BERITA TERKINI
ICRC dan Qureta Gelar Lomba Esai Kemanusiaan 2017 Bertema Konflik dan Krisis Kemanusiaan

ICRC dan Qureta Gelar Lomba Esai Kemanusiaan 2017 Bertema Konflik dan Krisis Kemanusiaan

Dinamika konflik di berbagai belahan dunia dinilai kian memperlihatkan dampak kemanusiaan yang luas, mulai dari jatuhnya korban jiwa dan kerugian harta benda hingga munculnya gelombang pengungsi di dalam maupun luar negeri. Dalam konteks itu, ICRC bersama Qureta menggelar Lomba Esai Kemanusiaan 2017 bertema “Konflik dan Krisis Kemanusiaan” untuk mengajak publik merefleksikan situasi tersebut.

Dalam pengantar lomba, situasi global digambarkan sebagai masa yang diwarnai gesekan dan ketegangan yang dapat berujung konflik di tingkat lokal, regional, maupun global. Sejumlah contoh yang disorot antara lain menguatnya populisme dengan propaganda berbasis sentimen primordial, serta ancaman terorisme yang dinilai bisa menyasar negara mana saja.

Di Eropa, ketegangan di Ukraina disebut masih berlangsung. Sementara di Timur Tengah, konflik di Suriah, Irak, dan Yaman digambarkan sebagai medan perang proxy yang melibatkan banyak pihak dan telah berlangsung selama enam tahun dengan korban harta dan nyawa yang besar.

Ketegangan di Timur Tengah juga disebut berpotensi menjalar ke kawasan lain, termasuk Asia Selatan dan Asia Tenggara. Di Asia Selatan, Afghanistan dan Bangladesh dinyatakan masih menghadapi berbagai ketegangan dan belum stabil. Di Asia Tenggara, konflik disebut masih terjadi di Myanmar, Filipina Selatan, dan Thailand Selatan. Perebutan Kota Marawi di Mindanao pada April oleh IS-Ranao turut disebut memperumit situasi.

Indonesia dinilai tidak lagi mengalami konflik komunal seperti pada awal era Reformasi 1998. Namun, pengantar lomba menekankan bahwa berbagai ketegangan di tingkat nasional maupun lokal masih mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara. Narasi-narasi konflik disebut masih menghantui dan menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan kehidupan masyarakat majemuk secara harmonis.

Berangkat dari gambaran tersebut, lomba ini mengajak peserta merenungkan faktor pemicu konflik, mekanisme yang dapat meredam krisis kemanusiaan, serta kecukupan hukum dan norma lokal maupun global dalam menghadapi konflik terkini. Peserta juga didorong mengulas tingkat kegawatan persoalan migrasi beserta problem baru yang menyertainya, serta langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah konflik dan membantu korban.

Topik yang ditawarkan meliputi: sebab-sebab pemicu dan peredam konflik; peran agama dalam konflik dan kemanusiaan; aspek hukum dan kemanusiaan dalam konflik; pengelolaan konflik dan masalah hak-hak asasi; konflik dan problem migrasi masa kini; konflik regional dan pengaruhnya terhadap situasi nasional; serta hukum adat dan konflik komunal.

Peserta diwajibkan mengisi formulir pendaftaran, memiliki akun di Qureta, dan mengirimkan tulisan melalui tautan yang disediakan. Di akhir tulisan, peserta diminta mencantumkan tagar #LombaEsaiKonflik. Panjang esai ditetapkan berkisar 800 hingga 1.500 kata. Peserta diperbolehkan mengirim lebih dari satu tulisan, namun juri hanya akan menilai karya terbaik yang dikirimkan.

Lomba dimulai pada 1 Agustus 2017 dan berakhir pada 15 September 2017. Nama finalis akan diumumkan di situs Qureta satu minggu setelah penutupan lomba. Seluruh finalis akan diundang menghadiri Malam Penghargaan Lomba Esai ICRC-Qureta pada 26 September 2017.

Kriteria penilaian mencakup kesesuaian dengan tema, orisinalitas atau tidak menjiplak, kualitas dan gaya bahasa, serta kreativitas dalam penyajian. Penyelenggara menegaskan keputusan juri bersifat final. Total hadiah lomba ini sebesar Rp 15.000.000.