BandungBergerak.id merangkum empat “Esai Terpilih” yang tayang sepanjang 1–31 Agustus 2024. Selama periode tersebut, BandungBergerak menayangkan total 37 esai kiriman penulis, yang terdiri atas 18 esai opini dan rubrik Mahasiswa Bersuara, serta 19 tulisan narasi.
Redaksi menyebut seluruh tulisan yang masuk memiliki ragam tema, gaya penulisan, sudut pandang, dan argumentasi. Dari keseluruhan naskah yang terbit, BandungBergerak memilih empat tulisan untuk disorot, yakni dua esai dari penulis umum, satu esai Mahasiswa Bersuara, dan satu tulisan narasi.
Esai pertama berjudul “Revisi UU Pilkada Adalah Pembangkangan terhadap Konstitusi” karya Valeri Jehanu, dosen Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung. Tulisan ini menyoroti isu “Peringatan Darurat” dan mengulas bagaimana upaya kekuasaan dianggap berusaha mengakali konstitusi. Dalam rangkuman redaksi, “Peringatan Darurat” disebut memicu gelombang unjuk rasa besar-besaran di berbagai daerah, dengan massa prodemokrasi menolak revisi UU Pilkada yang dinilai menguntungkan putra Presiden Joko Widodo.
Esai kedua, “Lomba 17 Agustusan, Kenapa Ada yang Menjijikkan?” ditulis Didin Tulus, pegiat buku sekaligus editor buku independen CV Tulus Pustaka. Didin menyoroti fenomena lomba Agustusan yang dinilai aneh, menjijikkan, dan tidak pantas, yang banyak beredar di media sosial dan dapat ditonton berbagai kalangan usia. Dalam tulisannya, ia mencontohkan lomba makan pisang dan memasukkan terong ke botol yang disambut tawa peserta maupun penonton, baik perempuan maupun laki-laki, namun menurutnya tidak ada sisi lucu dari perlombaan tersebut.
Dari rubrik Mahasiswa Bersuara, esai terpilih berjudul “Film sebagai Media Kritik dan Cerminan Sosial keadaan Indonesia” karya Michelle Gabriella Waromi, mahasiswa Unpar Bandung. Ia menganalisis fungsi film sebagai pemengaruh opini publik dan menyoroti bagaimana sejumlah film Indonesia mengangkat isu sosial yang relevan dengan kehidupan masyarakat, mulai dari kesenjangan ekonomi hingga ketidakadilan politik.
Sementara itu, tulisan narasi terpilih adalah “Mengapa (Harus) Finlandia?” karya Laila Nursaliha, desainer kurikulum. Laila membahas kondisi pendidikan di Indonesia yang dinilai belum banyak mengalami kemajuan, di tengah harapan sebagian pihak agar Indonesia mencontoh sistem pendidikan Finlandia. Menurutnya, setiap negara seharusnya memiliki sistem pendidikan sendiri karena memiliki ciri khas, karakter, dan tujuan yang berbeda. Ia juga menekankan perlunya memikirkan kembali arah pendidikan dan pendekatan yang tepat bagi wilayah Indonesia, agar tidak sekadar menjadi “bangsa pemakai” dan tidak terus mengekor.
BandungBergerak menyatakan rangkuman Esai Terpilih ini menegaskan tulisan masih menjadi medium untuk menyampaikan gagasan maupun kritik. Redaksi juga menekankan bahwa pengumuman Esai Terpilih bulanan bukan ajang memilih esai terbaik yang menafikan tulisan lain, karena setiap naskah yang masuk dinilai memiliki kelebihan masing-masing.
Komunitas BandungBergerak, KawanBergerak, akan menghubungi para penulis Esai Terpilih untuk mengatur pengiriman sertifikat dan kenang-kenangan, dengan biaya pengiriman ditanggung BandungBergerak. Penulis juga dapat berinisiatif menghubungi akun Instagram KawanBergerak atau nomor telepon 082119425310.

