Senat Amerika Serikat mengonfirmasi Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed) untuk masa jabatan empat tahun melalui pemungutan suara yang sebagian besar mengikuti garis partai. Pelantikan resminya dijadwalkan berlangsung dalam beberapa hari ke depan.
Kembalinya Warsh ke bank sentral AS terjadi sekitar 15 tahun setelah ia meninggalkan The Fed karena menentang program pembelian obligasi berskala besar, kebijakan yang kemudian berkontribusi pada membengkaknya neraca bank sentral hingga sekitar USD6,7 triliun. Kini, ia datang dengan agenda reformasi luas, meski sejumlah pihak menilai perubahan itu tidak mudah diwujudkan dalam waktu singkat.
Kritik Warsh terhadap The Fed mencakup beragam aspek, mulai dari cara memantau inflasi, kesediaan bank sentral menyelamatkan pasar, hingga strategi komunikasi kepada pasar keuangan dan publik. Reformasi yang ia dorong tidak hanya bersifat teknis pada analisis ekonomi, tetapi juga menyentuh area sensitif terkait komunikasi kebijakan—bagian yang sebelumnya telah kerap diperdebatkan dan dinilai sulit diubah dengan cepat.
Peralihan kepemimpinan ini terjadi setelah hubungan Presiden AS Donald Trump dan Ketua The Fed sebelumnya, Jerome Powell, beberapa kali memanas. Trump semula menuntut penurunan suku bunga, lalu memperluas tekanannya melalui upaya memecat Gubernur The Fed Lisa Cook serta mendorong penyelidikan pidana oleh Departemen Kehakiman terhadap Powell. Langkah-langkah tersebut oleh banyak pihak dipandang sebagai serangan terhadap independensi bank sentral. Kasus Cook masih bergulir di Mahkamah Agung AS, sementara penyelidikan terhadap Powell telah ditutup.
Masa jabatan delapan tahun Powell sebagai ketua berakhir pada Jumat, namun ia memutuskan tetap berada di Dewan Gubernur The Fed hingga proses penyelidikan benar-benar selesai. Keputusan itu, menurut laporan, sebagian dimaksudkan untuk melindungi institusi dari potensi serangan hukum lanjutan.
Tantangan awal: tekanan penurunan suku bunga
Tantangan langsung Warsh adalah menghadapi ketegangan antara tuntutan Trump untuk memangkas suku bunga dan kondisi ekonomi yang belum mendukung langkah tersebut. Tingkat pengangguran AS masih relatif rendah di 4,3%, sementara inflasi masih berada di atas target 2% dan cenderung meningkat.
Dalam rapat kebijakan pertamanya pada Juni, keberhasilan Warsh bisa jadi terbatas pada upaya menahan koleganya di Federal Open Market Committee (FOMC) agar tidak mendorong kenaikan suku bunga. Pada rapat akhir April, tiga pejabat The Fed telah menyuarakan perlunya bahasa kebijakan yang mengarah pada potensi kenaikan suku bunga, dan tren ini disebut dapat menguat seiring meluasnya tekanan inflasi.
Dinamika politik juga menjadi sorotan. Ketika Powell ditunjuk Trump pada 2018, butuh sekitar enam bulan sebelum presiden mulai mengkritiknya secara terbuka. Kini, investor bahkan tidak memperkirakan penurunan suku bunga sebelum 2028.
Alasan Warsh: produktivitas AI, neraca, dan ukuran inflasi
Dalam pidato dan wawancara, Warsh mengemukakan beberapa alasan mengapa suku bunga masih berpeluang turun. Ia menilai peningkatan produktivitas dari kecerdasan buatan (AI) dapat menekan harga. Ia juga menyebut pengurangan kepemilikan obligasi jangka panjang oleh The Fed dapat menjadi alasan bagi penurunan suku bunga jangka pendek. Selain itu, ia merujuk metode pengukuran inflasi alternatif yang menunjukkan kenaikan harga lebih lambat.
Sejumlah mantan staf dan pejabat The Fed memperkirakan langkah awal Warsh adalah melakukan evaluasi internal, dilanjutkan perdebatan di FOMC, sebelum kemungkinan muncul perubahan kebijakan—misalnya terkait aturan cadangan bank atau penggunaan indikator inflasi alternatif.
Reformasi komunikasi: masa depan SEP dan “dot plot”
Warsh juga ingin mengubah beberapa alat komunikasi utama The Fed, termasuk Summary of Economic Projections (SEP) yang memuat “dot plot” proyeksi suku bunga. Meski terdapat ketidakpuasan terhadap SEP, alat ini bersama konferensi pers pasca-rapat masih dipandang penting untuk membentuk ekspektasi publik.
Dalam survei Brookings Institution, hampir semua responden menilai konferensi pers pasca-rapat sangat berguna, dan lebih dari separuh menyatakan hal yang sama terhadap SEP serta dot plot. Mantan Presiden The Fed St. Louis James Bullard bahkan menyebut konferensi pers sebagai “standar internasional” yang sulit diubah.
Perdebatan menguat
Seiring mengemukanya agenda reformasi, sejumlah gagasan Warsh juga mulai menuai kontra-argumen. Misalnya, ide bahwa pengurangan neraca dapat membuka ruang bagi penurunan suku bunga masih diragukan.
Pandangan mengenai dampak AI terhadap inflasi pun diperdebatkan, terutama terkait waktu dan risikonya. Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee mengemukakan skenario bahwa ekspektasi terhadap AI justru bisa mendorong konsumsi lebih cepat, meningkatkan inflasi, dan pada akhirnya memaksa The Fed menaikkan suku bunga.
Dengan berbagai tekanan tersebut, Warsh memasuki masa awal kepemimpinannya di tengah persimpangan antara tuntutan politik, kondisi inflasi yang belum jinak, serta rencana reformasi internal dan komunikasi yang berpotensi memicu perdebatan panjang di dalam bank sentral.