BERITA TERKINI
Catatan tentang Pindah Agama dan Cara Publik Meresponsnya

Catatan tentang Pindah Agama dan Cara Publik Meresponsnya

Pada Kamis sore, 4 Juni 2015, seorang penulis berada di kamar hotel yang tidak membolehkannya merokok. Ia menghabiskan waktu dengan menjelajahi kanal televisi, dari satu stasiun ke stasiun lain, namun merasa kesulitan menemukan tayangan yang benar-benar bisa ia nikmati. Televisi yang jarang ia tonton justru membuatnya semakin asing dengan pilihan program yang tersedia.

Sampai akhirnya, ia berhenti pada satu siaran dari lembaga penyiaran dalam negeri. Ia menduga program itu berkaitan dengan suasana menyambut Ramadan, mengingat saat itu sudah pertengahan Syaban. Tayangan yang ia tonton menampilkan kisah seorang perempuan muda yang diceritakan melalui reka ulang, mengenai perjalanan pindah agama. Setelah beberapa menit, dua pembawa acara—seorang lelaki berjenggot dan perempuan berkerudung—muncul dan mengomentari kisah tersebut. Perempuan itu disebut telah mendapat hidayah dan menjadi mualaf.

Penulis kemudian mematikan televisi dan membuat catatan singkat yang mempertanyakan mengapa perpindahan agama—terutama ketika seseorang berpindah ke Islam—sering diberitakan sedemikian rupa, bahkan dikemas menyerupai reality show. Ia mengaku jarang menemukan pemberitaan tentang perpindahan agama dari Islam ke keyakinan lain. Dalam catatannya, ia mempertanyakan apakah hal itu berkaitan dengan posisi Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia, sehingga perpindahan ke Islam kerap dirayakan, sementara perpindahan dari Islam justru cenderung diabaikan atau disambut hujatan.

Ia juga mempertanyakan manfaat informasi semacam itu bagi publik dan bagi keimanan, serta meragukan apakah segala yang dialami tokoh dalam tayangan tersebut otomatis dapat disebut sebagai “berkah”. Catatan itu ditutup dengan pengakuan bahwa ia tidak mengerti.

Dalam tulisannya, penulis memilih menggunakan kata “pindah” alih-alih “masuk” atau “keluar” agama. Ia menilai istilah “masuk” dan “keluar” mudah membentuk oposisi “kami” dan “mereka”, yang dapat memunculkan kebencian—baik bagi pihak yang mengklaim berada “di dalam” maupun pihak yang dilabeli berada “di luar”. Bagi penulis, keyakinan tidak semestinya menjadi pertunjukan, sementara keimanan bisa begitu rapuh.

Setelah mematikan televisi, ia menuju kamar mandi, mengunci pintu, dan menyalakan rokok. Dalam kepalanya, ia hanya ingin melupakan tayangan yang baru saja ia tonton.

Seminggu kemudian, pada Rabu siang, ia kembali menemukan kabar pindah agama, kali ini ramai di media massa dan terutama media sosial. Sosok yang menjadi sorotan adalah menantu presiden. Ia menduga respons publik tidak akan jauh berbeda, dan ia mendapati banyak orang memuji serta menganggap perpindahan itu sebagai hidayah, sebagaimana narasi yang ia lihat sebelumnya.

Ia kembali menuju kamar mandi, mengunci pintu, dan menyalakan rokok—kali ini dengan keinginan melupakan media massa dan media sosial.

Namun, ia kemudian mengingat dirinya sendiri. Ia mengaku pernah, di masa lalu, sempat berpikir untuk pindah agama. Pikiran itu ia urungkan setelah membaca Lajja karya Taslima Nasrin, yang baginya menyuarakan gagasan agar agama berganti nama menjadi kemanusiaan. Ia menangkap pesan bahwa semua agama, keyakinan, dan kepercayaan memiliki potensi yang sama untuk saling berbenturan. Karena itu, ia memilih “menunda” dan cenderung menjadi agnostik untuk sementara.

Seminggu berselang, ketika ia sudah berada di kamar pribadinya, media kembali ramai oleh kasus pindah agama yang berkebalikan dari dua peristiwa sebelumnya: seorang selebritas diberitakan berpindah dari Islam ke Kristen. Ia mencatat bahwa respons publik kembali berulang—banyak yang menyayangkan, menghujat, mencaci, bahkan menuding kafir. Ia mempertanyakan mengapa tema yang sama terus memunculkan reaksi yang sama, dan apakah publik lebih gemar bersikap reaktif ketimbang reflektif.

Di bagian akhir, penulis menggambarkan kelelahan menghadapi pola respons tersebut. Ia kembali ke kamar mandi dan mengunci pintu, namun tidak menyalakan rokok karena sedang berpuasa. Dalam gumamnya, ia menyebut dirinya bukan Ki Wasyid yang menebang pohon kepuh besar yang dikeramatkan sebagian orang agar mereka berhenti menyembahnya. Tetapi ia juga menekankan satu hal: Ki Wasyid tidak menghujat, mencaci, atau menuding kafir para penyembah pohon itu.