Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri menilai transformasi digital dan transisi menuju ekonomi hijau kini menjadi faktor utama yang mengubah pola perdagangan serta investasi global. Menurutnya, penguatan kerja sama antarnegara diperlukan agar manfaat dari sumber pertumbuhan ekonomi baru dapat dirasakan lebih luas dan inklusif.
Pernyataan itu disampaikan Roro dalam pertemuan The 32nd Asia Pacific Economic Cooperation Ministers Responsible for Trade (APEC MRT) Meeting sesi kedua bertema “Foster New Engines of Innovative and Dynamic Trade and Investment Cooperation” di Suzhou, China, sebagaimana disampaikan dalam keterangan resmi pada Rabu (27/5/2026).
Roro juga menyoroti kondisi perekonomian global yang masih menghadapi tantangan, terutama pertumbuhan yang cenderung melambat dan tidak merata. Situasi tersebut, kata dia, dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari dinamika geopolitik, ancaman perubahan iklim, hingga fragmentasi rantai pasok dunia.
Dalam konteks itu, negara-negara anggota APEC dinilai perlu memperkuat kolaborasi untuk membangun kawasan yang lebih resilien, inklusif, dan siap menghadapi perubahan di masa depan.
Indonesia menempatkan sektor digital sebagai salah satu perhatian utama. Indonesia menilai perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), membuka peluang besar untuk meningkatkan efisiensi perdagangan lintas negara. Pemanfaatan teknologi dinilai dapat menekan biaya transaksi serta mempercepat proses bisnis dan perdagangan internasional.
Indonesia juga mencatat penguatan ekonomi digital nasional. Nilai Gross Merchandise Value (GMV) ekonomi digital Indonesia diperkirakan mendekati 100 miliar dollar Amerika Serikat pada 2025, yang disebut menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi domestik.
Selain itu, Indonesia disebut terus memperluas pemanfaatan AI dalam sektor perdagangan melalui pengembangan inisiatif TradeAI.