Departemen store di Singapura kian mengecil dari sisi ukuran, namun pada saat yang sama memperluas penawaran dengan memasukkan konsep kuliner, wellness, dan pengalaman ritel. Perubahan ini terjadi seiring percepatan belanja daring dan penurunan jumlah pengunjung toko fisik, di tengah ekspektasi konsumen yang meningkat akibat media sosial dan kemudahan e-commerce.
Sulian Tan-Wijaya, direktur eksekutif retail dan lifestyle di Savills Singapore Pte Ltd., mengatakan pemain seperti Robinsons, BHG, Isetan, dan Metro telah mengurangi skala gerai. Menurutnya, ada pergeseran bertahap dari format departemen store multi-merek tradisional menuju konsep lifestyle yang lebih terkurasi untuk menyesuaikan perubahan preferensi konsumen.
Sejumlah lokasi menunjukkan arah transformasi tersebut. Di Tang Plaza, lantai basement TANGS diubah menjadi Hawkers’ Street yang menampilkan makanan warisan, termasuk stan yang diakui Michelin. Sementara itu, anchor specialty seperti Don Quijote menggabungkan belanja dengan kuliner, dan FairPrice Finest milik NTUC di Clarke Quay mengubah supermarketnya menjadi Grocer Food Hall, yang memungkinkan konsumen memilih daging atau seafood segar untuk dimasak langsung di tempat.
Perubahan juga terlihat pada segmen fesyen yang bergerak ke arah konsep lifestyle. The Editor’s Market di Takashimaya, misalnya, mengadopsi konsep kafe yang terinspirasi budaya kopi Korea untuk menarik konsumen muda.
Tan-Wijaya menilai dinamika ini mencerminkan tekanan yang terus berlangsung pada sektor departemen store. Biaya operasional yang tinggi, kenaikan sewa, dan kompetisi dari e-commerce mendorong pemain tradisional untuk beradaptasi. Ia menambahkan, model bisnis berbasis inventori dinilai kurang lincah dibanding fast fashion atau merek direct-to-consumer (D2C). Di saat bersamaan, persaingan dari e-commerce, social commerce, dan retailer specialty turut menggerus peran departemen store sebagai destinasi belanja serba ada.
Ashutosh Awasthi, direktur Kadence International, menilai tantangan utama sektor ini terletak pada inovasi. Menurutnya, persoalan biaya meningkat merupakan implikasi dari kecepatan inovasi yang terjadi di pasar. Ia menyebut platform daring memanfaatkan rekomendasi berbasis AI, virtual try-on, dan pengalaman personalisasi, sementara toko fisik kerap tertinggal. Konsumen, kata dia, kini mengharapkan layanan yang lebih interaktif dan imersif.
Awasthi menambahkan, pengunjung saat ini menginginkan layanan personal, termasuk konsultasi gaya atau demonstrasi langsung, namun pengalaman berbelanja harus lebih interaktif, imersif, dan nyaman. Ia juga menekankan bahwa media sosial dan kemudahan e-commerce telah menaikkan ekspektasi konsumen.
Untuk mengejar perubahan perilaku belanja, departemen store di Singapura mulai bereksperimen dengan pop-up, workshop, merek artisanal, display interaktif, hingga smart fitting room. Awasthi menyebut ia menemukan sejumlah toko yang menyediakan display interaktif di seluruh area, di mana pelanggan dapat memindai produk untuk mendapatkan informasi tambahan melalui ponsel.
Inspirasi juga datang dari pesaing regional. Isetan Mitsukoshi di Jepang disebut telah mengintegrasikan luxury food hall dan event budaya. Sementara Hyundai Department Store dan Lotte di Korea menghadirkan galeri seni serta taman rooftop.
Tan-Wijaya menilai retailer di Singapura dapat meniru sejumlah pendekatan tersebut, antara lain melalui showcase merek bergilir, pameran, penampilan selebriti, serta area yang berfokus pada keberlanjutan, termasuk penjualan pakaian desainer pre-loved.

