BERITA TERKINI
V-Pop dan Kebangkitan Identitas Lokal dalam Musik Modern Asia

V-Pop dan Kebangkitan Identitas Lokal dalam Musik Modern Asia

Kekayaan budaya rakyat kini menjadi sumber inspirasi penting bagi seniman muda Vietnam. Dari proses inilah wajah baru V-Pop perlahan terbentuk: terdengar modern, namun tetap mempertahankan identitasnya. Dalam beberapa tahun terakhir, kecenderungan mengolah kembali unsur tradisional ke dalam format musik populer kian menonjol dan mendapat respons positif.

Berbagai elemen musik rakyat Vietnam—mulai dari tangga nada pentatonik hingga tradisi seperti ca trù, chèo, dan cải lương—mulai sering diaransemen ulang dalam bingkai pop, EDM, dan hip-hop. Eksperimen yang dilakukan mencakup pembaruan musik tradisional, penggabungan elemen tradisional dan kontemporer, hingga kolaborasi antara artis senior dan penyanyi muda.

Sejumlah musisi muda disebut meraih perhatian luas melalui pendekatan ini, antara lain Hoang Thuy Linh, Ha Myo, Hoa Minzy, dan Phuong My Chi. Contoh karya yang menonjol termasuk “Come Home and Listen to Mother's Lullaby” yang mempertemukan Artis Rakyat Bach Tuyet dengan penyanyi Hoang Dung; “Xam Hanoi” oleh Ha Myo yang memadukan xam dengan rap dan musik elektronik; serta “Giao Duyen - Sitting by the Boat's Edge” dari Quan AP yang menggabungkan quan ho Bac Ninh dengan rap dan EDM.

Musisi Huy Tuan menilai, perpaduan yang halus dan kreatif dari para penyanyi muda menjadi arah baru yang dapat mengubah cara generasi muda memandang seni tradisional. Meningkatnya jumlah seniman yang menggunakan bahan tradisional juga dipandang sebagai tanda bahwa budaya lokal sedang dikembangkan kembali melalui produk seni yang lebih dekat dengan selera penonton masa kini.

Salah satu contoh yang kerap disebut adalah “See Tình” karya Hoàng Thùy Linh. Lagu ini tidak hanya populer di Vietnam, tetapi juga menyebar secara internasional, terutama melalui TikTok, dengan berbagai video cover dari Korea Selatan, Tiongkok, hingga Eropa. Unsur bunyi khas wilayah Barat Daya Vietnam menjadi ciri yang menonjol dan membuat lagu tersebut berbeda di pasar pop global.

Komposer Tien Luan memandang eksplorasi unsur kesenian rakyat tradisional sebagai pertanda baik bagi musik Vietnam. Ia menilai langkah ini menjadi cara seniman mengekspresikan kecintaan pada tanah air, menyentuh penonton, sekaligus berkontribusi dalam penyebaran, pelestarian, dan penegasan karakter unik seni nasional.

Dalam praktiknya, pemanfaatan tradisi tidak berhenti pada musik semata. Album “Hoang” dari Hoang Thuy Linh disebut sebagai kombinasi yang disengaja antara kepercayaan rakyat, sastra, dan citra tradisional untuk membentuk gaya yang khas. Sementara itu, “Thị Mầu” dari Hòa Minzy menunjukkan upaya memodernisasi opera tradisional Vietnam (chèo). Tokoh Thị Mầu yang dikenal dalam teater tradisional kemudian menjadi fenomena media sosial dan dimaknai ulang oleh anak muda dalam beragam konteks kreatif.

Tren serupa juga terlihat di ranah rap. “À Lôi” karya Double2T menggabungkan unsur kehidupan sehari-hari dan suara daerah pegunungan utara ke dalam hip-hop, menciptakan kekhasan yang membantu lagu tersebut menyebar di platform digital. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa kecenderungan memadukan musik rakyat dan musik modern tidak lagi bersifat sporadis, melainkan mulai menjadi arah umum dalam V-Pop.

Meski demikian, artikel tersebut menekankan bahwa penggunaan elemen tradisional secara dangkal tidak otomatis menghasilkan penerimaan publik. Sejumlah karya justru menuai reaksi negatif ketika unsur tradisi hanya dipakai sebagai hiasan. Karena itu, seniman dituntut tidak hanya kreatif, tetapi juga memahami dan menghormati budaya yang mereka angkat.

Di panggung kompetisi internasional, identitas budaya disebut menjadi faktor kunci dalam beberapa keberhasilan terbaru. Kemenangan Duc Phuc di Intervision 2025 lewat lagu “Phu Dong Thien Vuong” menandai partisipasi sekaligus kemenangan pertama Vietnam dalam ajang yang diikuti 23 negara, dengan perkiraan penonton mencapai 4,3 miliar orang. Penampilan tersebut menggabungkan musik rakyat, pop, dan rap multibahasa (Vietnam–Inggris–Rusia), serta pementasan visual yang menampilkan bambu, ao dai, dan citra simbolis “Santo Giong terbang ke atas.”

Contoh lain adalah kemenangan Phuong My Chi di Sing! Asia 2025. Produser DTAP dan Phuong My Chi menyampaikan bahwa sejak awal tim mereka berfokus pada pemanfaatan unsur Vietnam dalam penampilan. “Rock Hat Gao” memadukan musik rakyat dengan aransemen modern serta kostum tradisional seperti ao tu than dan topi kerucut, sementara “Bong Phu Hoa” disebut terinspirasi dari kisah “Gadis dari Nam Xuong.” Pertunjukan juga dilengkapi aransemen baru, perubahan struktur, dan terjemahan agar lebih mudah diakses penonton internasional.

Rangkaian contoh tersebut mengarah pada satu kesimpulan: V-Pop dinilai tidak kekurangan teknik maupun pasar, tetapi sebelumnya kekurangan “kisah yang cukup unik” untuk disampaikan kepada dunia. Ketika kearifan lokal diterjemahkan ke dalam bahasa musik modern, identitas budaya tidak hanya terdengar, tetapi juga dikenali. Jika dilakukan dengan tepat, unsur tradisional dapat menjadi “paspor” bagi V-Pop untuk menembus pasar Asia dan kawasan lain.