Musisi sekaligus aktor Dikta mengungkap sisi personal di balik proses kreatifnya, terutama peran sang ayah yang selama ini menjadi orang pertama yang ia datangi untuk berbagi cerita dan meminta pendapat soal lagu-lagu yang ia ciptakan. Kehilangan ayahnya meninggalkan ruang kosong besar, sekaligus menjadi dasar emosional yang mendorong lahirnya lagu berjudul Papa Tenang Saja.
Dalam sebuah kesempatan di kawasan Jakarta Selatan beberapa hari lalu, Dikta mengenang ayahnya sebagai pendengar yang jujur dan realistis. Ia mengatakan, setiap kali membuat lagu, ia selalu memperdengarkannya lebih dulu kepada sang ayah.
“Yang terbayang adalah saya dulu kalau bikin lagu selalu dengerin ke dia dulu. Dia satu-satunya orang yang jawabnya itu enggak memandang saya anak kecil,” ujar Dikta.
Menurut Dikta, ayahnya tidak sekadar memberi pujian, tetapi juga menilai secara logis, termasuk dari sudut pandang industri musik. Ia menuturkan, ayahnya kerap memberi perbandingan yang jelas saat Dikta menanyakan kualitas sebuah lagu.
“Jadi ketika saya tanya, ‘Pa, ini bagus enggak?’ dia jawab, ‘Bagus-bagus aja, cuma kalau kamu mau lagu ini di industri, mau lagu laku atau mau lagu enak?’ Dia selalu kasih perbandingan yang logis,” katanya.
Sejak sang ayah tiada, Dikta mengaku kehilangan teman berdiskusi yang selama ini berarti dalam hidupnya. Kondisi itu membuatnya kini lebih terbuka mendengar masukan dari orang lain dalam proses berkarya.
“Sekarang saya sudah enggak ada lagi teman ngobrol kayak gitu. Makanya di album ini saya lebih mau mendengar lagi masukan orang lain,” ujar Dikta.
Dikta juga membagikan kenangan lain terkait lagu Goda-Godaan, yang masuk dalam EP terbarunya bertajuk Unapologetic. Ia menyebut, sebelum meninggal dunia, ayahnya sempat menyatakan menyukai lagu tersebut.
“Sebelum beliau meninggal, ada lagu judulnya ‘Goda-Godaan’. Dia suka lagu itu,” ucapnya.
Kenangan itu terasa semakin emosional karena disampaikan ketika kondisi sang ayah menurun akibat sakit. Dikta mengatakan, sekitar seminggu sebelum meninggal, ayahnya masih sempat mengungkapkan kesukaannya terhadap lagu tersebut, yang kemudian turut menjadi salah satu alasan ia me-remake lagu-lagunya.
“Pas posisinya sudah sakit, seminggu sebelum meninggal dia bilang suka lagu itu. Itu salah satu alasan saya me- remake lagu-lagu saya lagi,” tuturnya.