Seniman Haviez Ammar menggelar pameran tunggal perdananya bertajuk Awakened Body: Gorejat Raga di Clove Hotel Bandung pada 16 Januari hingga 8 Februari 2026. Seluruh karya yang ditampilkan berupa gambar dengan arsiran pensil di atas kanvas.
Kurator pameran, Wildan F. Akbar, menyebut “gorejat” sebagai getaran kesadaran yang lahir dari ujung pensil Ammar saat berada dalam kegelisahan untuk mencari makna di balik raga. Pernyataan itu disampaikan Wildan pada pembukaan pameran, Jumat, 16 Januari 2026.
Dalam diskursus seni rupa, tubuh kerap diposisikan sebagai objek maupun proporsi anatomi. Namun, melalui pameran ini, Ammar mengajak pengunjung menengok tubuh yang melampaui batas biologis. Wildan menilai visual karya Ammar tampil surealis dan bebas.
Di sejumlah kanvas, Ammar menggambar bagian tubuh seperti tangan hingga sosok tubuh utuh. Namun, ia menghilangkan atau menyamarkan bagian kepala dan wajah, termasuk pada figur yang digambarkan sebagai perempuan. Menurut Wildan, pendekatan tersebut turut mendekonstruksi ikonografi reog Ponorogo, dengan menghadirkan dadak merak dan singo barong bukan sebagai bentuk utuh, melainkan fragmen-fragmen yang menyatu ke dalam tubuh manusia.
Selain fragmen reog, salah satu gambar juga disertai untaian kaligrafi. Wildan menilai karya-karya itu sekaligus mempertanyakan batas antara naluri kehewanan dan kesadaran spiritual manusia.
Tema tersebut berkaitan dengan perjalanan hidup Ammar. Ia lahir di Jakarta, sempat bersekolah di Bekasi, lalu menjadi santri di Ponorogo, Jawa Timur. Kini ia bermukim dan meniti karier seniman di Bandung. Ammar menggambarkan perpindahan tempat tinggalnya sebagai pengalaman yang nomaden.
Sebelumnya, Ammar berkarya menggunakan cat. Sejak 2018, ia beralih memakai pensil untuk menggambar di atas kanvas. Baginya, drawing bukan semata teknik, melainkan ruang refleksi karena pensil memberikan keintiman dan ketelitian ketika digunakan. Ia menyebut karya-karya dalam pameran ini sebagai refleksi atas perjalanan hidup manusia, dengan pengalaman tinggal di Ponorogo turut memengaruhi gagasannya yang kemudian terkait dengan reog.
Setelah pameran di Bandung, Ammar berencana melanjutkan pamerannya ke Bali. Sebelumnya, ia beberapa kali mengikuti pameran bersama, antara lain Pameran Seni Rupa Islami Indonesia 2024 bertajuk “Bulan terbit” di Grey Art Gallery Bandung, serta pameran bersama komunitas seni santri di Hotel Aryaduta Bandung pada 2023. Di luar pameran, ia juga mengerjakan pesanan lukisan kaligrafi.

