BandungBergerak.id mengumumkan tiga Esai Terpilih periode November 2023. Sepanjang bulan tersebut, redaksi menerima sedikitnya 18 esai dari para penulis yang merupakan audiens BandungBergerak.id, yang disebut KawanBergerak. Dua tulisan di antaranya ditempatkan di kanal Narasi, ruang khusus untuk tulisan dari luar redaksi yang bersifat reportase, feature, atau laporan perjalanan.
Redaksi menyampaikan bahwa esai kiriman pembaca masih menjadi medium untuk menyampaikan gagasan maupun kritik. BandungBergerak.id juga menegaskan pengumuman Esai Terpilih bulanan ini bukan ajang memilih tulisan terbaik, melainkan bentuk apresiasi karena setiap tulisan dinilai memiliki kelebihan masing-masing.
Berikut tiga Esai Terpilih BandungBergerak.id untuk periode November 2023.
Mahasiswa Bersuara: Respons internasional atas konflik Israel-Palestina
Untuk tag Mahasiswa Bersuara, Esai Terpilih jatuh kepada Patricia Rachelle, mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung. Ia menulis esai berjudul “Bagaimana Respons Dunia Internasional pada Konflik Berkepanjangan Israel-Palestina?”.
Dalam tulisannya, Patricia merespons serangan Israel terhadap Palestina dengan menyoroti konsep two state solution yang ditawarkan dunia internasional sebagai upaya menengahi konflik. Ia menyebut konsep tersebut telah masuk dalam salah satu resolusi Majelis Umum dan Dewan Keamanan PBB.
Namun, menurut Patricia, konsep itu menghadapi penentangan dari Amerika Serikat, yang secara sepihak mengklaim Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan memindahkan kedutaan besar dari Tel-Aviv ke Yerusalem. Ia menilai langkah yang merupakan realisasi janji kampanye Donald Trump itu bertentangan dengan two state solution. Patricia juga mendorong PBB agar lebih aktif menangani konflik tersebut.
“Dengan adanya berbagai tantangan dari Amerika Serikat terhadap upaya perdamaian konflik Israel-Palestina seharusnya membuat PBB sebagai organisasi internasional melakukan introspeksi dan melihat apakah selama konflik ini berlangsung perannya sudah cukup adil atau belum,” tulis Patricia.
Fenomena Bahasa Jaksel: campur kode sebagai ekspresi
Esai Terpilih berikutnya ditulis Siti Julaeha, mahasiswa Sastra Inggris Universitas Pasundan (Unpas), Bandung, berjudul “Boleh Gak Sih Ngobrol Kayak Anak Jaksel?”. Siti menyoroti fenomena bahasa gaul “Jaksel” yang memadukan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari.
Menurut Siti, praktik bahasa campur sari bukan hal baru di Indonesia. Ia menyebut masyarakat Indonesia sudah terbiasa menggunakan campur kode, baik inner (mencampurkan bahasa daerah dengan bahasa Indonesia) maupun outer (mencampurkan bahasa asing dengan bahasa Indonesia). Ia mencontohkan ungkapan yang kerap dipakai masyarakat dwibahasa di Jawa Barat dalam situasi nonformal.
Siti juga menilai penggabungan bahasa nasional dengan bahasa asing sebenarnya kerap muncul dalam ruang publik, misalnya penggunaan istilah “one way” dalam sistem lalu lintas, “healing” untuk mengganti kata jalan-jalan, serta penanda “open/close” di berbagai tempat.
Ia menekankan campur kode bukan sesuatu yang aneh atau merusak tatanan bahasa Indonesia, melainkan hal yang wajar sebagai bentuk ekspresi diri, selama digunakan sesuai konteks dan tidak menjadi ajang menyombongkan diri.
“Campur kode merupakan hal normal yang terjadi pada masyarakat multibahasa. Baik itu campur kode inner ataupun campur kode outer, selama kita melakukan campur kode sesuai dengan kondisi yang tepat bersama mitra lawan bicara yang tepat, bukan sebagai ajang menyombongkan diri karena menguasai berbagai bahasa,” ungkap Siti.
Pemilu dan Gen Z: skeptisisme terhadap janji iklim capres
Esai Terpilih ketiga datang dari Moh. Hairud Tijani, pegiat Literasi Gen Z dan mahasiswa Pengembangan Masyarakat Islam UIN SGD Bandung, sekaligus alumnus PP Annuqayah Madura. Ia menulis “Skeptisisme Gen Z Terhadap Janji Iklim Capres”.
Melalui esainya, Hairud Tijani mendesak pasangan calon presiden dan calon wakil presiden pada Pilpres 2024 untuk serius memperhatikan isu perubahan iklim jika ingin merebut suara Generasi Z. Ia memaparkan bahwa pasangan Ganjar Pranowo–Mahfud MD mengusung visi “Menuju Indonesia Unggul: Gerak Cepat Mewujudkan Negara Maritim yang Adil dan Lestari” dan berbicara tegas mengenai perubahan iklim serta energi baru terbarukan (EBT).
Pasangan Anies Baswedan–Muhaimin Iskandar (AMIN), menurutnya, membawa visi “Indonesia Adil Makmur untuk Semua” dan mencantumkan masalah energi dalam agenda “Jalan Perubahan” sebagai bagian dari misi. Sementara itu, pasangan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming dengan visi “Bersama Indonesia Maju, Menuju Indonesia Emas 2045” memaparkan isu perubahan iklim dan EBT secara cukup detail.
Hairud Tijani menyatakan Gen Z terbukti sangat prihatin terhadap krisis iklim, yang ia kaitkan dengan pengalaman generasi tersebut tumbuh di tengah isu perubahan iklim yang semakin mendesak. Ia juga menilai Gen Z akan menjadi generasi yang paling terdampak apabila pemimpin terpilih tidak memprioritaskan isu iklim.
“Generasi Z adalah generasi yang akan paling menderita jika presiden terpilih nantinya jauh dari kata prihatin akan iklim. Gen Z harus mau memprioritaskan isu ini ketika memberikan suaranya. Hal ini dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap hasil pemilu mendatang, untuk menghasilkan kandidat yang mau memprioritaskan perubahan iklim dan mencari solusi yang signifikan bagi kelanjutan generasi berikutnya,” papar Hairud Tijani.
BandungBergerak.id menyatakan akan menghubungi ketiga penulis untuk mengatur pengiriman sertifikat dan kenang-kenangan, dengan biaya pengiriman ditanggung oleh BandungBergerak.id. Para penulis juga dapat menghubungi akun Instagram KawanBergerak atau nomor telepon 082119425310.

