Charlie Puth resmi memperluas kiprahnya ke ranah teknologi musik setelah ditunjuk sebagai Chief Music Officer (CMO) di Moises, platform berbasis kecerdasan buatan (AI) yang berpusat di Amerika Serikat. Dalam peran barunya, Puth akan mengarahkan pengembangan kreatif sekaligus memberi masukan langsung untuk penyempurnaan fitur yang ditujukan bagi komposer dan produser musik di berbagai negara.
Penunjukan ini menandai kolaborasi antara musisi dengan pengembang teknologi yang menawarkan sejumlah alat bantu produksi musik, seperti pemisahan instrumen (stem separation), identifikasi akord, hingga isolasi vokal.
Puth, yang dikenal memiliki kemampuan perfect pitch, mengatakan ia telah lama menggunakan Moises dalam proses kreatif pribadinya sebelum bergabung secara resmi ke jajaran eksekutif. “Setiap musisi yang saya kenal menggunakan Moises, dan saya sendiri telah menggunakannya dalam proses kreatif selama bertahun-tahun,” kata Puth, dikutip NME pada Senin, 9 Maret. Ia menilai platform tersebut membuka kemungkinan yang biasanya membutuhkan waktu berjam-jam atau memerlukan pengaturan studio yang mahal, termasuk untuk mengisolasi vokal demi mempelajari teknik atau bereksperimen dengan aransemen secara waktu nyata.
Di tengah perdebatan soal penggunaan AI dalam industri musik, Puth menyampaikan pandangannya bahwa teknologi tersebut tidak semestinya diposisikan sebagai ancaman bagi peran manusia. Menurut musisi berusia 34 tahun itu, AI dapat menjadi alat bantu bagi seniman untuk belajar, bereksplorasi, dan mewujudkan ide.
Untuk menandai peran baru Puth, Moises menggelar kompetisi remix global bertajuk Moises Jam Session. Pengguna diberi akses ke elemen musik (stems) dari lagu terbaru Puth, “Beat Yourself Up”, untuk diolah kembali atau dibawakan ulang. Kompetisi ini menawarkan total hadiah tunai sebesar 100.000 dolar AS.
“Beat Yourself Up” disebut sebagai materi terbaru dari album keempat Charlie Puth, “Whatever’s Clever!”, yang dijadwalkan rilis pada 27 Maret.
Meski Puth membawa narasi positif soal pemanfaatan AI, industri musik global secara umum masih menunjukkan sikap waspada terhadap penetrasi teknologi tersebut. Sejumlah platform besar, termasuk Apple Music, mulai menerapkan kebijakan transparansi dengan memberi label khusus pada lagu yang dibuat menggunakan AI. Langkah ini dikaitkan dengan data yang menunjukkan sebagian pendengar kian sulit membedakan karya orisinal manusia dan hasil olahan mesin.
Di sisi lain, sentimen protektif juga datang dari sejumlah musisi besar seperti Paul McCartney dan Elton John, yang mendesak pemerintah Inggris untuk memperkuat perlindungan hak cipta bagi pekerja kreatif.

