BandungBergerak.id merangkum sejumlah tulisan yang terbit sepanjang Januari 2024 dengan menayangkan 58 esai dan 16 narasi dari audiensnya, KawanBergerak. Naskah yang masuk berasal dari penulis umum maupun mahasiswa. Untuk kategori mahasiswa, redaksi memayungi tulisan-tulisan tersebut dalam rubrik Mahasiswa Bersuara yang disebut meningkat lebih dari dua kali lipat selama bulan itu.
Seperti bulan-bulan sebelumnya, BandungBergerak.id juga mengumumkan Esai Terpilih yang tayang di kanal Esai. Jika pada periode sebelumnya redaksi memilih tiga tulisan, kali ini jumlahnya menjadi lima esai. Redaksi menyatakan penambahan tersebut dilakukan seiring banyaknya mahasiswa yang mengirimkan tulisan.
Dalam pengantar pengumuman, redaksi menegaskan esai masih menjadi medium untuk menyampaikan gagasan dan kritik. Redaksi juga menekankan bahwa pengumuman Esai Terpilih bukan ajang pemilihan esai terbaik dan tidak dimaksudkan untuk menafikan tulisan lainnya. Seluruh naskah yang masuk dinilai memiliki kelebihan masing-masing.
Berikut lima Esai Terpilih BandungBergerak.id periode Januari 2024:
Pertama, esai karya Ari Ganjar Herdiansah, dosen sekaligus Kepala Pusat Studi Politik dan Demokrasi Universitas Padjadjaran (Unpad). Ari mengkritik wajah politik menjelang Pemilu 2024 yang ia sebut kekanak-kanakan dan mudah terbawa perasaan. Dalam tulisannya, ia menyoroti dinamika politik pascareformasi, termasuk pecah kongsi antara Presiden Jokowi dan PDIP yang mengemuka sejak awal Januari 2023. Esai ini menjadi tulisan ketiga Ari yang tayang di BandungBergerak.id.
Kedua, esai Anton Solihin yang membahas polemik hari lahir Persib. Anton menyatakan penyebutan tahun 1919 dalam naskah akademik tim ahli Unpad merupakan klaim tanpa dasar. Ia membandingkan klaim tersebut dengan temuan dalam skripsi Fajar Salam, mahasiswa Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Unpad, berjudul Perkembangan Persepakbolaan Bumiputra di Bandung 1919-1942. Skripsi itu disebut memuat bukti-bukti yang menguatkan bahwa Persib lahir pada 1934, bukan 1919.
Ketiga, esai Clairine Abraham berjudul Pakaian, Kambing Hitam Pelecehan Seksual. Clairine membedah hubungan kecanduan pornografi dengan tindak kekerasan seksual. Ia menyoroti kecenderungan menyalahkan korban perempuan karena cara berpakaian, dan menegaskan perlunya mengubah pola pikir dari “menjaga anak perempuan” menjadi “mendidik anak laki-laki”.
Keempat, esai Muhammad Akbar Darojat Restu Putra, mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Dalam tulisannya, Akbar mengulas relasi jurnalisme dan filsafat, termasuk pertanyaan mengenai persamaan dan perbedaan keduanya serta kontribusi filsafat terhadap jurnalisme.
Kelima, esai Mahasiswa Bersuara karya Putri Amalia Kunaefi, mahasiswa Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, yang mencermati fenomena cuplikan adegan film yang beredar di TikTok. Putri mengajak pembaca menghargai hak cipta dengan tidak menonton film bajakan, baik yang cuplikannya tayang di TikTok maupun yang tersedia di situs ilegal. Esai ini merupakan tulisan ketiga Putri di BandungBergerak.id.
BandungBergerak.id menyatakan akan menghubungi kelima penulis untuk mengatur pengiriman sertifikat dan kenang-kenangan, dengan biaya pengiriman ditanggung redaksi. Redaksi juga membuka opsi bagi penulis untuk menghubungi akun Instagram KawanBergerak atau nomor telepon 082119425310.

