Film Frankenstein garapan sutradara Guillermo del Toro hadir di Netflix sebagai thriller gothic yang menonjolkan pengalaman visual bernuansa suram sekaligus emosional. Del Toro kembali membawa ciri khasnya melalui dunia yang gelap namun megah, tokoh-tokoh kompleks, serta tema yang mengajak penonton merenungkan kemanusiaan, keabadian, dan kesepian.
Film ini merupakan adaptasi dari novel klasik karya Mary Wollstonecraft Shelley yang pertama kali terbit pada 1818. Dengan durasi lebih dari dua jam, cerita mengikuti perjalanan Victor Frankenstein, ilmuwan muda yang terobsesi menciptakan kehidupan dari kematian. Namun, keberhasilannya berubah menjadi kutukan ketika makhluk ciptaannya hidup tanpa memahami makna keberadaannya.
Sejumlah fakta turut menyertai kisah Frankenstein yang telah melegenda. Mary Wollstonecraft Shelley menulis novel tersebut saat berusia 18 tahun dan menerbitkannya pada usia 20 tahun. Untuk versi film ini, naskah ditulis langsung oleh Guillermo del Toro, yang menafsirkan ulang cerita klasik itu dengan nuansa yang lebih gelap dan emosional.
Film ini juga mengingatkan kembali kekeliruan yang kerap muncul di publik: “Frankenstein” adalah nama sang ilmuwan, bukan nama monster. Dalam novel aslinya, makhluk ciptaan Victor Frankenstein tidak memiliki nama dan hanya disebut sebagai the creature, the monster, atau daemon.
Kisah Frankenstein sendiri telah diadaptasi berkali-kali sepanjang sejarah perfilman. Versi film pertama dibuat pada 1910 oleh Edison Studios. Adaptasi klasik lainnya antara lain Frankenstein (1931), Bride of Frankenstein (1935), dan Son of Frankenstein (1939) yang menjadi bagian dari serial Universal Classic Monsters. Selain itu ada Mary Shelley’s Frankenstein (1994) garapan Kenneth Branagh, serta beragam adaptasi modern seperti The Curse of Frankenstein (1957), Young Frankenstein (1974), dan Frankenweenie (2012). Pada 2025, del Toro menghadirkan interpretasi barunya dengan sentuhan gothic yang lebih intim dan tragis.
Del Toro dikenal luas lewat gaya visual yang kaya nuansa gothic dan melankolis. Sejumlah filmnya yang kerap disebut antara lain Pan’s Labyrinth (2006), The Shape of Water (2017), Hellboy (2004) dan Hellboy II: The Golden Army (2008), Crimson Peak (2015), serta Nightmare Alley (2021). Melalui Frankenstein, ia kembali menegaskan ketertarikannya pada pertemuan antara horor, tragedi, dan keindahan visual.

