Seorang kardinal di India memuji sebuah konser Prapaskah yang digelar di negara bagian Goa, India barat daya, sebagai pengalaman yang “sangat penuh doa dan reflektif.”
Kardinal Filipe Neri Ferrão, Uskup Agung Goa dan Daman, menyampaikan apresiasi tersebut dalam sambutannya kepada para hadirin. Ia mengatakan konser itu membawa penonton ke dalam kontemplasi dan pembaruan, serta menegaskan kekuatan musik sakral dalam mengangkat jiwa.
Konser Prapaskah bertajuk Meditasi Melalui Musik Sakral dipentaskan pada 23 Maret. Acara ini dipimpin Pastor Romeo Monteiro, Direktur Departemen Musik Barat di Akademi Kala, yang memimpin 60 penyanyi. Pertunjukan tersebut sebelumnya juga telah dipentaskan pada 19 Maret di Cavelossim, Goa.
Dalam pidato pembukaannya, Pastor Monteiro menyoroti nilai abadi musik sakral dalam Gereja dan menyebutnya sebagai harta yang mengangkat umat beriman. Mengutip ajaran Konsili Vatikan Kedua, ia menekankan pentingnya membuat musik sakral dapat diakses demi pertumbuhan spiritual.
Salah satu sorotan acara adalah dimasukkannya komposisi berbahasa Konkani yang mencerminkan warisan spiritual dan musikal wilayah tersebut. Konkani merupakan bahasa resmi Goa dan menjadi bahasa ibu sekitar 68 persen penduduknya. Berdasarkan sensus pemerintah India tahun 2011, lebih dari 960.000 orang di Goa tercatat berbicara dalam bahasa Konkani.
Sejumlah tokoh Gereja turut hadir, antara lain Uskup Auksilier Simião Fernandes dari Keuskupan Agung Goa dan Daman, Uskup Emeritus Alex Dias dari Keuskupan Port Blair, serta anggota umat beriman.
Program konser mencakup lagu-lagu liturgi klasik, seperti Sanctus dari Misa Para Malaikat, pilihan dari Misa Paus Marcellus karya Giovanni Pierluigi da Palestrina, serta Crucifixus karya Johann Sebastian Bach. Pertunjukan juga menampilkan “Thee, O God, we praise” (Te Deum) karya Wolfgang Amadeus Mozart, serta sebuah aransemen Doa Perdamaian yang dikaitkan dengan Santo Fransiskus Assisi.
Sejumlah penonton membagikan kesan pribadi mereka dan menyebut konser tersebut sebagai pengalaman yang memperkaya, yang menuntun pada refleksi dan doa yang lebih dalam.

