Perbincangan tentang besaran fee penulis di media online kerap muncul di media sosial, termasuk di Twitter. Namun, bagi sebagian penulis pemula, persoalan honorarium bukanlah prioritas utama. Ada kepuasan tersendiri ketika tulisan berhasil dimuat, bahkan lebih penting daripada bayaran yang diterima.
Seorang penulis pemula menceritakan pengalamannya mengikuti isu tersebut. Ia mengaku sudah merasa senang dan bangga hanya karena tulisannya tayang. Ia bahkan sempat membagikan tautan tulisannya ke grup WhatsApp keluarga dan merayakannya dengan mentraktir teman, meski biaya traktiran itu disebut lebih besar daripada honorarium yang didapat.
Di sisi lain, ia juga menghadapi kenyataan bahwa sebagian besar esai yang dikirimkannya justru beberapa kali ditolak media online. Penolakan itu tidak disertai alasan, sehingga ia hanya bisa menebak penyebabnya. Kemungkinan yang ia pikirkan antara lain gaya bahasa yang kaku, kesalahan tata bahasa, tema yang dianggap kurang relevan atau kurang menarik, atau faktor lain seperti dirinya bukan sosok terkenal yang berpotensi mendatangkan klik.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa semua alasan tersebut hanya perkiraan karena ia baru mengirim satu hingga dua tulisan. Ia tetap berupaya mencari cara agar tulisannya lebih sesuai dengan kebutuhan media.
Untuk meningkatkan peluang, ia mengaku rajin membaca artikel berita, berbagai esai opini, hingga perdebatan acak di internet sebagai sumber inspirasi. Ia juga memantau tulisan dari berbagai media online untuk memahami gaya dan topik yang biasanya dimuat masing-masing media. Menurutnya, gaya penulisan yang cocok di satu platform belum tentu diterima di media lain.
Proses menulis pun tidak selalu berjalan lancar. Ia menggambarkan kebiasaannya berpindah-pindah tempat menulis dari kafe ke kafe, memilih meja yang dianggap strategis, memesan beberapa gelas kopi, menyiapkan laptop atau ponsel, serta mendengarkan musik. Namun, setelah berjam-jam di depan layar, halaman dokumen tetap kosong. Yang muncul justru keluhan fisik seperti asam lambung naik dan pinggang nyeri.
Ketika berhasil menulis beberapa paragraf, ia sering merasa hasilnya buruk saat dibaca ulang. Rasa minder membuatnya menghapus sebagian paragraf, bahkan seluruh file. Salah satu penyebabnya adalah keraguan apakah tulisannya akan diterima redaktur. Ia membayangkan redaktur memiliki standar tinggi dan kemampuan menilai tulisan dengan cepat, sehingga esai yang dianggap kurang informatif, tidak kontekstual, tidak terstruktur, tidak logis, tidak sastrawi, atau tidak menghibur, berpeluang besar tersisih.
Selain takut ditolak redaksi, ia juga mengaku khawatir akan reaksi netizen jika tulisannya terbit. Menurutnya, di era ketika isu kecil bisa menjadi bahan perdebatan, membahas topik krusial dan kontroversial berisiko memicu perundungan. Ia juga menyinggung kekhawatiran lain: dilema antara menghadapi ejekan warganet atau risiko persoalan hukum.
Ia menyebut ada cara yang lebih mudah untuk mempublikasikan tulisan, yakni melalui blog. Dengan modal akun email dan kata sandi, siapa pun bisa membuat blog gratis dan menulis tanpa harus memikirkan kurasi redaktur. Pemilik blog juga memiliki kendali penuh untuk mengedit, menerbitkan, dan mengatur tampilan.
Namun, ia menilai blog memiliki keterbatasan, terutama dari sisi penghasilan. Menurutnya, blog tidak memberikan honorarium kecuali melalui iklan seperti AdSense, itu pun bergantung pada ada tidaknya pengunjung dan interaksi mereka dengan iklan.
Karena itulah, ia menganggap mengirim tulisan ke media online terasa lebih menantang. Penulis harus menunggu satu hingga dua minggu setelah pengiriman, memeriksa laman media berulang kali untuk melihat apakah tulisan sudah terbit, sambil membaca karya penulis lain yang dinilainya jauh lebih baik. Masa menunggu itu memunculkan perasaan campur aduk antara deg-degan dan pasrah.
Jika tulisannya diterima, ia merasa bersyukur. Jika ditolak, ia mengaku sedih dan melakukan refleksi diri, mempertanyakan kekurangan tulisannya. Meski disampaikan dengan nada bercanda, pengalaman ini menggambarkan tekanan psikologis yang kerap dialami penulis pemula: harapan untuk dimuat, kekhawatiran ditolak, dan rasa cemas terhadap respons publik.

