BERITA TERKINI
Coki NTRL Bentuk SonicFlo, Proyek Pop Alternatif Lintas Generasi Menuju Album "Perdebatan"

Coki NTRL Bentuk SonicFlo, Proyek Pop Alternatif Lintas Generasi Menuju Album "Perdebatan"

Gitaris NTRL, Coki Bollemeyer, kembali memperluas jejak musikalnya lewat proyek baru bernama SonicFlo. Setelah dikenal lewat berbagai band dan proyek yang lekat dengan distorsi gitar, Coki kini memperkenalkan warna berbeda: pop alternatif bernuansa 80-an yang lebih “danceable” dan beraroma new wave.

SonicFlo dibentuk pada 2026 dengan menggandeng dua musisi dari generasi berbeda, yakni Boyi Tondo dan Daffa Bagaskara. Formasi ini menghadirkan kombinasi Generasi-X (Coki), Millenial (Boyi), dan Gen-Z (Daffa), yang menjadi salah satu ciri menonjol dari band tersebut.

Single perdana SonicFlo berjudul “Rayu Membiru” menjadi pintu masuk mereka ke publik. Coki menyebut band ini sebagai representasi sisi perjalanan bermusik yang belum pernah ia ungkap. Ia juga menyinggung pengaruh masa kecilnya saat mendengar musik seperti Queen dan Genesis, serta paparan synth wave, new wave, dan rock yang kemudian membentuk ketertarikannya pada estetika 80-an. Menurut Coki, penggunaan synth yang kembali menguat dalam beberapa tahun terakhir juga menjadi salah satu konteks yang ia amati, baik di Amerika Serikat maupun Indonesia.

Perjumpaan ketiga personel hingga berujung pada pembentukan SonicFlo terjadi melalui perantara seorang teman bernama Ipe. Daffa menjelaskan, saat itu ia berada dalam fase mencari rekan untuk membentuk band dengan arah musik yang ia incar. Setelah dikenalkan, mereka bertemu dan mendiskusikan tujuan proyek, hingga SonicFlo terbentuk. Boyi menambahkan, sejak awal mereka merasa berada dalam satu visi karena memiliki benang merah selera yang serupa meski referensi masing-masing berbeda.

Soal kecocokan lintas generasi, Boyi menilai kuncinya ada pada kesamaan “taste” musik. Ia menyebut ketertarikannya pada nama-nama seperti Genesis, Toto, Chicago, hingga The Beatles, sementara Daffa membawa referensi yang lebih kontemporer seperti LANY dan The 1975. Coki bahkan mengaku meminta Daffa tetap mendengarkan musik yang biasa ia konsumsi agar notasi dan pendekatan vokal tidak terasa “jadul”.

“Rayu Membiru” dipilih sebagai rilisan awal setelah SonicFlo menggelar sesi dengar bersama beberapa orang dan meminta pendapat dari sembilan lagu yang sudah mereka siapkan. Daffa mengatakan lagu tersebut masuk pilihan teratas dari respons pendengar yang hadir dalam sesi tersebut.

Terkait lirik, Boyi menjelaskan “Rayu Membiru” berangkat dari perjalanan spiritual yang personal. Ia menggambarkannya sebagai pergulatan pertanyaan tentang banyak hal, termasuk keresahan melihat berbagai hal yang dianggapnya membingungkan, hingga muncul keinginan untuk “direct” kepada Tuhan tanpa campur tangan manusia. Ia memaknai “Rayu Membiru” sebagai permohonan yang sangat, seperti seseorang yang benar-benar memohon.

Dalam proses produksi, Coki menyebut mereka biasanya membuat basic, lalu mendengarkan kembali, membawa pulang materi, dan berlanjut dengan saling berkirim data. Mereka telah menyiapkan demo sembilan lagu, termasuk pengambilan drum yang dilakukan langsung. Boyi menekankan cara mereka mengolah lagu ternyata mirip sehingga prosesnya terasa mengalir.

Kontribusi Daffa sebagai perwakilan Gen-Z disebut hadir terutama pada sisi karakter dan “catchy” masa kini, termasuk pada hook, notasi vokal, dan cara pengucapan. Boyi memberi contoh, ketika ia dan Coki sempat membayangkan nuansa ala Duran Duran yang vokalnya lantang, Daffa justru diminta mempertahankan pendekatan vokal yang lebih dekat dengan referensinya seperti LANY atau The 1975. Daffa juga menyebut ia tengah menikmati musisi seperti The Weeknd dan Post Malone.

Ketiganya juga menyinggung upaya agar sorotan publik tidak semata terpusat pada Coki dan Boyi yang lebih dulu dikenal. Boyi mengatakan materi album nantinya akan memperlihatkan bahwa SonicFlo berjalan sebagai kerja bersama. Ia mencontohkan bahwa dalam “Rayu Membiru”, fokus utama bukan pada gitar, melainkan pada synth sebagai penanda pergeseran karakter bunyi. Coki menjelaskan perannya di SonicFlo banyak berada pada pencarian momen gitar sebagai “counter melody” dan hook yang pas, selaras dengan karakter musik 80-an.

Selain musik, SonicFlo juga melakukan penyesuaian tampilan. Coki mengaku memangkas jenggot karena merasa sudah mengganggu, sekaligus menilai penampilan saat promosi perlu lebih rapi. Mereka sepakat identitas visual penting untuk membangun jati diri SonicFlo. Dalam pengonsepan, mereka bekerja dengan art director bernama Bonita serta stylist Geges. Boyi menyebut perubahan gaya berpakaian—terutama bagi dirinya dan Coki yang identik dengan serba hitam—membutuhkan penyesuaian, termasuk mulai mencoba palet warna earth tone.

Meski arah musik SonicFlo lebih pop dan synth, Coki menyatakan gitar tetap digunakan. Ia menyebut pendekatan sound 80-an mendorong penggunaan gitar bergaya superstrat dengan karakter clean yang khas.

Setelah Lebaran, SonicFlo berencana merilis album penuh perdana berjudul “Perdebatan”. Daffa mengatakan judul tersebut dipilih karena benang merah sembilan lagu yang mereka produksi berkaitan dengan problematika kehidupan. Boyi menambahkan, tema “perdebatan” hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari perdebatan dengan diri sendiri seperti pada “Rayu Membiru”, hingga perdebatan dengan pasangan atau orang tua.

Ketika ditanya tentang kontras antara musik bernuansa 80-an yang kerap diasosiasikan dengan tema ringan dan album yang membawa topik lebih serius, Coki menyebut lirik-liriknya tetap diupayakan relevan bagi banyak orang. Boyi menekankan bahwa lirik ditulis dalam bahasa sehari-hari sehingga tidak terasa berat, bahkan bisa ditafsirkan secara luas—termasuk “Rayu Membiru” yang dapat dimaknai sebagai lagu untuk pasangan atau sosok yang dikagumi.

Soal nama SonicFlo, Coki bercerita ia sempat mempertimbangkan “Sonic Love”, namun tidak jadi karena sudah banyak digunakan. Ia kemudian memilih “SonicFlo” sebagai variasi dari “Sonic Flow”. Daffa menambahkan, proses penentuan nama sempat diwarnai berbagai ide sebelum akhirnya mengerucut pada pilihan tersebut. Coki memaknai SonicFlo sebagai “aliran frekuensi” dan “vibe manusia”.

Di luar urusan musik, Coki mengaku sedang mempelajari “game” zaman sekarang, termasuk kebutuhan membuat konten media sosial. Ia menyebut, jika ingin terlihat, band harus cukup sering memposting sesuatu. Daffa menambahkan, SonicFlo juga memiliki tim yang membantu pembagian kerja.

Menutup rencana setelah perilisan album, Coki mengatakan SonicFlo akan mencari panggung dan terbuka untuk tampil di berbagai gigs. Boyi berharap musik SonicFlo dapat dinikmati lebih luas.