BERITA TERKINI
Indonesia Performance Camp 2025 Digelar di Padang, Fokus Perkuat Teknik Ketubuhan dan Jembatani Tradisi- Kontemporer

Indonesia Performance Camp 2025 Digelar di Padang, Fokus Perkuat Teknik Ketubuhan dan Jembatani Tradisi- Kontemporer

Indonesia Performance Syndicate (IPS) kembali menggelar Indonesia Performance Camp (IPC) 2025 pada 9–10 November 2025 di Pabreik Padang, Kota Padang, Sumatera Barat. Agenda tahunan ini menghadirkan seniman dan akademisi pertunjukan dari berbagai daerah serta tokoh internasional, dengan penekanan pada penguatan teknik ketubuhan dan pengembangan metode kreatif yang berakar pada tradisi lokal.

Pimpinan Indonesia Performance Syndicate Padang Panjang, Wendy HS, mengatakan IPC merupakan ruang belajar, berbagi, dan bereksperimen yang mereka gagas sejak 2019. Menurutnya, tujuan utama kegiatan ini adalah membangun pemahaman lebih dalam tentang tubuh sebagai medium utama dalam pertunjukan.

Wendy menjelaskan, IPC pertama kali lahir dari kolaborasi dengan Shinonome Butoh Tokyo, Jepang, di bawah arahan Yuko Kawamoto. Kolaborasi tersebut berfokus pada pengembangan teknik Butoh dan Total Body Performance Method (TBPM), yakni formulasi yang dikembangkan Wendy HS dari elemen ketubuhan dalam Tapuak Galemboang pada tradisi Randai Minangkabau.

Setelah sempat terhenti akibat pandemi Covid-19, IPC 2025 disebut hadir kembali sebagai respons atas tantangan dunia seni pertunjukan pascapandemi. Wendy menilai, dalam perkembangan seni pertunjukan kontemporer, terutama setelah Covid-19, terlihat kesenjangan besar dalam penguasaan teknis dan konseptual tubuh performer. Ia menekankan penguatan teknis dan pengolahan tubuh aktor sebagai hal penting, serta menyoroti minimnya transfer pengetahuan antargenerasi dan lemahnya ruang kolaborasi antara pelaku tradisional dan kontemporer.

Wendy juga menyinggung potensi seni tradisi di Sumatera Barat, seperti Randai, Saluang Dendang, Silek, dan Tari Piriang. Menurutnya, eksplorasi tubuh dalam pertunjukan kerap berhenti pada bentuk presentatif, bukan performatif, padahal tubuh merupakan pintu masuk untuk memahami hubungan antara warisan budaya dan seni kontemporer.

IPC 2025 dijadwalkan memuat tiga agenda utama. Pertama, workshop dramaturgi postdramatic bersama Kai Tuchmann (Jerman) pada 9–10 November 2025 pukul 09.00–15.00 WIB di Fabreik Padang, Jalan Prof. Dr. Hamka km 9 Tabing, Padang. Kedua, pertunjukan apresiasi setiap malam pukul 20.00 WIB yang menampilkan “Soliloque Perburuan” karya/sutradara Wendy HS produksi Indonesia Performance Syndicate pada 9 November, serta “Pintu” karya/sutradara Yusril produksi Komunitas Seni Hitam Putih Padangpanjang pada 10 November. Ketiga, forum diskusi seni pertunjukan pada 11 November 2025 pukul 20.00 WIB di Pustaka Steva, Padang, dengan pembicara Kai Tuchmann, Ibed S. Yuga, Wendy HS, Tatang R. Macan, dan Mahatma Muhammad, dimoderatori Thendra BP.

Selain rangkaian tersebut, kuliah umum bertajuk “Di Balik Layar Pertunjukan Postdramatic” akan digelar pada Selasa, 11 November 2025 pukul 10.00 WIB di ISI Padangpanjang, dengan Kai Tuchmann sebagai pembicara utama.

Kai Tuchmann disebut sebagai sutradara, dramaturg, dan akademisi asal Jerman yang dikenal melalui keterlibatannya di berbagai festival internasional, antara lain Zürcher Theaterspektakel di Swiss, Festival d’Automne à Paris di Prancis, dan Asia Society New York di Amerika Serikat. Ia dikenal menggabungkan pendekatan teater dokumenter dengan teknologi digital, serta mengeksplorasi isu sosial seperti kehidupan pasca-Revolusi Kebudayaan di Tiongkok dan urbanisasi.

Wendy menyebut, dalam kuliahnya, Kai akan membahas visi editorial dan strategi kreatif di balik pertunjukan teater pascadrama, termasuk perspektif lintas budaya antara Asia dan Eropa. Ia juga mengatakan buku karya Tuchmann bersama akademisi Li Yinan dari Akademi Drama Pusat Beijing akan menjadi salah satu referensi dalam diskusi, karena memuat kumpulan kuliah dari praktisi teater pascadrama dan memberi wawasan mengenai praktik dramaturgi global.

Melalui IPC 2025, Wendy berharap lahir generasi baru seniman pertunjukan yang tidak hanya kuat dalam ekspresi artistik, tetapi juga memiliki dasar metodologis dan kesadaran budaya yang kontekstual. Ia menyatakan kegiatan ini diarahkan untuk menjembatani tradisi dan kontemporer melalui tubuh sebagai medium utama, agar seni pertunjukan Indonesia dapat bertahan sekaligus berkembang secara reflektif dan relevan dengan zamannya.