Kementerian Pariwisata RI menggalakkan Gerakan Sadar Wisata dan Sapta Pesona pada 2016 sebagai upaya mendorong partisipasi masyarakat dalam menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan pariwisata di suatu wilayah. Asisten Deputi Tata Kelola Destinasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Pariwisata RI, Widayanti Bandia, menyatakan konsep sadar wisata bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui dukungan seluruh komponen masyarakat.
Menurut Widayanti, Sapta Pesona merupakan penjabaran dari konsep Sadar Wisata yang menekankan peran masyarakat sebagai tuan rumah untuk membangun lingkungan dan suasana yang mendukung tumbuhnya industri pariwisata. Hal itu disampaikan dalam acara Gerakan Sadar Wisata dan Sapta Pesona sekaligus pengukuhan 13 Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di Kabupaten Bangli, yang dipusatkan di Dermaga Kedisan, Desa Kedisan, Kintamani, Jumat (15/4/2016).
Acara tersebut dihadiri Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Bupati Bangli yang diwakili Sekda Bangli Ida Bagus Gede Giri Putra, jajaran kepala SKPD Bangli, Muspika Kecamatan Kintamani, Koordinator Museum Geopark Batur, Kepala Desa Kedisan, Kepala Desa Buahan, serta perwakilan 13 Pokdarwis di Bangli.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bangli, I Wayan Adnyana, menyampaikan kegiatan ini ditujukan untuk menggemakan kebiasaan yang mencerminkan Sapta Pesona di kalangan kelompok sadar wisata. Ia menyebut gerakan tersebut sebagai salah satu implementasi konsep Tri Hita Karana, terutama dalam menjaga hubungan dengan lingkungan sekitar dan membudayakan pola hidup bersih dan sehat.
Dalam sambutan Bupati Bangli yang dibacakan Sekda Ida Bagus Gede Giri Putra, disampaikan bahwa kerja sama Kementerian Pariwisata RI dengan Pemerintah Kabupaten Bangli telah berjalan lama dan kegiatan serupa kerap dilakukan hampir setiap tahun dengan topik yang dinilai bermanfaat bagi peningkatan pariwisata daerah. Pemerintah daerah berharap kegiatan dapat berlanjut pada tahun-tahun berikutnya agar kualitas destinasi meningkat dan unsur Sapta Pesona makin diamalkan di setiap objek wisata.
Ia juga menegaskan, penerapan unsur Sadar Wisata dan Sapta Pesona di masyarakat dan objek wisata didukung oleh Pokdarwis. Di Bangli terdapat 13 Pokdarwis yang tersebar di berbagai objek wisata. Seluruh perwakilan dilibatkan dalam kegiatan ini agar dapat mengimplementasikan materi di masing-masing destinasi sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam peningkatan kualitas pariwisata Bangli.
Widayanti memaparkan tujuh unsur Sapta Pesona, yakni aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan. Unsur aman, menurutnya, menuntut destinasi mampu memberikan rasa tenang serta bebas dari rasa takut dan kecemasan bagi wisatawan, antara lain dengan tidak mengganggu kenyamanan wisatawan, membantu dan melindungi wisatawan, memelihara keamanan lingkungan, memberikan informasi, menjaga lingkungan bebas dari bahaya penyakit menular, serta meminimalkan risiko kecelakaan dalam penggunaan fasilitas publik.
Unsur tertib, lanjut Widayanti, mencerminkan disiplin dan kualitas layanan yang konsisten, teratur, serta efisien sehingga memberi rasa nyaman dan kepastian bagi wisatawan. Sementara unsur bersih menekankan kondisi yang sehat dan higienis, termasuk membudayakan tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan lingkungan objek wisata, mengurangi polusi udara, menyiapkan makanan dan minuman yang higienis, memastikan perlengkapan penyajian bersih, serta menjaga kerapian penampilan petugas.
Untuk unsur sejuk, ia menyebut destinasi perlu menghadirkan rasa nyaman, antara lain melalui penghijauan dengan menanam dan memelihara pohon serta menjaga kondisi sejuk di berbagai area tujuan wisata. Unsur indah, menurutnya, berkaitan dengan tatanan yang menarik dan memberi kesan mendalam sehingga mendorong kunjungan ulang dan promosi yang lebih luas, misalnya dengan menjaga objek wisata tetap estetik, alami, dan harmonis, menata lingkungan secara teratur, serta menjaga keindahan vegetasi dan tanaman hias.
Widayanti menambahkan, unsur ramah perlu tampak dalam sikap masyarakat yang akrab dan terbuka sebagai tuan rumah, termasuk membantu wisatawan, memberi informasi tentang adat istiadat secara sopan, menunjukkan sikap menghargai dan toleransi, serta memberikan senyum yang tulus.
Adapun unsur kenangan, menurutnya, merupakan pengalaman berkesan yang membuat wisatawan membawa pulang ingatan indah dari destinasi. Hal itu dapat diwujudkan dengan menggali keunikan budaya lokal, menyajikan makanan dan minuman khas yang bersih dan sehat, serta menyediakan cinderamata yang menarik, unik, khas, dan mudah dibawa. Widayanti menekankan pentingnya pemahaman unsur tersebut bagi masyarakat yang bergelut di bidang pariwisata.
Di akhir kegiatan, Kementerian Pariwisata menyerahkan secara simbolis alat kebersihan dan tong sampah yang diterima pengelola Desa Wisata Penglipuran, I Nengah Moneng, disaksikan Sekda Bangli serta Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bangli.

