Sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan beberapa pria mengenakan setelan jas hitam sambil membawa Bendera Aceh di sebuah gedung dengan latar logo Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sejumlah akun menyertai unggahan itu dengan narasi bahwa Nasir Usman dan beberapa tokoh Aceh berhasil meyakinkan PBB untuk menyidangkan persoalan Aceh di level internasional, termasuk memasukkan agenda “solusi” menuju Aceh merdeka.
Namun, hasil pemeriksaan menunjukkan klaim tersebut tidak benar. Tempo memverifikasi video itu melalui kerja sama dengan Deepfakes Analysis Unit (DAU) dari Trusted Information Alliance India serta membandingkannya dengan sumber kredibel. Dari verifikasi itu, video dinyatakan dibuat menggunakan akal imitasi (AI), meski aspirasi “Free Aceh” memang pernah muncul dalam forum PBB pada 2025.
DAU menemukan sejumlah kejanggalan visual dalam video, salah satunya dagu seorang pria botak yang memegang bendera terlihat kabur atau menghilang saat berbicara. Menurut DAU, anomali semacam ini kerap muncul pada konten yang dibuat atau dimanipulasi dengan teknologi akal imitasi.
Temuan tersebut kemudian diperkuat oleh sejumlah alat pendeteksi. DAU menyebut analisis menggunakan alat AI or Not menyatakan kemungkinan 86 persen video dibuat dengan akal imitasi, dengan kemungkinan 62 persen video diolah menggunakan model AI Stable Diffusion. Alat lain, Sightengine, mendeteksi kemungkinan 99 persen video dibuat melalui akal imitasi. Sementara My Detector mendeteksi penggunaan AI sebesar 99,98 persen.
Adapun terkait isu “Free Aceh” di forum PBB, terdapat peristiwa terpisah pada 2025. Empat warga negara Indonesia pernah membentangkan tulisan “Free Aceh”, “Free Maluku”, dan “Free Papua” di forum PBB di New York, Amerika Serikat, menjelang pembukaan rangkaian United Nations Permanent Forum on Indigenous Issues (UNPFII) pada 24 April 2025. UNPFII merupakan forum resmi di bawah naungan PBB yang membahas pemberdayaan masyarakat adat antarnegara anggota.
Dalam peristiwa itu, tiga orang disebut mengenakan pakaian adat dan batik, sementara satu orang lainnya memakai pakaian formal berwarna hitam dan sempat berbicara di forum tersebut. Pria itu menyampaikan sejumlah masalah yang terjadi di Papua, Aceh, dan Maluku yang dilakukan oleh pemerintah. Aksi tersebut kemudian dihentikan setelah mereka dilaporkan oleh Asisten Penasihat Militer (Aspenmil) Perwakilan Tetap Indonesia untuk Amerika Serikat yang saat itu dijabat Paulus Panjaitan.
Tempo juga membandingkan video yang beredar dengan foto aksi “Free Aceh, Free Maluku, dan Free Papua” di forum UNPFII yang dipublikasikan Tribun News. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri saat itu, Rolliansyah Soemirat, menyatakan aksi tersebut menyalahgunakan forum dan para pelakunya telah ditindak oleh PBB.
Berdasarkan rangkaian verifikasi tersebut, Tempo menyimpulkan narasi yang menyebut tokoh-tokoh Aceh berhasil membawa agenda kemerdekaan Aceh untuk disidangkan di PBB melalui video yang beredar adalah keliru.

