BERITA TERKINI
BandungBergerak.id Umumkan Esai Terpilih Desember 2023: Bahaya Polusi, Hari Tanpa Belanja, dan Dampak Pembangunan Jatinangor

BandungBergerak.id Umumkan Esai Terpilih Desember 2023: Bahaya Polusi, Hari Tanpa Belanja, dan Dampak Pembangunan Jatinangor

BandungBergerak.id merangkum tiga tulisan sebagai Esai Terpilih periode Desember 2023. Sepanjang Desember, kanal Esai BandungBergerak.id menayangkan 34 esai dengan beragam tema dan sudut pandang.

Dari total esai yang terbit, 11 tulisan masuk dalam tag “MAHASISWA BERSUARA”. Satu tulisan lainnya masuk ke tag baru “PELAJAR BERSUARA” yang disiapkan sebagai ruang bagi pelajar dan orang muda menyalurkan minat menulis. Selain itu, terdapat empat tulisan yang dimuat di kanal Narasi yang mewadahi tulisan reportase atau feature dari audiens BandungBergerak.id.

Redaksi menegaskan, pengumuman Esai Terpilih bulanan bukan ajang pemilihan esai terbaik yang meniadakan karya lainnya. Menurut BandungBergerak.id, setiap tulisan memiliki kelebihan, keunikan, dan perspektif masing-masing.

Berikut ulasan singkat tiga Esai Terpilih Desember 2023.

Matahari Bandung Merona Penanda Bahaya

Indra Maulana Pratama menulis esai berjudul “Matahari Bandung Terlihat Merah Merona Penanda Bahaya”. Ia membahas fenomena matahari tampak merah sebagai dampak polusi dan pemanasan global, serta menjelaskan proses ilmiah yang menyertainya.

Dalam esainya, Indra menjelaskan bahwa asap tebal dapat membuat matahari terbit atau terbenam tampak merah cemerlang. Partikel asap yang kecil menyebarkan cahaya biru, sehingga saat cahaya matahari melewati gumpalan asap, warna biru terhambur dan menyisakan warna merah serta jingga.

Ia menyebut asap tersebut berkaitan dengan polusi dari emisi kendaraan bermotor, industri, serta karbon dioksida yang dihasilkan aktivitas manusia. Menurut Indra, dampaknya tidak hanya mengubah tampilan langit, tetapi juga memengaruhi kualitas udara dan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan penderita asma.

Indra juga menyoroti dampak lingkungan berupa akumulasi polusi yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman dan menurunkan hasil pertanian. Ia menambahkan, sebagian polutan yang memerangkap panas di atmosfer berpotensi memperburuk perubahan iklim.

Hari Tanpa Belanja

Esai terpilih berikutnya datang dari Bani, pegiat Pasar Gratis Bandung. Dalam tulisannya, Bani mengangkat gagasan buy nothing day atau Hari Tanpa Belanja, yang disebut telah diselenggarakan sejak sekitar 20 tahun lalu di Vancouver, Kanada.

Menurut Bani, Hari Tanpa Belanja merupakan kritik terhadap budaya konsumerisme melalui kampanye “satu hari tanpa belanja”. Ia mengajak konsumen bersikap kritis terhadap barang yang dibeli, termasuk mempertimbangkan pengaruh konsumsi terhadap lingkungan dan gaya hidup masyarakat.

Bani menilai konsumsi tidak sebatas aktivitas membeli barang, tetapi juga berkaitan dengan pelanggengan kapitalisme dan dapat memicu ketimpangan sosial. Ia menulis bahwa budaya konsumtif telah merambah berbagai lapisan masyarakat, baik di desa maupun kota, dan mendorong orang membeli sesuatu yang tidak penting serta tidak dibutuhkan.

Dalam esai tersebut, Bani juga mengutip Peter Kropotkin yang menyatakan bahwa cara mengurangi kerakusan dan egoisme adalah dengan menghilangkan kondisi yang mendukung tumbuhnya egoisme, keserakahan, perbudakan, dan ambisi.

MAHASISWA BERSUARA: Ada Apa dengan Jatinangor Sekarang?

Esai terpilih ketiga ditulis Nur Aini Rasyid, mahasiswa Program Studi Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Unpad), melalui tag “MAHASISWA BERSUARA” dengan judul “Ada Apa dengan Jatinangor Sekarang?”.

Nur menuliskan bahwa Jatinangor dahulu merupakan kawasan hijau dengan lahan perkebunan teh dan karet. Namun, sebagai wilayah sub-urban Bandung Raya, kawasan ini berkembang pesat menjadi kawasan metropolitan. Ia juga mencatat bahwa sejak 1987 Jatinangor ditetapkan sebagai kawasan pendidikan oleh gubernur Jawa Barat.

Dalam analisisnya, Nur menyoroti dampak pembangunan terhadap lingkungan. Kawasan hijau disebut mengalami penurunan drastis dan tergantikan oleh apartemen, pusat perbelanjaan, pertokoan, serta gedung-gedung pendidikan. Pertumbuhan institusi pendidikan diikuti meningkatnya permukiman, warga pendatang, dan bangunan kos-kosan.

Nur menilai kepadatan penduduk yang tidak diiringi reboisasi telah mengurangi daerah resapan air. Ia memberi contoh wilayah Ciseke Besar yang disebut padat kos-kosan dan rumah penduduk, namun minim daerah resapan air. Menurutnya, pembangunan yang terus berjalan tanpa memperhatikan drainase turut memicu banjir dan tanah longsor, terutama saat musim hujan.

Nur menyebut beberapa wilayah yang pernah mengalami banjir, antara lain Desa Cikeruh, Desa Sayang, dan Desa Cibeusi. Ia juga menuliskan bahwa hingga saat ini belum ada upaya maksimal dari pemerintah untuk mengatasi minimnya daerah resapan air di Jatinangor.

Selain dampak lingkungan, Nur menyoroti persoalan sosial. Ia menulis bahwa pesatnya pertumbuhan Jatinangor memengaruhi kualitas air dan udara, sementara masyarakat lokal dinilai termarjinalkan. Dalam tulisannya, ia menyebut penduduk asli di wilayah padat penduduk rata-rata bekerja sebagai buruh kasar seperti penjaga kos, tukang ojek, atau pengurus laundry, dengan penghasilan yang disebut sulit untuk menanggulangi dampak lingkungan yang terjadi.

BandungBergerak.id menyatakan akan menghubungi ketiga penulis untuk pengiriman sertifikat dan kenang-kenangan, dengan biaya pengiriman ditanggung oleh BandungBergerak.id. Redaksi juga membuka kesempatan bagi publik untuk mengirimkan esai melalui surel redaksi.