Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) A. Muhaimin Iskandar atau Cak Imin menilai maraknya peristiwa tragis belakangan ini, termasuk kasus bunuh diri pada anak dan remaja, menjadi alarm serius bagi bangsa. Ia menegaskan kesehatan mental perlu ditempatkan sebagai agenda strategis dan menjadi tanggung jawab bersama.
"Sekali lagi, kesehatan mental menjadi agenda strategis dan tanggung jawab bersama," kata Cak Imin dalam keterangan tertulis, Sabtu (28/2/2026).
Pernyataan itu disampaikan dalam Dialog Solidaritas dan Partisipasi Publik bertajuk "Meningkatkan Ketahanan Psikososial sebagai Fondasi Pemberdayaan Masyarakat" yang digelar di Universitas Indonesia, Kampus Salemba, Jakarta.
Merujuk data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Cak Imin menyebut sekitar 28 juta masyarakat Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Menurutnya, angka tersebut mencerminkan persoalan yang kompleks dan multidimensi, yang berkaitan dengan kemiskinan struktural, lemahnya kohesi sosial, hingga kurangnya dukungan psikososial.
"Ini menunjukkan adanya gunung es yang sangat mengkhawatirkan yang setiap saat akan bisa lebih banyak dan lebih parah lagi," ujarnya.
Ia menjelaskan gangguan kesehatan mental tidak berdiri sendiri, melainkan dipicu berbagai faktor seperti tekanan sosial-ekonomi, kemiskinan struktural, melemahnya kohesi sosial, serta rendahnya literasi dan dukungan psikososial di tingkat komunitas. Karena itu, ia mendorong upaya bersama untuk menangani dampak sekaligus mengatasi pemicu gangguan kesehatan mental yang dinilainya sangat kompleks.
"Itulah tantangan yang harus kita lakukan bersama-sama untuk mengajak dan bersama-sama mengatasi akibat sekaligus kita mulai dari pemicu gangguan-gangguan kesehatan mental yang sangat kompleks ini," tuturnya.
Cak Imin juga menekankan pentingnya pendekatan menyeluruh, tidak hanya berfokus pada penanganan dampak, tetapi juga menyasar akar persoalan secara sistemik. Ia menyebut langkah tersebut dapat dilakukan melalui penguatan regulasi, politik anggaran yang tepat sasaran, serta kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah dan pihak non-pemerintah.
Menurutnya, pemberdayaan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi, tetapi juga penguatan kesejahteraan psikologis. Ia menilai tanpa ketahanan psikososial, pembangunan tidak akan berkelanjutan.
"Ketika masyarakat bertahan secara psikososial, mereka akan menjadi pribadi yang tangguh, kreatif, dan tentu menjadi kekuatan yang akan menjadi berdaya," tegasnya.
Dalam kegiatan yang berlangsung pada Jumat (27/2) itu, Cak Imin mengapresiasi para aktivis dan akademisi, termasuk Ida Fauzia dari Universitas Indonesia. Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah terus memperkuat akses layanan kesehatan jiwa melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
"Hari ini kita sebagai sebuah warga bangsa dituntut terus bahu-membahu untuk memastikan tidak ada satupun yang sendirian menanggung beban tetapi kita punya saudara, kita punya keluarga, kita menjadi satu kesatuan," tutupnya.

