BERITA TERKINI
Jogja International Art Fair 2026 Digelar di JEC, Libatkan 224 Pelukis dan 835 Karya

Jogja International Art Fair 2026 Digelar di JEC, Libatkan 224 Pelukis dan 835 Karya

Jogja International Art Fair (JIAF) 2026 digelar di Gedung Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, pada 31 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026. Ajang ini berlangsung di tengah meningkatnya kunjungan wisatawan domestik ke Yogyakarta pada masa libur pergantian tahun.

Pameran yang diselenggarakan NR Artist Management tersebut melibatkan 224 pelukis dari dalam dan luar negeri. Total karya yang ditampilkan mencapai 835 karya, mencakup karya dua dimensi dan tiga dimensi.

Direktur NR Artist Management sekaligus penyelenggara, Maria Novita Riatno, menyatakan JIAF tidak hanya diposisikan sebagai pameran, tetapi sebagai upaya memperkuat ekosistem seni rupa nasional. Ia menegaskan penyelenggara ingin menjadikan JIAF sebagai ruang bersama bagi seniman, kolektor, dan publik, dengan kesempatan yang setara bagi seniman yang baru merintis maupun yang telah mapan untuk menampilkan karya.

JIAF mengadopsi model “Art Market Meets Exhibition” dan membagi kurasi ke dalam empat segmen: Artist-Direct untuk seniman independen, Emerging bagi bakat baru, Established untuk seniman dan galeri mapan, serta Iconic sebagai bentuk penghormatan kepada maestro seni rupa Indonesia. Menurut Novita, segmentasi tersebut ditujukan untuk menjaga keberagaman sekaligus kesinambungan, sehingga publik dapat melihat perjalanan artistik dari tahap awal hingga puncak pencapaian.

Bagi kolektor dan investor, JIAF disebut menawarkan peluang bisnis karena menampilkan lebih dari 2.000 portofolio seniman. Penyelenggara juga menyiapkan sesi networking dengan kolektor internasional dari sedikitnya lima negara, termasuk private viewing khusus kolektor serta katalog digital untuk memudahkan proses investasi.

Novita turut menyinggung pertumbuhan pasar seni Indonesia yang, menurutnya, dalam lima tahun terakhir berada pada kisaran 15–20 persen per tahun. Ia berharap penyelenggaraan JIAF dapat menjadi momentum untuk memperkuat tren tersebut, sekaligus menegaskan Yogyakarta sebagai lokasi yang dinilai tepat karena iklim seninya yang hidup.

Kurator seni Mike Susanto menilai JIAF hadir sebagai salah satu entitas penting dalam pembentukan peta industri seni rupa dunia. Ia menyebut, dengan semangat lokal yang kuat namun terbuka pada percakapan global, JIAF dapat berperan sebagai jembatan yang menghubungkan dinamika seni rupa Indonesia dengan pasar dan wacana internasional. Mike menambahkan, kekayaan seniman visual, budaya yang hidup, dan ekosistem seni yang dinamis di Yogyakarta membuat JIAF menjadi ruang temu antara kreativitas, kolektor, kurator, dan publik global yang ingin memahami seni rupa kontemporer Indonesia.

Kurator Nadiyah Tunikmah juga menekankan pentingnya ruang pertemuan lintas jenjang yang dihadirkan dalam JIAF. Ia menyebut program khusus bertajuk “Encounters: Cross Layers of Art” sebagai wadah yang mempertemukan seniman dari berbagai tahap karier untuk memperluas interaksi, memperkuat jejaring, dan membuka peluang kolaborasi lintas generasi.

Penyelenggaraan JIAF turut disebut mendapat dukungan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, serta sokongan dari galeri, ruang seni, komunitas, dan institusi seni formal maupun nonformal. Ajang ini diposisikan sebagai wadah kolaborasi lintas pihak untuk memajukan seni rupa Indonesia dan memperkuat posisinya di tingkat global.

Novita menyatakan optimisme bahwa JIAF akan meninggalkan warisan penting bagi ekosistem seni rupa Indonesia. Ia menegaskan penyelenggara ingin menghadirkan tonggak baru, sekaligus menunjukkan bahwa pasar seni Indonesia mampu bersaing secara global dengan tetap berpijak pada kekayaan lokal yang menjadi ciri khas Yogyakarta.