BERITA TERKINI
Jurnalisme Musik Indonesia di Era Algoritma: Antara Tulisan Panjang dan Konten Cepat

Jurnalisme Musik Indonesia di Era Algoritma: Antara Tulisan Panjang dan Konten Cepat

Pengalaman menghadiri LUC fest 2023 di Taiwan, sebuah festival sekaligus konferensi musik berskala Asia dan internasional, memunculkan satu kesan yang terus teringat: sejumlah delegasi dari negara lain terkejut ketika mengetahui Indonesia masih memiliki media musik lokal yang menjalankan praktik jurnalisme musik seperti esai, wawancara mendalam, dan ulasan album. Pertanyaan yang muncul saat itu terdengar sederhana, namun menohok: “Kalian punya waktu untuk menulis semua itu? Memang tulisan esai dan review album ada yang baca?”

Reaksi tersebut sempat dianggap sebagai pujian. Namun, seiring waktu, pertanyaan itu terasa seperti pengingat tentang perubahan yang sedang terjadi. Di satu sisi, ekosistem musik Indonesia dinilai cukup lengkap—mulai dari musisi, komunitas, promotor, festival, kolektor, hingga media—meski disebut masih jauh dari dukungan pemerintah. Di sisi lain, muncul kegelisahan: apakah musik masih “menghampiri” publik lewat media musik dan para jurnalis yang dianggap kredibel, ataukah jalurnya sudah bergeser?

Jika menengok situasi hari ini, jumlah situs musik lokal dengan jangkauan nasional disebut tidak banyak. Pophariini masih termasuk salah satunya. Bagi penulis yang mengaku sebagai alumninya, kondisi ini justru memunculkan perasaan paradoks: alih-alih bangga, ia merasakan semacam “alarm sunyi” yang menandai sesuatu sedang berubah.

Di tengah menyusutnya ruang media musik konvensional, bentuk-bentuk baru berkembang. Podcast dan para pembuat konten musik hadir, demikian pula media budaya pop dan gaya hidup yang menyediakan ruang pembahasan musik, seperti Whiteboardjournal dan Maple Media. Kesamaan dari kanal-kanal ini adalah kemampuan beradaptasi dengan cepatnya tren di era algoritma dan platform digital. Namun, adaptasi tersebut tidak serta-merta berarti situasi baik-baik saja.

Internet disebut sebagai berkah sekaligus petaka. Salah satu contoh yang diangkat adalah Vixtape, podcast musik populer yang digawangi Vincent Rompies, Soleh Solihun, dan Haris Franky. Dalam sisi “berkah”, Vixtape digambarkan menyerupai majalah musik dalam format video podcast: ada wawancara, ulasan, daftar album favorit atau terbaik, hingga rekomendasi, disampaikan lewat obrolan santai yang bisa ditonton atau didengarkan sambil beraktivitas.

Namun, pada sisi “petaka”, format semacam itu turut mengubah cara orang mengakses, mendistribusikan, dan melegitimasi konten musik. Kebiasaan membaca berpotensi tergeser oleh konten video obrolan, terutama ketika materi dipotong menjadi format pendek yang mudah dibagikan dan cepat dilupakan oleh algoritma. Konten video memang tidak otomatis mematikan kebiasaan membaca, tetapi kedalaman dan konteks utuh dinilai rentan tersisih.

Pergeseran ini memunculkan pertanyaan lanjutan: apakah jurnalisme musik konvensional mulai usang? Apakah figur publik, reputasi daring, dan jumlah pengikut kini lebih menentukan daripada jejak rekam dan dedikasi panjang?

Di saat yang sama, muncul realitas bahwa ringkasan musik bisa hadir dalam video singkat berdurasi puluhan detik. Meski demikian, penulis menilai keliru jika menganggap para pembuat konten sebagai “gatekeeper” utama. Dalam lanskap platform digital, algoritma disebut sebagai kekuatan yang paling menentukan apa yang muncul dan beredar.

Kombinasi algoritma dan figur publik juga disebut tampak dalam konteks lain, misalnya saat Indonesian Idol kembali ramai dibicarakan ketika Soleh Solihun didapuk sebagai salah satu juri. Perdebatan warganet lebih banyak berlangsung di kolom komentar, dan salah satu hal yang disorot adalah soal kelayakan. Penulis mengaitkannya dengan gagasan Tom Nichols dalam buku The Death of Expertise (2017), yang menyoroti bagaimana kemudahan akses internet melahirkan “pakar dadakan”, sementara kredibilitas sering diukur dari platform dan jumlah pengikut, bukan rekam jejak profesional.

Hal lain yang dianggap menarik adalah tujuan menghadirkan figur seperti Soleh: sisi hiburan dan viralitas dinilai lebih dominan ketimbang edukasi. Dalam mekanisme algoritma, potongan video pendek tanpa konteks utuh dapat membanjiri ruang digital, sementara proses panjang dan perjuangan peserta berisiko tereduksi menjadi hiburan singkat yang cepat berlalu.

Di tengah situasi tersebut, pertanyaan awal kembali mengemuka: bagaimana jurnalisme musik Indonesia bertahan di era algoritma dan platform digital? Apakah menulis masih menjadi syarat utama jurnalis musik, ataukah bentuk podcast video dan obrolan sudah cukup? Jawabannya dinilai tidak sesederhana ya atau tidak. Praktik jurnalisme musik disebut masih berjalan, tetapi tengah mencari bentuk yang paling optimal.

Menurut penulis, persoalan utamanya bukan terletak pada kekurangan penulis atau hadirnya podcast dan pembuat konten, melainkan pada desain sistem platform yang menitikberatkan algoritma dan viralitas. Akibatnya, publik mudah kehilangan fokus dan seolah kedalaman musik tidak lagi dibutuhkan.

Refleksi itu membawa penulis kembali pada pertanyaan para delegasi di LUC fest. Bisa jadi, keheranan mereka bukan pujian, melainkan tanda bahwa sejumlah negara telah lebih dulu mengalami kemunduran atau bahkan “kepunahan” jurnalisme musik. Indonesia, dalam analogi penulis, seperti dinosaurus di Jurassic Park: makhluk langka yang seharusnya sudah punah, namun masih berkeliaran.

Meski mengakui kemungkinan sikap tersebut tampak naif, penulis menyatakan tetap memilih membaca dan menulis musik, terutama pada momen Hari Musik Nasional. Alasannya, jurnalisme musik bukan hanya tanggung jawab penulis, melainkan juga pembaca. Tanpa tulisan mendalam, musik dikhawatirkan hanya menjadi “bunyi semu” di layar gawai: viral sesaat lalu hilang tanpa konteks dan sejarah.