BERITA TERKINI
Digital Wellness: Upaya Menjaga Keseimbangan Hidup di Tengah Dominasi Layar

Digital Wellness: Upaya Menjaga Keseimbangan Hidup di Tengah Dominasi Layar

Teknologi digital kini melekat dalam rutinitas sehari-hari. Smartphone, laptop, dan media sosial memudahkan komunikasi, pekerjaan, hingga hiburan. Namun di balik manfaat tersebut, muncul tantangan yang kian terasa: bagaimana menjaga agar teknologi tetap membantu, bukan justru menjadi sumber kelelahan fisik dan mental.

Konsep yang banyak dibicarakan untuk menjawab tantangan ini adalah digital wellness atau kesejahteraan digital. Intinya, teknologi digunakan secara bijak untuk mendukung kesehatan mental, fisik, emosional, dan sosial, bukan menggantikannya.

Di Indonesia, isu ini dinilai semakin nyata. Laporan State of Mobile 2024 mencatat masyarakat Indonesia menghabiskan rata-rata lebih dari enam jam per hari menatap layar ponsel, menempatkan Indonesia sebagai negara dengan penggunaan smartphone tertinggi di dunia. Dengan penetrasi internet yang telah melampaui 80 persen populasi, ketergantungan digital tidak lagi dipandang sebagai persoalan individu semata, melainkan turut menyentuh dimensi sosial dan ekonomi, termasuk kohesi masyarakat dan produktivitas.

Sejumlah temuan penelitian menggambarkan dampak penggunaan gawai berlebihan. Wicaksono (2025) menyebut penggunaan media sosial yang berlebihan dapat memicu stres, kecemasan, dan rendahnya harga diri. Studi UNISBA (2023) menemukan lebih dari 90 persen mahasiswa dengan screen time di atas lima jam mengalami gangguan tidur. Sementara itu, UKDW (2024) melaporkan mahasiswa dengan screen time tinggi cenderung memiliki indeks prestasi lebih rendah dibandingkan mereka yang lebih sedikit menggunakan smartphone.

Tekanan akademik juga disebut berkelindan dengan pola penggunaan perangkat digital. Purnamasari, Fitriana, dan Ismah (2024) menyoroti fenomena academic burnout yang meningkat pada mahasiswa tingkat akhir, dipicu oleh tekanan belajar berkelanjutan dan minimnya dukungan sosial.

Di ranah psikologis, muncul fenomena FOMO (Fear of Missing Out) atau ketakutan tertinggal informasi dan aktivitas. Pratama (2023) menemukan lebih dari separuh mahasiswa di Surabaya mengalami kecemasan akibat FOMO, yang kemudian memicu penurunan kualitas tidur dan konsentrasi. Sebagai tandingan, Lestari (2024) memperkenalkan JOMO (Joy of Missing Out), yakni rasa bahagia karena berani memilih untuk tidak selalu terhubung. Konsep ini disebut dapat meningkatkan mindfulness dan kepuasan hidup, sekaligus membantu individu lebih fokus pada hal yang dianggap penting.

Kesadaran terhadap digital wellness juga terlihat dari berbagai inisiatif. Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK, 2025) meluncurkan Gerakan Digital Wellness Challenge untuk mendorong generasi muda lebih bijak menggunakan teknologi. Di sisi lain, praktik digital detox seperti akhir pekan tanpa gawai disebut semakin populer di kota-kota besar. Menariknya, teknologi juga menyediakan fitur pendukung, seperti Digital Wellbeing di Android dan iOS, yang memungkinkan pengguna memantau durasi pemakaian, membatasi aplikasi, dan mengurangi notifikasi.

Sejumlah strategi praktis kerap disarankan untuk menjaga kesejahteraan digital. Pertama, manajemen waktu layar. Rujukan dari American Psychological Association (APA) menyebut individu yang membatasi waktu layar maksimal tiga jam per hari mengalami penurunan stres hingga 20 persen. Bentuk penerapannya antara lain menetapkan batas penggunaan aplikasi (terutama media sosial) melalui fitur pemantauan, menghindari penggunaan gawai saat berjalan atau berkendara, tidak menggunakan ponsel ketika bersama keluarga atau di meja makan, serta mengurangi penggunaan gawai 1–2 jam sebelum tidur untuk membantu produksi melatonin.

Kedua, praktik mindfulness dan meditasi. Sejumlah penelitian yang dirujuk dalam naskah menyebut meditasi teratur dapat meningkatkan fokus 14 persen dalam tiga minggu dan mengurangi mind wandering. Disebut pula bahwa 90 persen pengguna meditasi teratur merasakan dampak positif pada produktivitas, sementara 81 persen melaporkan peningkatan fokus dan konsentrasi saat mengerjakan tugas. Manfaat yang kerap dikaitkan dengan mindfulness meliputi penurunan stres dan kecemasan, perbaikan kualitas tidur, serta meningkatnya kemampuan pemecahan masalah dan kreativitas.

Ketiga, menjaga aktivitas fisik dan interaksi sosial. Aktivitas fisik ringan seperti jalan kaki, yoga, atau olahraga teratur disebut dapat membantu konsentrasi dan memperbaiki suasana hati. Sementara pertemuan tatap muka dengan keluarga atau sahabat serta keterlibatan dalam komunitas offline dipandang dapat mengurangi rasa kesepian yang bisa muncul ketika interaksi virtual menjadi dominan.

Keempat, membangun mindfulness digital. Penerapannya antara lain menggunakan media sosial pada jam tertentu, mematikan notifikasi yang tidak penting, lebih selektif terhadap konten yang dikonsumsi, serta melakukan unfollow atau mute akun yang memicu perbandingan sosial negatif.

Kelima, melakukan digital detox secara berkala. Polanya bisa beragam, mulai dari daily detox (1–2 jam bebas gawai setiap hari), weekly detox (sehari tanpa media sosial dalam sepekan), periodic retreat (retret 2–3 hari di tempat yang mendukung wellness), hingga bedtime digital detox (membatasi gawai 1–2 jam sebelum tidur).

Pada akhirnya, digital wellness diposisikan bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan di era teknologi. Dengan mengelola waktu layar, mempraktikkan mindfulness, menjaga aktivitas fisik dan sosial, serta mengatur jeda dari perangkat digital, masyarakat diharapkan dapat memaksimalkan manfaat teknologi tanpa mengorbankan kualitas hidup. Teknologi, dalam kerangka ini, dipandang idealnya menjadi alat yang mendukung, bukan menguasai.