Pengaruh Islam terhadap seni dan sastra Melayu menjadi bagian penting dalam dinamika sejarah kebudayaan Nusantara. Sejak proses islamisasi yang berlangsung mulai abad ke-13, perubahan tidak hanya terjadi pada sistem kepercayaan, tetapi juga membentuk karakter karya seni, sastra, hingga identitas budaya masyarakat Melayu.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa sejarah kebudayaan Melayu terus bergerak—berproses dan beradaptasi seiring masuknya arus sosial-budaya dari luar, termasuk melalui hubungan dagang dan pergaulan antarmasyarakat di kawasan maritim Asia Tenggara.
Kehadiran Islam di dunia Melayu kerap dikaitkan dengan jalur perdagangan dan transformasi sosial sejak abad pertengahan. Perubahan yang terjadi tidak semata peralihan agama, melainkan juga penyesuaian nilai dan praktik budaya lokal dalam kehidupan masyarakat.
Dalam buku Islam in the Indonesian World karya Azyumardi Azra disebutkan bahwa penyebaran Islam di Nusantara berlangsung bertahap melalui perdagangan, pernikahan, serta dakwah para ulama. Proses ini digambarkan berlangsung damai dan beradaptasi dengan tradisi setempat, sehingga nilai-nilai Islam relatif mudah diterima di lingkungan masyarakat Melayu.
Masuknya Islam kemudian memengaruhi corak seni dan sastra Melayu. Tema-tema karya menjadi lebih religius dan sarat pesan moral, sementara ragam hias dalam seni rupa turut menampilkan simbol-simbol yang merefleksikan nilai tauhid.
Dalam seni rupa, motif kaligrafi, ornamen geometris, serta pola arabesque mulai menonjol. Unsur tersebut tampil pada berbagai medium, seperti ukiran kayu, kain songket, hingga hiasan masjid, yang menandai hadirnya semangat keislaman dalam ekspresi artistik Melayu.
Pengaruh juga terlihat pada bahasa dan aksara. Tulisan Jawi—adaptasi huruf Arab—menjadi media utama dalam naskah-naskah Melayu klasik. Seiring itu, sejumlah istilah Arab masuk ke kosakata Melayu, memperkuat nuansa keislaman dalam karya sastra dan tradisi tulis.
Dalam ranah sastra, sejumlah karya dikenal memuat ajaran spiritual dan pesan moral Islam. Di antaranya Hikayat Nur Muhammad, Syair Perahu, serta Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji, yang disebut digunakan sebagai media dakwah sekaligus pendidikan moral.
Pengaruh Islam juga tampak pada seni rupa dan arsitektur. Masjid-masjid tua di Sumatra dan Semenanjung Malaya memperlihatkan ciri khas seperti kubah, menara, serta ornamen kaligrafi. Sementara itu, seni ukir dan anyaman disebut menghindari bentuk makhluk hidup, sejalan dengan ajaran Islam.
Secara lebih luas, islamisasi tidak hanya memperkaya bentuk ekspresi seni dan sastra, tetapi juga membentuk identitas kolektif masyarakat Melayu. Identitas ini tercermin dalam adat, bahasa, dan kehidupan sehari-hari, sekaligus memperkuat solidaritas serta etos gotong royong di tengah masyarakat.

