BERITA TERKINI
Kelas Lingkar Prestasi LIPRES Bahas Perbedaan Esai Ilmiah dan Karya Tulis Ilmiah

Kelas Lingkar Prestasi LIPRES Bahas Perbedaan Esai Ilmiah dan Karya Tulis Ilmiah

Divisi Riset dan Keilmuan Badan Semi Otonom Lingkar Prestasi (BSO LIPRES) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB UNAIR) menggelar kegiatan bulanan Kelas Lingkar Prestasi pada Minggu (1/6/2025). Kegiatan ini berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting dengan tema “Esai Ilmiah vs Karya Tulis Ilmiah: Konsep, Metode, dan Aplikasinya.”

Dalam kelas tersebut, Raselly Elfa Putri hadir sebagai narasumber. Ia merupakan awardee Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) 2023 ke Palacky University Olomouc, Republik Ceko, sekaligus alumni berprestasi FIB UNAIR.

Raselly memaparkan perbedaan mendasar antara esai ilmiah dan karya tulis ilmiah (KTI), mulai dari orientasi penulisan, struktur, hingga tujuan akademis. Menurutnya, esai ilmiah merupakan tulisan ilmiah populer yang mengulas isu atau fenomena secara argumentatif. “Esai ilmiah merupakan bentuk tulisan ilmiah populer yang membahas suatu isu atau fenomena secara argumentatif. Bertujuan menyampaikan opini atau sudut pandang penulis secara logis dengan dukungan referensi,” ujarnya.

Sementara itu, KTI dijelaskan sebagai tulisan sistematis yang disusun berdasarkan hasil penelitian atau kajian ilmiah, dengan struktur dan pendekatan metodologis yang lebih formal. Raselly menilai pemahaman atas perbedaan tersebut penting sebagai pijakan dalam memahami cara kerja dan tujuan penulisan akademik.

Selain membahas karakteristik keduanya, Raselly juga menguraikan struktur penulisan ilmiah yang dinilai ideal, baik untuk esai ilmiah maupun KTI, yang pada dasarnya mengikuti konsep piramida terbalik—dari umum ke khusus. Ia menyebut teknik ini membantu penulis menyampaikan informasi penting secara ringkas dan efektif sehingga tulisan lebih padat dan terarah.

Raselly menjelaskan, esai ilmiah umumnya tersusun atas tiga bagian utama, yakni pendahuluan, isi atau pembahasan, dan kesimpulan. Adapun KTI memiliki struktur yang lebih kompleks, meliputi pendahuluan, tinjauan pustaka, metode penelitian, pembahasan, hingga kesimpulan. Ia menekankan bahwa pemahaman struktur tidak hanya memengaruhi cara menulis, tetapi juga membentuk pola pikir yang lebih sistematis.

Pada akhir sesi, Raselly membagikan strategi pengembangan ide penelitian melalui teknik ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Ia menilai ide riset dapat muncul dari isu atau fenomena di sekitar, lalu dielaborasi dengan pendekatan tersebut. Raselly juga memberi contoh bahwa mahasiswa dapat mengadaptasi penelitian luar negeri dan mengolahnya menjadi topik lokal yang relevan, baik dalam bentuk esai ilmiah maupun KTI berbasis riset lapangan.

Kegiatan ini diikuti peserta dari berbagai latar belakang, terutama mahasiswa yang aktif dalam riset dan penulisan ilmiah. Diskusi berlangsung interaktif, mencerminkan tingginya minat peserta untuk memperdalam pemahaman tentang penulisan esai dan karya ilmiah.

Melalui penyelenggaraan kelas ini, Divisi Riset dan Keilmuan LIPRES berharap dapat mendorong tumbuhnya tradisi akademik yang kritis, relevan, dan berlandaskan kaidah metodologi ilmiah yang kuat di kalangan mahasiswa. Kegiatan ini juga disebut mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-4 tentang pendidikan berkualitas.