TANJUNGPINANG – Suasana malam di kawasan Pinang City Walk (PCW), Jalan Teuku Umar, Tanjungpinang, tampak ramai. Lampu warna-warni menyala, musik berdentum, dan ratusan pengunjung memadati arena permainan KIM. Di atas panggung, seorang pemandu menghibur penonton sambil menyanyikan lagu dan memandu jalannya permainan.
Di balik kemasan hiburan tersebut, aktivitas di gelanggang KIM itu diduga kuat mengarah pada praktik perjudian terselubung. Dalam permainan, pemandu mengocok tabung kecil berisi lempeng angka, lalu mengumumkan angka yang keluar. Angka tersebut diproyeksikan ke layar besar di sekitar arena, sementara pemain mencocokkannya dengan kupon yang mereka pegang.
Seorang pemain yang ditemui di lokasi pada Selasa (19/5/2026) malam menjelaskan, ketika tinggal satu angka lagi untuk melengkapi kombinasi, pemain biasanya meminta tabung segera dikocok. Dalam skema permainan yang disebutkan, peserta mengejar kombinasi lima angka dan sepuluh angka. Untuk kategori lima angka, pemain harus melengkapi satu kolom berisi lima baris angka, sedangkan sepuluh angka mengharuskan dua kolom penuh terisi berurutan.
Ketika ada pemain merasa angkanya sudah lengkap, ia akan berteriak atau mengangkat tangan. Petugas kemudian menghampiri meja pemain dan menyalakan lampu penanda agar permainan dihentikan sementara. Musik berhenti, pencabutan angka ditunda, lalu kupon pemenang diperiksa untuk memastikan seluruh angka sesuai dengan hasil yang sudah keluar. Jika cocok, pemain dinyatakan menang dan menerima hadiah.
Sebelum permainan dimulai, pekerja yang disebut “waiters” berkeliling menawarkan kupon KIM dan permainan lain kepada pengunjung. Kupon berbentuk kertas panjang itu terdiri dari lima kolom angka, masing-masing berisi lima baris. Harga kupon bervariasi mengikuti jenis permainan dan besaran hadiah. Untuk permainan sepuluh angka, satu kupon disebut dijual sekitar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu dengan hadiah yang diklaim bisa mencapai lebih dari Rp700 ribu. Sementara permainan lima angka disebut dijual Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per lembar dengan hadiah berkisar Rp400 ribu sampai Rp600 ribu.
Sejumlah pemain menyebut hadiah yang dipajang secara kasat mata berupa barang elektronik, seperti telepon genggam model lama. Namun, menurut pengakuan beberapa pemain, hadiah tersebut disebut hanya formalitas karena pada praktiknya dapat diuangkan. Mereka juga menyebut penukaran hadiah menjadi uang tunai dipotong sebesar 5 persen dari total hadiah.
Selain KIM, di arena itu juga disebut terdapat permainan tebak dua angka dan empat angka yang dinilai mirip praktik togel. Pemain memilih angka dari 1 hingga 90 dan menyerahkannya kepada petugas atau karyawan sebelum putaran dimulai. Taruhan minimal disebut mulai Rp5 ribu, sementara hadiah yang dijanjikan bervariasi dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah, tergantung jenis tebakan. Seorang pemain menjelaskan, tebakan dua angka biasanya diambil dari nomor terakhir pemenang KIM, sedangkan empat angka dari kombinasi angka terakhir yang keluar.
Untuk menarik minat pengunjung, panitia juga menyediakan undian angpau dengan nilai hadiah beragam, dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Dari pantauan di lokasi, terdapat pula permainan lain seperti rolet dan permainan tambahan lainnya.
Sejumlah pengunjung menilai masyarakat memahami KIM pada awalnya dikemas sebagai hiburan. Namun, mereka menilai praktik yang berjalan telah mengandung unsur taruhan dengan peluang keuntungan besar bagi pemenang. Permainan KIM di PCW juga disebut telah berlangsung selama bertahun-tahun. Meski kerap menjadi sorotan media dan ramai dibahas di media sosial, aktivitas itu disebut masih berjalan terbuka.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai langkah aparat penegak hukum. Sejumlah warga yang enggan disebut namanya mempertanyakan mengapa aktivitas yang dinilai identik dengan judi itu dapat berlangsung terang-terangan tanpa hambatan berarti.
Di tengah perbincangan publik, isu dugaan adanya setoran kepada oknum aparat turut beredar. Ada pula kabar bahwa proses penukaran hadiah disebut-sebut dikoordinasikan pihak tertentu. Namun, informasi itu masih sebatas dugaan dan disebut sedang didalami.
Sementara itu, gelanggang KIM di PCW dilaporkan tetap beroperasi seperti biasa. Musik terus dimainkan dan angka terus diumumkan, sementara pertanyaan mengenai pihak yang berada di balik operasionalnya serta alasan aktivitas tersebut tetap bertahan masih belum terjawab.