Perubahan kondisi jalan mulai terlihat di sejumlah ruas jalan provinsi di Bengkulu. Jalur yang sebelumnya bergelombang dan berlubang kini berangsur digantikan hamparan aspal baru, membuat kendaraan dapat melintas lebih stabil dan waktu tempuh antarkabupaten perlahan menyusut.
Bagi warga, jalan provinsi bukan sekadar penghubung wilayah administratif. Infrastruktur ini menjadi jalur utama distribusi barang, mobilitas harian, akses pendidikan, hingga konektivitas menuju fasilitas sosial dan layanan kesehatan rujukan.
Secara geografis, Bengkulu berada di pesisir barat Pulau Sumatera, berbatasan dengan Sumatera Barat di utara, Jambi dan Sumatera Selatan di timur, serta Lampung di selatan. Di sisi barat, Bengkulu menghadap langsung ke Samudera Hindia dengan garis pantai sekitar 525 kilometer. Bentang alam yang didominasi jajaran Bukit Barisan menjadikan konektivitas antardaerah sebagai tantangan tersendiri.
Dalam konteks tersebut, jalan provinsi dipandang strategis karena menjadi penghubung antarwilayah utama dan simpul distribusi regional. Ketika jalan rusak, biaya logistik meningkat, harga barang menjadi kurang kompetitif, dan pelayanan publik melambat. Ketimpangan ekonomi pun kerap bermula dari akses yang terputus.
Pemerintah Provinsi Bengkulu periode 2025–2030 menetapkan penyelesaian persoalan akses sebagai prioritas kebijakan, dengan fokus memperkuat jalan provinsi sebagai tulang punggung mobilitas daerah. Melalui program “jalan mulus”, pemprov mengalokasikan hampir Rp600 miliar dari APBD 2025 untuk memulihkan 22 ruas jalan provinsi yang tersebar di sembilan kabupaten dan satu kota.
Anggaran tersebut disebut sebagai yang terbesar untuk pembangunan infrastruktur jalan dalam satu tahun sejak Bengkulu menjadi provinsi otonom pada 18 November 1968. Dari program itu, pembangunan dan peningkatan kualitas jalan provinsi terealisasi sepanjang sekitar 172 kilometer, dengan ruas-ruas prioritas yang menjadi kewenangan provinsi diperbaiki agar konektivitas antarwilayah lebih mantap.
Setelah rampung, sejumlah jalur strategis dinilai lebih mampu menopang arus kendaraan. Namun, pembangunan jalan ini juga diposisikan sebagai dukungan daerah terhadap agenda strategis nasional yang membutuhkan infrastruktur konektivitas di tingkat lokal.
Di tingkat nasional, pemerintah pusat menjalankan sejumlah program seperti cetak sawah baru untuk memperkuat swasembada pangan, penguatan Koperasi Merah Putih, pembangunan sekolah rakyat dan sekolah garuda, serta peningkatan layanan kesehatan. Seluruh agenda tersebut membutuhkan akses transportasi yang memadai.
Program cetak sawah baru, misalnya, memerlukan kelancaran distribusi alat dan mesin pertanian serta hasil produksi melalui jalur-jalur utama provinsi sebelum menjangkau kawasan produksi. Kondisi jalan yang lebih baik dipandang dapat membantu efisiensi distribusi hasil produksi ke pasar regional.
Di sektor ekonomi, penguatan Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih juga terkait dengan efisiensi akses transportasi untuk distribusi produk antarwilayah. Jalan yang lebih mulus dinilai dapat menekan biaya logistik dan meningkatkan daya saing produk lokal.
Di bidang pendidikan, pembangunan sekolah rakyat dan sekolah garuda membutuhkan dukungan konektivitas agar siswa dan tenaga pendidik dari berbagai wilayah lebih mudah menjangkau lokasi sekolah, sekaligus mempermudah distribusi sarana pendidikan dari pusat ke daerah.
Sementara di sektor kesehatan, akses jalan berpengaruh terhadap kecepatan layanan, terutama bagi pasien yang harus dirujuk ke rumah sakit di pusat kabupaten/kota maupun ibu kota provinsi. Pemprov Bengkulu juga menyebut telah mendistribusikan ratusan unit ambulans gratis ke desa-desa di seluruh wilayah provinsi sebagai penguatan layanan.
Gubernur Bengkulu Helmi Hasan menyatakan perbaikan jalan kewenangan provinsi akan terus dilanjutkan. “Seluruh jalan kewenangan provinsi akan kita baguskan. Memang tidak bisa tuntas dalam setahun, setidaknya butuh Rp2,5 triliun dalam tiga tahun ke depan. Namun, kita mulai dengan optimisme,” kata Helmi Hasan.
Secara lebih spesifik, Pemprov Bengkulu menyebut mendukung Asta Cita Presiden Prabowo Subianto melalui 21 program unggulan pemprov pada 2026. Salah satu prioritasnya ialah percepatan peningkatan kualitas jalan dan jembatan provinsi melalui Program Seribu Jalan Mulus untuk memperlancar distribusi hasil swasembada serta mendukung ketahanan pangan.
Untuk mendukung agenda itu, pemprov kembali mengalokasikan anggaran infrastruktur jalan sebesar Rp477 miliar pada 2026. Selain infrastruktur, kebijakan daerah juga menargetkan perwujudan Universal Health Coverage dengan menjamin seluruh masyarakat mendapatkan BPJS gratis, penyediaan ambulans gratis, serta pengembangan layanan rumah sakit khusus kanker, jantung, stroke, dan uronefrologi.
Di sektor ekonomi, program diarahkan pada penguatan ekonomi kerakyatan berbasis koperasi dan UKM, peningkatan kesejahteraan petani dan nelayan, serta optimalisasi peran BUMD. Pemprov juga mengupayakan peningkatan infrastruktur Pelabuhan Pulau Baai, Bandara Fatmawati, dan kereta api, pembebasan lahan PTPN VII untuk pembangunan kawasan wisata, serta optimalisasi pemanfaatan aset daerah.
Perhatian lain mencakup penyelarasan pembangunan ekonomi pada sektor pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, kelautan, pariwisata, dan pertambangan dengan mengutamakan hilirisasi berbasis pembangunan berkelanjutan. Program lain yang disebut antara lain penyediaan moda angkutan darat perkotaan, stabilisasi harga dan ketersediaan BBM subsidi di Pulau Enggano, perwujudan Bengkulu sebagai kawasan konservasi hutan lindung dunia, serta evaluasi kasus agraria dan pertambangan.
Program cetak sawah baru serta perbaikan dan peningkatan irigasi juga dimasukkan sebagai strategi mendukung ketahanan pangan. Di bidang sosial dan pendidikan, pemprov menjalankan Program Merdeka Ijazah, pengangkatan dan penyantunan anak yatim, serta peningkatan kerukunan antarumat beragama. Pemprov juga mengupayakan peningkatan kesejahteraan ASN melalui kenaikan TPP, pemberian insentif, serta penyediaan jasa medis.
Dampak perbaikan jalan turut dirasakan warga di lapangan. Di ruas Air Lang–Desa Apur serta Palak Curup–SP III Karang Baru, Kabupaten Rejang Lebong, jalan yang selama bertahun-tahun rusak kini berubah menjadi lebih mulus dan nyaman dilalui. Warga menilai akses tersebut penting untuk menuju kebun, mengangkut hasil panen, dan menghubungkan antarwilayah.
Kepala Desa Air Lang, Jumari, menyampaikan ruas di wilayahnya telah puluhan tahun rusak dan baru kali ini diperbaiki secara menyeluruh. Camat Binduriang, Eliyenti, juga menyebut ruas jalan itu menjadi poros utama aktivitas ekonomi masyarakat Palak Curup dan Binduriang, yang digunakan setiap hari untuk berkebun dan membawa hasil kebun.
Di wilayah lain, warga Bengkulu Utara juga disebut merasakan manfaat jalan yang lebih baik dalam menopang akses dan aktivitas harian. Pemprov Bengkulu menilai pembangunan 172 kilometer jalan melalui program “Jalan Mulus” menjadi bagian dari upaya memperkuat konektivitas daerah sekaligus menopang pelaksanaan agenda nasional di tingkat lokal.

