BERITA TERKINI
Ditjen Risbang Reviu Peta Jalan Riset Pendidikan untuk Perkuat Agenda Riset Strategis Nasional

Ditjen Risbang Reviu Peta Jalan Riset Pendidikan untuk Perkuat Agenda Riset Strategis Nasional

Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menggelar Focus Group Discussion (FGD) reviu dan validasi Peta Jalan Riset Bidang Pendidikan. Kegiatan ini menjadi bagian dari penyempurnaan Buku Peta Jalan dan Agenda Riset Strategis Nasional, yang berlangsung di Gedung D Kemdiktisaintek, Selasa (13/05).

FGD dibuka oleh Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, dan dihadiri pemangku kepentingan dari akademisi perguruan tinggi, kementerian/lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha dan dunia industri (DUDI), serta asosiasi bidang pendidikan.

Dalam arahannya, Fauzan menegaskan penyusunan peta jalan riset nasional tidak hanya berfokus pada bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM), tetapi juga mengakomodasi sosial humaniora. Pendidikan ditempatkan sebagai salah satu bidang sosial humaniora yang dinilai berperan penting dalam membangun talenta, memperkuat karakter, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta menjawab tantangan sosial dalam pembangunan nasional.

“Pendidikan merupakan aspek kunci dalam pembangunan talenta nasional dan menjadi fondasi penting bagi berbagai bidang strategis dalam Buku Peta Jalan dan Agenda Riset Strategis Nasional. Ini juga menunjukkan bahwa Peta Jalan dan Agenda Riset Strategis Nasional tidak hanya berpusat pada STEM, tetapi juga memberi ruang kuat bagi bidang sosial humaniora, termasuk pendidikan, ekonomi dan bisnis, hukum dan sosial, serta bidang strategis lain seperti ketahanan bencana, lingkungan, dan infrastruktur,” ujar Fauzan.

Tim penyusun peta jalan bidang pendidikan dipimpin Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Negeri Indonesia (ALPTKI) melalui Prof. Markus Diantoro. Dalam paparan perkembangan penyusunan, bidang pendidikan dirumuskan ke dalam tiga fokus utama, yakni menyiapkan lulusan pendidikan dasar dan menengah agar siap melanjutkan ke perguruan tinggi; menyiapkan lulusan pendidikan tinggi agar adaptif terhadap perkembangan sains, teknologi, dan kebutuhan dunia kerja serta DUDI; serta memperkuat pendidikan nonformal agar lulusannya memiliki akses, pengakuan, dan kesetaraan untuk melanjutkan studi, memasuki dunia kerja, maupun berwirausaha.

Prof. Markus menilai pendidikan memiliki urgensi mendasar dalam peta jalan riset nasional karena keberhasilan berbagai agenda strategis pada akhirnya bergantung pada kualitas sumber daya manusia. “Kalau kita bicara bidang-bidang strategis, pada dasarnya yang harus kita bangun adalah manusianya. Keberhasilan teknologi, industri, produk, dan berbagai agenda strategis nasional sangat ditentukan oleh sumber daya manusia yang siap, adaptif, serta mampu mengikuti bahkan mendahului perubahan. Karena itu, pendidikan harus berjalan beriringan dan menjadi landasan bagi penguatan bidang-bidang strategis menuju Indonesia 2045,” ujarnya.

Sejumlah masukan muncul dari peserta, termasuk dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), pemerintah daerah seperti Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur dan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, industri seperti PT Pindad, serta Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia dan Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia.

Masukan tersebut menyoroti perlunya penguatan kualitas dan distribusi guru, peningkatan literasi, numerasi, serta kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik. Selain itu, peserta juga menekankan penguatan pendidikan anak usia dini, perluasan akses dan pengakuan pendidikan nonformal, serta agenda riset yang lebih peka terhadap konteks daerah, pendidikan swasta, pesantren, daerah tertinggal, dan kebutuhan dunia kerja.

Dari unsur industri, peserta menekankan pentingnya pemetaan kompetensi industri dan penguatan soft skills lulusan. Penguatan karakter dan kebangsaan juga menjadi perhatian, termasuk perlunya kajian pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial yang tidak hanya melihat peluang, tetapi juga mempertimbangkan etika, integritas akademik, dampak penggunaan gawai, serta perlindungan anak dalam ekosistem digital.

Melalui FGD ini, Ditjen Risbang berharap Buku Peta Jalan dan Agenda Riset Strategis bidang pendidikan menjadi lebih tajam dan relevan dengan kebutuhan lapangan, sekaligus memperkuat dasar pengambilan kebijakan berbasis riset. Peta jalan tersebut juga diharapkan mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan DUDI, serta memastikan riset pendidikan berkontribusi langsung pada peningkatan kualitas talenta Indonesia dan penguatan bidang-bidang strategis nasional.