Psikologi kerap dipahami publik melalui terapi, konseling, atau kerja-kerja organisasi. Namun bagi Chris Willy Arianto, yang akrab disapa Billy, ada wilayah lain yang tak kalah dekat dengan kehidupan sehari-hari: psikologi musik. Ia meyakini musik memiliki peran besar dalam kehidupan manusia, mulai dari memengaruhi perilaku, membantu mengolah emosi, hingga membentuk cara berpikir dan menjalani hidup.
Sejak lama Billy memiliki ketertarikan pada musik. Ketika menjadi mahasiswa psikologi, ia sempat merasa “salah jurusan”. Titik baliknya datang saat masa orientasi, ketika ia diperkenalkan pada psikologi musik. Dari sana ia melihat musik dan psikologi sebagai dua hal yang saling terikat dalam keseharian. “Musik itu dekat sekali dengan kehidupan manusia,” ujarnya.
Kini, sebagai Kepala Program Studi Magister Psikologi di Unika Atma Jaya, Billy tidak lagi memandang musik semata sebagai karya seni, tetapi juga sebagai fokus akademik dan penelitian. Psikologi musik, menurutnya, merupakan cabang ilmu yang mempelajari hubungan antara musik dan tingkah laku manusia. Melalui musik, seseorang dapat membentuk suasana hati, mengekspresikan emosi, hingga memengaruhi cara berpikir.
“Kita mau mencari tahu sebenarnya apa yang membuat musik bisa berhubungan dengan kecerdasan, kenapa kalau mendengarkan musik kita bisa senang atau sedih. Nah, itulah yang dipelajari di psikologi musik,” katanya.
Dari berbagai riset yang ia lakukan, Billy menemukan sejumlah hal menarik terkait hubungan musik, kecerdasan, dan kesehatan mental. Salah satunya, terdapat perbedaan proses pengolahan informasi antara individu yang bermain musik dan yang tidak. “Orang yang bermain musik ternyata mengolah informasi secara lebih cepat,” ujarnya. Meski demikian, ia menekankan bahwa hubungan sebab-akibatnya belum dapat dipastikan. “Namun kita belum tahu, apakah musik menyebabkan seseorang menjadi lebih cerdas atau justru orang cerdas yang tertarik bermain musik,” tambahnya.
Perhatian Billy tidak hanya tertuju pada aspek kognitif. Ia juga menyoroti sisi yang jarang dibicarakan, yakni kesehatan mental musisi profesional. Menurutnya, di balik dunia musik yang tampak gemerlap, kelompok ini justru memiliki kerentanan tinggi. “Ternyata para musisi profesional memiliki kesejahteraan hidup dan kesehatan mental yang paling rentan. Sehingga kita perlu menaruh perhatian lebih kepada para musisi profesional,” ujarnya.
Di luar aktivitas riset, Billy juga aktif membangun ekosistem pembelajaran psikologi musik melalui Komunitas Psikologi Musik Indonesia yang ia dirikan bersama rekannya, Lestika Madinah Hasibuan. Komunitas ini berangkat dari keprihatinannya melihat perkembangan psikologi musik di Indonesia yang masih terbatas, padahal ia menilai Indonesia memiliki potensi besar berkat keberagaman budaya dan musik.
“Komunitas Psikologi Musik Indonesia ini menjadi ruang bersama bagi musisi, komposer, guru, mahasiswa, dan masyarakat umum. Dimana di dalam komunitas ini kita saling belajar terkait dengan materi-materi yang ada di dalam psikologi musik,” kata Billy.
Bagi Billy, musik tidak berhenti pada melodi yang ditangkap telinga. Di balik setiap irama, ia melihat ruang tempat manusia menyampaikan emosi, pemikiran, dan cerita hidupnya.