Alergi susu sapi (ASS) menjadi salah satu isu kesehatan anak yang mendapat perhatian. Secara global, diperkirakan sekitar 2–3% anak mengalami alergi susu sapi pada tahun pertama kehidupannya. Di Indonesia, data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat angka kejadian yang lebih tinggi, yakni 2–7,5% pada anak.
Kondisi ini dapat memengaruhi tumbuh kembang karena gangguan penyerapan nutrisi penting yang berisiko menyebabkan kekurangan gizi. Karena itu, deteksi dini, pencegahan, serta tata laksana kebutuhan nutrisi bagi anak dengan alergi susu sapi dinilai penting agar anak tetap memperoleh asupan yang tepat untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang sehat.
Dalam rangka World Allergy Awareness Day yang diperingati pada 16 Oktober, Danone Indonesia kembali menggelar kegiatan edukasi “Bicara Gizi” bertema “Listen to The Little Sign: Saatnya Orang Tua SADAR Alergi Susu Sapi pada Anak”. Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan kesadaran orang tua agar lebih peka terhadap gejala alergi susu sapi pada anak sejak dini.
Melalui ajakan SADAR Alergi (Screening Awal dan Asupan Rekomendasi Alergi), Danone menekankan pentingnya deteksi dini dan konsultasi dengan dokter anak untuk memastikan diagnosis yang tepat, penanganan optimal, serta rekomendasi nutrisi sesuai kebutuhan anak.
Corporate Communications Director Danone Indonesia Arif Mujahidin mengatakan alergi susu sapi masih menjadi tantangan kesehatan anak di Indonesia maupun dunia. Ia menyebut momentum World Allergy Awareness Day 2025 dimanfaatkan untuk mendorong orang tua mengenali tanda awal alergi susu sapi dan memahami pentingnya berkonsultasi dengan dokter anak. Arif juga menyampaikan komitmen perusahaan dalam edukasi berkelanjutan serta pengembangan tools dan inovasi berbasis sains untuk menyediakan solusi nutrisi yang aman dan sesuai kebutuhan anak dengan alergi susu sapi. Pernyataan itu disampaikan pada 20 Oktober di Jakarta.
Selain berpotensi menghambat pertumbuhan fisik, alergi susu sapi juga disebut dapat memengaruhi fungsi kognitif dan kualitas hidup anak. Kondisi ini turut memicu stres emosional bagi orang tua, terutama ibu. Penelitian Annals of Medical Research (2023) mengungkapkan bahwa ibu dengan anak yang memiliki alergi susu sapi kerap merasa khawatir terhadap pemenuhan gizi anak, terutama karena asupan nutrisi yang tidak optimal dan keterbatasan informasi yang akurat. Karena itu, rekomendasi nutrisi yang tepat dari dokter anak dipandang penting untuk mendukung tumbuh kembang anak sekaligus mengurangi kekhawatiran orang tua.
Dokter Spesialis Anak dr. Tiara Nien Paramita, SpA menilai masih banyak orang tua yang belum menyadari gejala awal alergi susu sapi kerap menyerupai flu, kolik, iritasi kulit, atau gangguan pencernaan ringan. Ia menyebut tanda seperti ruam pada kulit, muntah, diare, atau anak yang tampak lebih rewel bisa menjadi sinyal yang perlu diperhatikan. Menurutnya, meski banyak orang tua mencari informasi kesehatan melalui internet, setiap anak memiliki kondisi alergi yang berbeda sehingga tidak semua informasi bisa diterapkan secara umum. Karena itu, konsultasi dengan dokter anak diperlukan agar diagnosis tepat, sekaligus untuk menentukan tata laksana nutrisi, termasuk perlu tidaknya memantang produk susu, pemilihan susu atau formula yang sesuai, dan memastikan anak tetap mendapatkan asupan nutrisi optimal.
Pada kesempatan yang sama, Medical & Scientific Affairs Director Danone Indonesia Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH menyatakan anak dengan alergi susu sapi tetap membutuhkan nutrisi lengkap dan seimbang untuk tumbuh kembang optimal. Ia mengatakan komitmen perusahaan diwujudkan tidak hanya melalui penyediaan produk nutrisi, tetapi juga pengembangan inovasi dan tools berbasis sains yang dapat membantu orang tua serta tenaga medis, seperti dokter anak, dalam mengenali tanda-tanda alergi agar anak mendapatkan penanganan yang tepat.
Ray menambahkan, inisiatif SADAR Alergi diarahkan untuk mengedukasi orang tua agar memahami pentingnya mengenali tanda awal alergi dan memastikan tata laksana nutrisi sesuai rekomendasi dokter. Ia menekankan setiap anak memiliki kebutuhan nutrisi berbeda, sehingga konsultasi dengan dokter menjadi langkah penting dalam menentukan jenis nutrisi dan formula yang paling tepat bagi kondisi masing-masing anak.

