BERITA TERKINI
DU 68 Musik Bertahan di Tengah Gempuran Era Digital Berkat Solidaritas Pelanggan

DU 68 Musik Bertahan di Tengah Gempuran Era Digital Berkat Solidaritas Pelanggan

Di tengah perubahan besar industri musik pada awal 2010-an, DU 68 Musik—toko rilisan musik fisik di Jalan Dipati Ukur, Bandung—sempat berada di ambang penutupan. Pada masa itu, peralihan ke era digital dan hantaman industri bajakan membuat bisnis musik fisik kian terdesak. Banyak toko besar berguguran, sementara biaya operasional dan kenaikan sewa tempat turut menekan usaha kecil seperti DU 68 Musik.

Situasi tersebut membuat pemilik DU 68 Musik, Irham Vickry, nyaris menyerah. Dalam sebuah percakapan di lantai dua ruko tempat tokonya beroperasi, muncul kalimat yang menggambarkan kondisi saat itu: “Kayaknya [toko] kita harus tutup.”

Namun, rencana itu mendapat penolakan dari pelanggan setia. Sejumlah pengunjung menyampaikan keberatan karena menganggap DU 68 Musik bukan sekadar tempat transaksi, melainkan ruang berkumpul. “Jangan, Om, jangan tutup. Kalau toko ini tutup, kita bingung mau nongkrong di mana lagi,” demikian salah satu seruan pelanggan yang dikenang Vickry.

Dukungan tidak berhenti pada kata-kata. Vickry menceritakan ada pelanggan yang menawarkan bantuan agar toko tetap berjalan. “Ada beberapa orang konsumen mau nolong. ‘Kita bantu, Bang. Pokoknya abang lanjutkan aja. Entar kalau perlu saya bayarin nanti. Asal melanjutkan toko ini.’ Segitu kuatnya persatuan di kita di masa itu,” ujar Vickry mengulang pernyataan pelanggan.

Solidaritas itulah yang membuat DU 68 Musik bertahan, sekaligus mengubahnya menjadi lebih dari sekadar unit usaha. Toko tersebut menjadi semacam “rumah” bagi penggemar rilisan fisik, baik dari Bandung maupun dari luar negeri, yang merasa memiliki keterikatan dengan ruang dan komunitas di sekitarnya.

Kisah bertahannya DU 68 Musik juga tidak lepas dari konteks Bandung, kota yang dikenal memiliki modal sosial kuat, budaya nongkrong, serta etos Do-It-Yourself yang melahirkan jejaring kolektif. Bandung kerap disebut sebagai salah satu pusat gravitasi musik independen di Indonesia.

Kenangan tentang iklim saling dukung di Bandung turut diungkapkan M. Suar Nasution (eks Pure Saturday) dalam wawancara film Gelora: Magnumentary of Gedung Saparua (2021). “Bandung pada saat itu saling support, mau apa pun itu jenis genrenya dan lain-lain,” katanya. Dalam konteks ini, DU 68 Musik dinilai memiliki modal sosial kuat dari para pelanggannya.

Vickry juga mengaitkan loyalitas komunitas dengan sejarah skena musik Bandung, termasuk yang terbentuk di sekitar Gedung Saparua. “Scene [musik] di Saparua itu kan membentuk komunitas. Dan mereka loyal, setia,” ujarnya. Dari situ, DU 68 Musik hadir sebagai bagian dari perjalanan panjang perkembangan musik di Tanah Priangan—bertahan bukan semata karena bisnis, melainkan karena ikatan kolektif yang menjaga ruangnya tetap hidup.