MEDAN — Dosen Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan, Sry Lestari Samosir, menaruh harapan agar anak-anak tumbuh menjadi generasi yang memahami dampak kekerasan dan kerusakan lingkungan terhadap kehidupan manusia. Menurutnya, perubahan hanya bisa dimulai jika kesadaran itu ditanamkan sejak usia dini.
Hal tersebut disampaikan Sry saat berada di Sanggar Anak Sungai Deli, Gang Kesatria, Kelurahan Sei Mati, Kecamatan Medan Maimun, Jumat (30/1/2026). “Harapannya anak-anak ini benar-benar paham bahwa alam itu sumber kehidupan kita. Kalau bukan mereka yang menjaga, lalu siapa lagi?” ujarnya.
Sry menilai anak-anak kerap menjadi kelompok yang paling terdampak oleh keputusan dan tindakan orang dewasa, baik dalam bentuk kekerasan maupun kerusakan lingkungan. Situasi itu, menurutnya, membuat anak-anak di wilayah pinggiran dan kelompok marjinal sering menanggung beban yang bukan mereka ciptakan.
Ia juga menyoroti bencana alam yang berulang, seperti banjir, yang menunjukkan bagaimana masyarakat kecil menjadi korban utama. Dalam kondisi tersebut, rumah dapat hilang, keluarga tercerai, dan rasa aman anak-anak terganggu akibat krisis ekologis.
“Ketika alam rusak, hidup kita juga ikut rusak. Ketika alam sakit, manusia akan lebih sakit,” kata Sry.
Sry berharap anak-anak dapat tumbuh dengan kesadaran bahwa manusia dan alam merupakan satu kesatuan yang saling terhubung. Dengan pemahaman itu, anak-anak diharapkan mampu menolak kekerasan, baik sebagai pelaku maupun dengan membiarkannya terjadi di sekitar mereka.

