mengancam lingkungan hidup dapat menjadi dasar untuk menyebut pesta demokrasi 2024 “minus etika lingkungan hidup”. Ia juga menilai para calon legislatif dan calon presiden berkampanye tanpa dipandu etika lingkungan hidup, serta menyebut mereka terjebak dalam paradigma antroposentrisme.

BandungBergerak.id menutup pengumuman tersebut dengan menyampaikan bahwa seluruh tulisan yang masuk memiliki kelebihan masing-masing, serta menyampaikan terima kasih kepada para penulis. Redaksi juga menyatakan akan menghubungi ketiga penulis esai terpilih untuk mengatur pengiriman sertifikat dan kenang-kenangan, dengan biaya pengiriman ditanggung BandungBergerak.id. Penulis juga dapat menghubungi akun Instagram KawanBergerak atau nomor telepon 082119425310.