Festival Film Purbalingga (FFP) bersiap menggelar edisi ke-20 pada 2026, menandai dua dekade penyelenggaraan ajang tersebut. Festival ini dikenal konsisten dan disebut sebagai festival film terlama serta paling aktif di Jawa Tengah, dengan pelaksanaan yang kembali memeriahkan wilayah Banyumas Raya.
FFP pertama kali digelar pada 2007 dan sejak itu menjadi ruang pengembangan perfilman di kalangan pemuda. Program utama yang selama ini dijalankan meliputi Kompetisi Film Pelajar Banyumas Raya serta program unggulan Layar Tanjleb se-Banyumas Raya. Sejak FFP 2025, kedua program tersebut disebut telah berjalan secara mandiri, yang menunjukkan kematangan serta keberlanjutan penyelenggaraan festival.
Dalam edisi spesial dua dekade, FFP 2026 mengangkat ikon yang lekat dengan masyarakat Banyumas, yakni mendoan. Istilah “mendoan” berasal dari kata Jawa Banyumasan “mendo” yang berarti setengah matang. Mendoan merupakan olahan tempe yang digoreng tidak terlalu matang sehingga teksturnya tetap lembek. Kudapan ini juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya tak Benda (WBtB) Kabupaten Banyumas pada 2021.
Mendoan menjadi inspirasi utama poster FFP 2026. Pelukis asal Purbalingga, Muhammad Sya’din (Udin), menginterpretasikan mendoan dalam sebuah lukisan yang digunakan sebagai identitas visual festival.
FFP 2026 dijadwalkan berlangsung selama satu bulan, mulai 4 Juli hingga 1 Agustus 2026. Selama periode tersebut, festival akan menggelar beragam program diskusi dan kegiatan pengembangan ekosistem perfilman yang melibatkan masyarakat serta pelajar di Banyumas Raya.
Penyelenggaraan FFP 2026 turut didukung sejumlah pihak, di antaranya Sangkanparan Cilacap, Artfilm Picture Banjarnegara, Hompimpaa Visual Banyumas, dan Bioskop Misbar Purbalingga. Kolaborasi ini disebut menegaskan komitmen bersama untuk menjaga geliat perfilman lokal serta menghadirkan dampak positif bagi masyarakat.

